Perang Jaman Now

In Sejarah

Saat menuliskan artikel ini, saya sedang mendengarkan lantunan lagu Solitude-nya Andea Motis. Kadang kalo buntu pikiran, saya butuh musik untuk memusatkan perhatian saya kepada bahan yang akan ditulis. Gaya belajar auditory, kalo praktisi pendidikan bilang.

Ngapain sih perang? Perang yang dikenal dengan aksi kolonialisme, pada hakikatnya adalah upaya untuk menaklukan daerah tertentu, dengan tujuan dijadikan jajahan. Untuk apa? Ya, dirampok kekayaan alamnya dan punya kontrol atas ekonomi suatu wilayah. Itu kesimpulannya.

Jaman dulu, orang menggelar perang secara konvensional, dengan pengerahan kekuatan militer. Ada tahapannya. Pertama, dibombardir dulu. Kedua, pasukan kaveleri mulai masuk wilayah. Dan terakhir masuknya pasukan infanteri. Trus kibar-kibar bendera dehh, tanda daerah sudah ditaklukkan.

Jaman now, perang sudah bertransformasi. Nggak perlu mengerahkan kekuatan bersenjata, ngirit biaya, tapi daya rusaknya ruar biyasa… Inilah yang dikenal dengan istilah asymmetric warfare, alias perang asimetrik.

Apa itu?

Menarik apa yang dikemukakan Ryamizard Ryacudu, “Asymmetric warfare merupakan perang murah meriah tapi kehancurannya lebih dahsyat dari bom atom. Jika Jakarta di bom atom, daerah-daerah lain tidak terkena. Tapi jika menggunakan asymmetric warfare, maka sistem negara akan hancur berpuluh-puluh tahun dan menyeluruh.”

Mau tau apa contoh perang asimetrik? Arab Spring. Pelakunya negara-negara Barat dengan modus gerakan massa untuk menumbangkan rezim yang berkuasa di Jalur Sutra Baru, di negara-negara jazirah Arab. Kenapa harus ditumbangkan? Karena penguasa disana menentang kebijakan Barat tapi sialnya kaya akan sumber daya alam.

Banyak daftarnya, dari mulai Tunisia, Yaman, sampai Suriah. Dan hebatnya, semua punya kesamaan untuk ditumbangkan.

Bagaimana dengan di Indonesia? Peristiwa Mei 1998 adalah salah satu contohnya. Terima tidak terima, selaku pelaku sejarah di 1998, lewat analisa saya harus akui hal tersebut benar adanya.

Apa buktinya?

Mirip perang konvensional, perang asimetrik juga memiliki ciri khas yang sama. Pertama adanya penggalangan isu bersama. Kedua adanya gerakan massa. Dan ketiga, adanya aksi pendudukan.

Coba review lagi gerakan reformasi 1998.

Pertama-tama adanya penggalangan isu bersama. Anti KKN adalah tema besar yang diusung sebagai isu bersama.

Dalam banyak kasus, isunya bisa bervariasi, dari mulai kemiskinan, demokratisasi, korupsi, pelanggaran HAM sampai pemimpin yang otoriter. Tapi ya itu, menyasar pada kepemimpinan nasional yang harus segera dilengserkan.

Pada tahap kedua, terjadi mobilsasi massa besar-besaran. Saya masih ingat bagaimana kampus dijadikan pusat konsentrasi massa sebelum akhirnya gerakan meluas keluar kampus. Disini, pentingnya agen-agen asing, dalam bentuk LSM (-yang pro Asing), proxy war dan tokoh masyarakat, sebagai bahan bakar terjadinya akumulasi massa.

Dan terakhir, pendudukan-pun terjadi. Disinilah peran komprador yang sengaja sudah dipasang sebagai pembuat kebijakan, dari mulai staf ahli sampai menteri. Coba tilik, apa dampak dari penandatanganan Letter of Intent yang disodorkan IMF kepada eyang Harto dipenghujung masa jabatannya di 1997? Pertanyaan selanjutnya, apa Soeharto dalam keadaan bahaya setelah dimakzulkan?

Jalan-pun seketika terbuka lebar bagi pihak asing. Sejak itulah, perampokkan besar-besaran secara masif dan terstruktur atas kekayaan SDA selain kontrol atas sektor ekonomi negara, terjadi. Dari mulai program restrukturisasi perbankan, desentralisasi, deregulasi sampai privatisasi BUMN. Dan semuanya mengarah pada liberalisasi ekonomi.

Siapa kepentingan asing yang bermain? Saya akan ulas pada tulisan saya yang lain.

Satu pertanyaan saya, apakah perang asimetrik sudah berhenti saat ini, atau makin dahsyat? Jawabannya berkaitan erat dengan pilpres 2019.

Kok saya jadi ingat kata-kata Henry Kissinger, “Control oil and you can control nations. Control food and you control the people.

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah mantan Aktivis 98 GEMA IPB)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

You may also read!

COVID-19 di Italia

COVID-19 di Italia Oleh: Ndaru Anugerah Belt and Road Initiative merupakan satu-satunya inisitiatif yang dibuat China dan bersifat global. Memang sesungguhnya

Read More...

Hoax dari Amrik

Hoax dari Amrik Oleh: Ndaru Anugerah Klaim di media sosial menuduh pemerintah AS "baru saja menangkap" Dr. Charles Lieber dari Universitas

Read More...

Rame-Rame Kroyok LBP

Rame-Rame Kroyok LBP Oleh: Ndaru Anugerah Awalnya gabener Aibon yang mengeluarkan kebijakan untuk menghentikan operasional bus AKAP, bus AJAP serta bus

Read More...

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu

This Site is Hosted By iJoo