Dukungan Kampus Kuning

In Politik, Sejarah

“Kenapa kita alumni UI nggak buat dukungan politis terhadap kepemimpinan Jokowi?” demikian celoteh seseorang alumni UI pada saat nongkrong dengan sesama rekan alumni lainnya.

Siapa nyana, awalnya dari obrolan warung kopi, ide itu kemudian diwujudkan dengan mengadakan event Deklarasi Dukungan buat paslon 01 yang digagas oleh para alumninya.

Singkat kata, karena butuh dukungan yang masif, walaupun ide awalnya hanya akan diikuti oleh alumni UI, tapi toh dukungan kampus lain tidak dinegasikan. Bukankah dalam sejarah gerakan mahasiswa di Indonesia, tidak ada dominasi suatu kampus yang itu-itu saja?

Melebarlah sayap dukungan, dari kampus lain baik negeri dan swasta yang punya suara yang sama dalam menyokong Jokowi.

“Ikutan hadir kan, Ru?” demikian pertanyaan yang nongol pada laman whatsapp-ku. Rada bingung awalnya untuk menjawabnya.

Saya pikir, ini acara alumni UI yang usung, kenapa saya harus datang? Pertama, bicara konsistensi, selaku mantan aktivis 98, UI saya anggap telah kehilangan momentum saat peristiwa 98 terjadi. 1998, saat kampus lain sudah gebuk-gebukan dengan aparat dipintu gerbang kampus, eh UI masih tenang-tenang aja.

Puncaknya, aksi pendudukan gedung MPR/DPR oleh mahasiswa, bukan UI yang menjadi pelopornya. Sejarah mencatat malah kampus-kampus yang notabene-nya mayoritas swasta yang tergabung dalam Forkot dan FKSMJ. Lha, UI ada dimana?

Sedikit review, kalo UI adalah kampus negeri yang punya basis gerakan mahasiswa. Peristiwa jatuhnya Orde Lama dan berganti dengan Orde Baru, awalnya dimulai dengan teriakan KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) dengan Tritura-nya, dimana UI sebagai deklaratornya.

Banyak eksponen 66, berasal dari kampus ini, dari mulai Akbar Tanjung sampai Cosmas Batubara.

Seiring dengan berjalannya Orde Baru, kembali UI didaulat sebagai basis perjuangan mahasiswa se-Indonesia yang berani mengkritisi kebijakan rejim Soeharto sebagai boneka AS. Adalah Hariman Siregar, yang belakangan mengusung gerakan mahasiswa untuk menyuarakan protes terhadap kebijakan Soeharto kala itu.

Peristiwa Malari (Malapetaka Lima Belas Januari) 1974, kembali melambungkan UI sebagai kampus yang identik dengan kampus perjuangan rakyat.

Itu-pun belum cukup, mengingat pada gerakan mahasiswa 1977/1978 yang menggugat kepemimpinan Soeharto di Indonesia, kembali disuarakan di beberapa kampus, dan UI adalah salah satu kampus perjuangan mahasiswa kala itu, dengan Lukman Hakim sebagai Dewan Mahasiswa UI.

Tapi sejalan dengan kuatnya gerakan infiltrasi yang dilakukan oleh organisasi ekstra-kampus, membuat kepemimpinan mahasiswa di kampus UI mengalami disorientasi. Kampus bukan lagi sebagai pusat gerakan moral yang berani mengkritisi kebijakan pemerintah, tapi malah menjadi kaki tangan partai dan gerakan trans-nasional.

Mungkin ini yang menyebabkan kampus UI makin asyik dengan program NKK/BKK yang disasar pada gerakan internal kampus. Jadilah kampus ini menjadi menara gading, yang jauh dari suara rakyat.

Ironis, padahal dulu kami para mahasiswa negeri, tak terkecuali mahasiswa kampus UI, diberi subsidi oleh pemerintah, yang uangnya didapat dari pajak rakyat. Harusnya berani menyuarakan suara rakyat, bukan malah sibuk belajar doang.

Dan puncaknya, pada reformasi 1998, UI telah kehilangan momentum.

Bukan itu saja, kondisi mahasiswa UI saat ini gak kalah memprihatinkan. Ingat kelakuan Zaadit Taqwa selaku ketua BEM UI yang memberikan ‘kartu kuning’ kepada presiden Jokowi, karena dinilai rejim pakde gagal mengemban amanat rakyat. Telusur punya telusur, ternyata tuh anak ternyata simpatisan PKS.

Mungkin sadar bin ngenes akan kondisi kampus tercinta dan tak mau kehilangan momentum kembali, makanya acara deklarasi dukungan ini kemudian digelar. Dan alumni UI sangat mahfum, bahwa dalam gerakan, ada yang namanya motor dan ada yang namanya penumpang.

Masalahnya mau jadi motor perubahan apa sekedar jadi tim hore?

Dan setelah pikir-pikir, sepertinya saya harus mengesampingkan eksistensi dan mau menerima ajakan teman untuk meluncur ke acara deklarasi dukungan tersebut. Bagi saya, selama dalam satu perahu untuk mendukung paslon 01, apapun harus didukung.

Wait for me, guys…

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah mantan Aktivis 98 GEMA IPB)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

You may also read!

Kabut Hitam di Sri Lanka

Hari Minggu itu (21/4) suasana hiruk pikuk sangat terasa di Kolombo, Batticoloa dan terutama di Negombo yang terkenal sebagai

Read More...

Selanjutnya Apa?

“Bang, selamat ya,” begitu pujian yang kudapat karena dianggap telah berhasil menganalisis, setidaknya siapa pemenang kontestasi pilpres 2019 berikut

Read More...

Perang Senyap Pasukan 81 (*Bagian 2)

Bagaimana Jokowi bisa bertemu dengan Luhut? Saat Jokowi masih menjabat walikota Solo. Saat itu keduanya sepakat untuk membuat perusahaan

Read More...

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu