Welkam The Millennials

In Sosial Budaya

Welkam The Millennials…

Apa yang dipertontonkan pakde Jokowi pada hari-hari belakangan ini ke khalayak publik, adalah cukup unik. Gimana nggak? Dia melakukan langkah-langkah break through yang dianggap sedikit nyeleneh. Adalah Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) yang dia gagas. Yang lain, dia menggarap juga apa yang namanya V-log alias Video Blogging. Kalo ditelisik, apa tujuannya? Agak konyol sih… Jika kita mau cermat, pakde coba menyapa generasi potensial yang lahir di abad dimana teknologi menjadi panglimanya. Iya bener, generasi Y alias the millennials.

Pertanyaannya, kenapa harus repot-repot sih ngegarap generasi millennials? Sebelum saya coba bawakan analisa saya, saya coba petakan dulu siapa itu generasi Y alias the millennials tersebut.

Menurut definisi, generasi millennial adalah julukan sosial yang diberikan kepada mereka yang terlahir dari tahun 1985 – 2000an. Bahkan ada yang mendefinisikan mereka yang terlahir sampai tahun 2004. Apa ciri-ciri mereka? Hidup mereka sangat integratif alias terkoneksi dengan dunia maya alias internet. Mereka kurang menyukai informasi yang bersifat 1 arah. Dengan kata lain, mereka menyukai user generated content atau konten dan informasi yang dibuat perorangan. Makanya, gak heran kalo media konvensional seperti televisi sangat dihindari oleh mereka ketimbang aktivitas bermedsos. Gak percaya? Coba suruh mereka pilih nonton TV atau main internet, dehh? Tambahan lagi, mereka lebih percaya pada pengalaman atau review dari teman sebayanya (peer group). Tak jarang dalam membeli suatu produk, mereka bakalan liat testimoni dari para pembeli sebelumnya. Dalam bekerja, mereka mengedepankan sisi happy-happy’nya, alias gak mau stress. “Ngapain harus stress?” adalah filosofi kaum millennials. Untuk mendukung filosofi tersebut, karenanya mereka gemar traveling dan penggila gadget sebagai alat untuk mengekspresikan diri mereka melalui media jejaring sosial yang mereka praktis kudu miliki. Tanya ke mereka, berapa banyak akun medsos yang mereka miliki? Jawabannya pasti banyak. Mau bukti?Dan ciri khas mereka adalah unggah status alias updating. Coba tengok aksi-aksi mereka pada jejaring sosial semisal Instagram. Jika anda melihat akun yang sedikit-sedikit langsung apdeting, ahaa… iya betul binggo, itulah mereka, the millennials.

Apa sih yang merupakan potensi the millennials sampe-sampe pakde mencoba menarik simpati mereka? Paling tidak menurut para ahli manajemen adalah tindakan disruptif yang mereka punya. Apa itu tindakan disruptif? Tindakan mengganggu yang ditujukan kepada para petahana alias incumbent yang bersifat konvensional. Generasi ini mulai diperhitungkan eksistensinya terutama dalam dunia bisnis. Tercatat, raksasa bisnis dari Nokia hingga retail Toys R Us, dipaksa gulung tikar oleh aksi-aksi the millennials. Bahkan belakangan, bisnis transportasi konvensional pun hingga bisnis perbankan, tak luput dirudung kolaps oleh ulah the millennials. Mereka menyajikan produk inovatif yang disebut disruptive innovation. Pasti kita tau yang namanya bisnis start-up, kan? Nah, lewat entry point tersebutlah, mereka beraksi dan menghajar raksasa-raksasa ekonomi hingga keok dalam hitungan menit. Sangat singkat….Gila, kan?

Menurut riset yang diadakan oleh Social Lab, pada tahun 2025, the millennials akan menduduki posisi tenaga kerja di seluruh dunia sebanyak 75 persen. Ckckck… Bukan angka yang kecil, tentunya. Bahkan sekarang ini, perusahaan yang menganggap mereka sebagai aset perusahaan, dapat menikmati marjin keuntungan dikarenakan mempekerjakan the millennials, walaupun terkadang tuntutan yang the millennials ajukan tidak realistik. Masa baru bentaran kerja udah nanya ke Boss, “Bisa nggak saya kerja cuma 3 hari aja seminggu, dan bonus yang saya dapet bisa buat traveling ke luar negeri?” Watdepak…

Nah yang saya mau katakan sebagai analisa saya, the millennials adalah aset. Kalo negara dianggap sebagai sebuah perusahaan besar, maka adalah keuntungan tersendiri yang akan didapat oleh negara tersebut, jika dapat mengoptimalkan generasi Y ini. Dan pakde Jokowi melihat potensi ini. Ke depan, tongkat kepemimpinan sudah mulai dipersiapkan untuk mereka. Maka tak heran, jika pakde bersusah-susah menyapa the millennials lewat dunia maya dalam gaya yang dikit-dikit nge-Vlog, tempat dimana mereka bercokol. Bukan itu saja, konser-konser yang melibatkan the millennials juga tak luput dari perhatian pakde. Mereka butuh sarana mengekspresikan diri. Karenanya, adalah salah jika kita malah membatasi ruang gerak generasi yang satu ini. Mereka adalah aset bangsa ini. Dan yang nggak kalah penting dalam rangka road show pada kontestasi 2019, the millennials adalah suara yang aduhay nan seksi untuk diperebutkan. Timbul pertanyaan: gimana mau menarik simpati the millennials, kalo kita nggak tau cara pikir dan ajang berekspresi diri mereka?

Ahh, cukup cerdas juga ternyata presiden kita ini. Disaat yang lain malah nyinyir terhadap langkah-langkah menggarap the millennials, dia cuek aja ibarat peribahasa: “Anjing menggonggong, biarlah si Bibib yang  berlalu.” Salut untuk langkah smooth’nya pakde!!

Betewe, ini tol kok jadi gak sering antri panjang lagi, ya??

Pasti ini karena kebijakan cashless yang diusung oleh the millennials untuk diterapkan di era jokowi…. Damn!! Kok bisa kepikiran ya??

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah mantan Aktivis 98 GEMA IPB)

 

 

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

You may also read!

Kabut Hitam di Sri Lanka

Hari Minggu itu (21/4) suasana hiruk pikuk sangat terasa di Kolombo, Batticoloa dan terutama di Negombo yang terkenal sebagai

Read More...

Selanjutnya Apa?

“Bang, selamat ya,” begitu pujian yang kudapat karena dianggap telah berhasil menganalisis, setidaknya siapa pemenang kontestasi pilpres 2019 berikut

Read More...

Perang Senyap Pasukan 81 (*Bagian 2)

Bagaimana Jokowi bisa bertemu dengan Luhut? Saat Jokowi masih menjabat walikota Solo. Saat itu keduanya sepakat untuk membuat perusahaan

Read More...

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu