Gelombang Disruptif

In Sosial Budaya

Gelombang Disruptif

Dalam sebuah jamuan makan siang, kolega saya sesekali bergunam. “Gak habis pikir, saya. Kok Ahok dengan segudang kelebihannya bisa kalah di pilkada, tempo hari? Kalo pada putaran pertama, dia (Ahok) ada diurutan runner up, tentu wajar diputaran kedua dia kalah.” Saya cuma tersenyum pahit menanggapi keluh kesahnya. Kolega saya ini Ahokers garis keras. Jadi wajar, sampe sekarang pun dia gak bisa move on

Saya pernah mengulas tentang kekalahan sang petahana pada putaran kedua, di blog saya ini. Aneh memang. Tapi itu realita-nya. Cuma yang masih jadi pertanyaan besarnya, salah dimana sehingga sang petahana bisa terjungkal dengan 2 digit kekalahan?

Sebelum menilik who’s got to blame, saya mau kita mempelajari teori yang sekarang banyak menjadi pergunjingan para ahli manajemen. Yah… Teori disruptif, yang digagas oleh Prof. Clayton M. Christensen dari Harvard Business School, pada tahun 1995. Cukup lawas teorinya. Namun kenapa sekarang baru booming? Karena ibarat gelombang, Indonesia merupakan negara yang relatif lambat dalam mengalami dampak teori ini, karena teknologi informasinya tidak sedahsyat di luar sana.  Dalam ulasannya, dia membahas, bahwa petahana (incumbent) akan bisa dikalahkan oleh pendatang baru dalam waktu yang relatif singkat. Dia menggambarkan, bahwa dalam pasar, terdapat 2 kekuatan utama, yaitu: sustaining innovation (alias juara bertahan) dan yang kedua adalah disruptive innovation (alias sang penantang). Sang petahana, memiliki segala-segalanya, dari mulai SDM sampe modal. Kalo mau menantang sang petahana secara langsung, Prof.Clayton mengatakan bahwa kemungkinan sang penantang bisa menang hanya sekitar 6%-an. Ini dapat dimungkinkan karena petahana akan dengan mudah membunuh sang penantang baik dengan perang harga maupun menjual produk/jasa yang lebih baik dari si penantang.

Timbul pertanyaan: bagaimana menyiasatinya? Harus ada yang namanya “model perang” yang diluar kewajaran untuk bisa menggerus kedudukan sang petahana. Caranya? Cari segmen pasar yang selama ini tidak digarap oleh sang petahana secara serius, mungkin karena dipandang kurang prospektus.. Kemudian tawarkan produk yang memiliki 3 ciri utama: simple (sederhana), accessible (dapat diakses dengan mudah), dan affordable (biayanya terjangkau). Ini yang namanya low-end. dan wajib dilakukan karena sang petahana berinovasi lebih cepat dari kebutuhan pelanggan, sehingga implikasinya, barang yang dijual harganya mahal dan pemakaiannya sangat sophisticated alias kecanggihan sehingga rumit untuk mengoperasikannya. Tanpa sadar sang petahana telah membuka celah untuk disruptive innovation untuk masuk ke akar rumput yang selama ini diabaikan walaupun secara kuantitas mereka banyak.

Dengan model perang gerilya tersebut, maka nama-nama besar seperti Nokia sampe Hyatt, dipaksa tekuk lutut. Tercatat Nokia merugi dan merumahkan karyawannya dan ujung-ujungnya diakuisisi oleh Microsoft, karena awalnya merendahkan debutan Apple & Samsung lewat teknologi androidnya. “Mang siapa sih yang butuh OS android?” Hyatt-pun yang sudah berkecimpung didunia perhotelan puluhan tahun, terpaksa harus gedebak-gedebuk melawan anak ingusan Airbnb yang baru beroperasi 6 tahunan. Bahkan tragisnya, Airbnb tidak memiliki property sama sekali untuk memulai operasi bisnis mereka.

Dari kedua kasus tersebut, kita hanya bisa menarik 1 simpulan: terlambat mengantisipasi. Sangat mahal harga yang harus dibayar.

