Suara Sang Maestro di Tengah Kegalauan

In Sosial Budaya

Suara Sang Maestro di Tengah Kegalauan

Aksi walk out Ananda Sukarlan dari kursi VIP-nya, yang kemudian diikuti oleh beberapa alumni Kolese Kanisius saat sang Gabener Anies Baswedan memberikan pidato pada acara penganugerahan dalam rangka memperingati ulang tahun ke-90 Kolese Kanisius (Minggu, 12 November 2017 di Jifest, Kemayoran), senin pagi langsung menjadi viral.

Pada pidatonya, selaku penerima award, dia mengatakan: Anda (pihak panitia -red) telah mengundang seseorang dengan nilai-nilai serta integritas yang bertentangan dengan apa yang telah diajarkan kepada kami. Walaupun anda mungkin harus mengundangnya karena jabatannya, tapi next time kita harus melihat juga orangnya. Ia mendapatkan jabatannya dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Kanisius. Ini saya tidak ngomong politik, ini soal hati nurani dan nilai kemanusiaan.”

Siapa sih Ananda Sukarlan?

Ia adalah anak dari pasangan Sukarlan dan Poppy Kumudastuti, yang lahir pada tahun 1968. Nama Ananda cukup dikenal oleh komposer-komposer di Eropa, karena kepiawaiannya sebagi seorang pianis. Beberapa gelar juara berhasil ia gondol, dari mulai Nadia Boulanger, di Orleans, Prancis (1993) sampai Foundacion Guerrero Competition di Madrid, Spanyol (1995). Bakat sebagai pianis telah dia perlihatkan sejak lulus dengan predikat summa cum laude dari Koninklijk Conservatorium Den Haag. Berbekal kehandalannya, tak jarang undangan dari kalangan kerajaan mulai berdatangan kepadanya. Tercatat ratu Sofia dari Spanyol pernah mengundangnya pada acara konser Malam Gala Queen Sofia Prize di Madrid di tahun 2000.

Apa yang unik dari seorang Ananda?

Pertama, kecintaannya kepada Indonesia. Karya terkemuka yang dia pernah hasilkan adalah Rapsodia Nusantara. 21 seri telah dia ciptakan sesuai dengan nama provinsi yang ada di Indonesia. Bukan itu saja, dia adalah pianis Indonesia pertama yang tercatat dalam The International Who’s Who in Music Book, yang merupakan direktori biografi pemusik yang diterbitkan oleh International Biographical Center di Cambridge, Inggris. Ananda juga berhasil menorehkan namanya sebagai musisi Indonesia satu-satunya pada 2000 Outstanding Musicians on the 20th Century di tahun 2000.

Kedua, kecintaannya pada nilai-nilai kemanusiaan. Ditengah kesibukannya, dia menyempatkan diri untuk mendirikan Yayasan Musik Sastra Indonesia, sebuah institusi pendidikan musik yang diberikan kepada golongan tidak mampu serta membantu untuk menunjang uang kuliah mereka. Itu sesuai dengan ajaran Kanisius yang dia peroleh saat sekolah dulu, walaupun faktanya dia seorang muslim.

Singkatnya, Ananda bukanlah musisi kacangan. Kelasnya pun sudah internasional, bukan nasional apalagi lokal. Kalo dibilang sepi job, jelas mengada-ada. Trus ngapain pada acara penganugerahan tersebut dia berkata demikian? Tak lain karena kegalauan hatinya. Gundah hatinya melihat ketidak adilan melanda tanah airnya, secara khusus Jakarta. Melihat sosok Ananda, saya sangat mahfum. Siapa yang nggak kesal melihat seseorang meraih suatu jabatan dengan cara-cara curang? Siapa yang nggak sedih melihat saudara seiman tidak boleh disholat-kan gegara beda pandangan politik? Siapa yang nggak murka melihat kesewenangan dipertontonkan kepada khalayak ramai demi memenangkan kontestasi pilkada? Apakah cukup hanya diam melihat ketidakadilan ada??

Lantas, apakah dengan bersikap walk-out adalah sebuah langkah yang salah? Bagi saya, salah dan benarnya itu relatif. Ini pernyataan sikap. Lugas dan spontan. Lebih menekankan pada aspek moralnya. Bahwa untuk menjadi pemimpin, cara-cara yang diambil hendaknya bijak dan bukan malah menghalalkan segala cara untuk meraihnya apalagi demi ambisi dan syahwat semata. Akan ada suara lantang yang akan menyorot ketidakbenaran itu, pada akhirnya.

Lanjutkan mas Ananda. Proficiat Canisians! Sejarah akan mencatat anda sebagai orang yang peka nurani, meskipun banyak suara mencibir langkahmu.

Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan,” setidaknya Soe Hok Gie pernah berkata. Dan saya angkat topi untuk sikapnya itu.

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah mantan Aktivis 98 GEMA IPB)

 

 

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

You may also read!

Kabut Hitam di Sri Lanka

Hari Minggu itu (21/4) suasana hiruk pikuk sangat terasa di Kolombo, Batticoloa dan terutama di Negombo yang terkenal sebagai

Read More...

Selanjutnya Apa?

“Bang, selamat ya,” begitu pujian yang kudapat karena dianggap telah berhasil menganalisis, setidaknya siapa pemenang kontestasi pilpres 2019 berikut

Read More...

Perang Senyap Pasukan 81 (*Bagian 2)

Bagaimana Jokowi bisa bertemu dengan Luhut? Saat Jokowi masih menjabat walikota Solo. Saat itu keduanya sepakat untuk membuat perusahaan

Read More...

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu