Generasi Bono

In Sejarah

Adalah seorang aktivis anti-globalisasi, Naomi Klein namanya, yang memberikan julukan kepada orang-orang yang tidak berusaha menyentuh persoalan secara nyata, melainkan hanya melakukan selebrasi-selebrasi semata. Bonoisasi, itu sebutannya. Orang yang secara esensi cenderung “gagal” mengaktualisasikan nilai-nilai yang diperjuangkannya.

Singkatnya, ketimbang memperjuangkan nasib orang-orang tertindas dengan berdemo di jalanan yang panas terik, generasi Bono lebih memilih untuk berdiskusi di café yang nyaman ataupun hotel bintang empat/lima. Bisa juga mereka mengadakan konser-konser untuk sekedar menggalang solidaritas bagi kaum tertindas.

Nama Bono sendiri, diambil dari nama vokalis U2 (-Paul David Hewson) yang menginspirasi generasi muda untuk ikut peduli dengan isu-isu jaman NOW semisal HIV/AIDS, kelaparan, atau hutang yang menjerat negara-negara miskin.

Sebenarnya nggak ada yang salah sih. Cuma metodenya yang terkesan flamboyan. Apa iya ada bisa tercipta perubahan kalo memperjuangkannya lewat aksi jingkrak-jingkrak semata?

Generasi Bono, sebenarnya sudah ada sejak dulu. Cuma belum booming, karena memang belum dipopulerkan oleh seorang penyanyi top sekelas Bono.

Kita kilas balik sejenak…

Dulu, kita mengenal adanya musik Blues sebagai simbol protes terhadap sistem rasis dan perbudakan yang berlaku di Amerika. Kata Blues diambil dari kata “blue” yang berarti perasaan sedih. Sedih karena kaum kulit hitam menjadi obyek kekerasan oleh kaum kulit putih. Untuk mengekspresikannya, terciptalah musik Blues sebagai bentuk curhatan para budak kulit hitam.

Pada era 70an, dimana kaum New-Left di Eropa dan Amerika direpresi oleh negara, muncullah aliran musik yang dinamakan Punk. Golongan ini menghendaki terbentuknya masyarakat tanpa kelas dan secara otomatis menolak negara yang dianggap sebagai rezim diktator yang dilembagakan.

Adapun PUNK sendiri merupakan akronim Public United Nothing Kingdom, yang berarti kerajaan tak bersatu yang disatukan oleh publik, alias kerajaan rakyat tanpa aturan. Coba lihat anak-anak punk yang kerap nongkrong di pinggir jalan, apa saja aksesoris mereka kenakan?

Ada celana ketat yang menyimbolkan himpitan hidup. Celana robek-robek yang mengusung spirit kebebasan dalam berekspresi. Sepatu boot yang mencerminkan arogansi militer. Dan gak ketinggalan rambut Mohawk yang mengusung semangat perlawanan suku Indian melawan Yankees.

Waktu-pun berlalu. Memasuki era 90-an, muncullah genre yang dinamakan Grunge. Grunge sendiri diambil dari kata slank “Grungy” yang berarti sesuatu yang kotor atau jorok. Musik ini nongol pertama kali di Seattle, dan diusung dengan masif oleh grup-grup semisal Nirvana dan Pearl Jam. Apa yang mereka sentil adalah sistem politik dan ekonomi yang sedang bobrok kala itu.

Coba iseng, dengerin deh alunan musik Nirvana dengan vokalis legendarisnya-nya Kurt Cobain. Smells Like Teen Spirit berkata, “Load up on guns, bring your friends. It’s fun to lose and to pretend. She’s over-bored and self-assured. Oh I know, a dirty word.” Dari itu aja, kita bisa tarik kesimpulan kalo mereka suka ngomong ceplas-ceplos dan menyindir diskriminasi sosial yang terjadi.

Generasi Bono memang tidak akan lekang oleh waktu. Kapan-pun ada ketidakadilan dalam sistem bernegara, generasi ini akan otomatis muncul dan sekali lagi akan mengusung gerakan perlawanan versi mereka yang flamboyan.

Apakah efektif? Menurut saya, kalopun tidak menumbangkan rezim secara frontal, paling tidak pada saat Orde Baru, sang diktator sempat dibuat gerah oleh generasi Bono. Gak percaya? Pernah dengar lirik lagu Pak Tua yang diusung oleh Elpamas? Selang beberapa saat setelah lagu ini di-launching, konon karena liriknya sarat kritik, lagu ini-pun langsung “ditarik” dari peredaran..

Tetaplah melawan ketidakadilan dan kesewenangan, walaupun dengan menjadi generasi Bono, alias generasi anti kemapanan. Itu lebih baik, daripada diam sama sekali.

 

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah mantan Aktivis 98 GEMA IPB)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

You may also read!

Fake Pandemic, Fake News (*Bagian 1)

Fake Pandemic, Fake News (*Bagian 1) Oleh: Ndaru Anugerah “Kalo ini merupakan pandemi palsu, lalu orang yang mati sudah ratusan ribu

Read More...

Bagaimana Vaksin Berbasis m-RNA dikembangkan?

Bagaimana Vaksin Berbasis m-RNA Dikembangkan? Oleh: Ndaru Anugerah “Bagaimana bentuk vaksin Big Pharma yang kini tengah dikembangkan oleh perusahaan farmasi Moderna?”

Read More...

Siapa Penjahat Perangnya?

Siapa Penjahat Perangnya? Oleh: Ndaru Anugerah Pasukan AS menggunakan helicopter Apache untuk menjatuhkan balon termal pada ladang gandum yang terletak di

Read More...

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu

This Site is Hosted By iJoo