Saya tidak hendak mengulas dari sisi manajemen teori disruptive innovation tersebut. Yang mau saya ulas adalah, kekalahan sang petahana (Ahok) dari sang penantang (Anies-Sandi), tak luput dari teori disruptif tersebut. Sejak awal, konsultan Anies Sandi (kang Eep), sudah paham kontestasi yang terjadi. Kalo mau adu program, pasti mereka babak belur. Karenanya mereka sejauh mungkin menghindari debat di televisi swasta, kalo tidak bersifat urgent. Alasannya? Apa untungnya buat mereka, karena apalah arti sang penantang dibandingkan sang petahana. Namun, saya melihat, inilah yang membuat sang petahana dengan tim suksesnya, terlalu cepat berbangga diri. Over confidence terhadap hasil survey-survey dan juga debat berjilid yang ditayangkan oleh beberapa televisi swasta. Seolah kalo sudah sukses di program-program dan sosialisasi, maka kemenangan sudah otomatis ada di depan mata. Dilain sisi, sadar akan segala kekurangannya, sang penantang mulai melalukan langkah disruptif. Kang Eep sangat sadar kalo sekelas warga Jakarta-pun, ternyata masih merupakan pemilih yang emosional. Mereka bersikap lebih subyektif dalam memilih, kalo pendekatan gerilya berhasil dijalankan. Apa yang selama ini dianggap menjadi kelompok marjinal, mereka dekati dengan strategi gerilya. Bahkan lewat dakwah dari mesjid ke mesjid mereka lakukan, lewat mesin PKS dan HTI. Strategi yang diluar kewajaran, namun sangat efektif dalam menggerus suara sang petahana. Dan terlebih lagi, bahasa kampanye mereka-pun sangat komprehensif dikalangan akar rumput: jangan pilih pemimpin kafir. Sangat efektif, mengingat dari 10 juta warga DKI, mayoritas (lebih dari 80%) adalah penduduk yang beragama Islam. Brutal memang. But it works… dan diakhir episode, Anies-Sandi pun melonjak kegirangan: “Berhasil…berhasil…”

Menurut analisis saya, strategi disruptif yang memanfaatkan akar rumput, dengan menggunakan pendekatan primordial, akan terus dilakukan. Jangan heran, negeri paman Sam saja memakai cara-cara disruptif dalam pemilu mereka, yang dengan suskesnya mengantar Trump ke kursi kepresidenan. Padahal kalo dipikir, apa program yang dipunyai Trump dibandingkan Hillary Clinton? Namun, jualan Trump dan timsesnya semasa kampanye sangat efektif. Slogan: Pilihlah Trump yang akan membuat Amerika “Putih” kembali, memang sangat rasis, tapi cukup signifikan dalam meraih kemenangan. Belom lama, setelah dilantik, apa yang dikatakan Gubernur Anies, kurang lebih juga sama: “Saatnya pribumi memimpin di negeri sendiri.” Watdehel….

Sebagai penutup, langkah disruptif harus dilawan dengan langkah disruptif juga. Kalo ingin memenangkan pilpres 2019, hanya berpatokan pada hasil survey atau hasil debat terbuka capres di televisi swasta, menurut saya, itu cara yang sudah usang. Simpel-nya: penduduk Indonesia mayoritas masih primordial dan tidak terlalu peduli terhadap hasil debat terbuka. Gak percaya, tanya tukang tahu bulat: apa hasil debat capres? Pasti jawaban mereka, “Apa untungnya hasil debat tersebut buat saya. Yang saya peduli mah jualan saya laris dan saya bisa dapet uang buat belanja anak-istri di rumah.”

Ahh, … kenapa sih cebongers pada gagal move on?

“Gimana bisa move on bang, liat kelakuan gabener dan wagabener yang baru?

Masa belom-belom udah nyuruh baswei ngambil jalur sendiri yang bebas macet? Bukan bebas macet yang didapet, yah malah jalanan tambah macet kelesss…”

Ckckck…

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah mantan Aktivis 98 GEMA IPB)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

You may also read!

Kabut Hitam di Sri Lanka

Hari Minggu itu (21/4) suasana hiruk pikuk sangat terasa di Kolombo, Batticoloa dan terutama di Negombo yang terkenal sebagai

Read More...

Selanjutnya Apa?

“Bang, selamat ya,” begitu pujian yang kudapat karena dianggap telah berhasil menganalisis, setidaknya siapa pemenang kontestasi pilpres 2019 berikut

Read More...

Perang Senyap Pasukan 81 (*Bagian 2)

Bagaimana Jokowi bisa bertemu dengan Luhut? Saat Jokowi masih menjabat walikota Solo. Saat itu keduanya sepakat untuk membuat perusahaan

Read More...

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu