(Demo) Paket Hemat


511

Aksi demonstrasi yang belakangan marak digelar, menggelitik seseorang nun jauh disana untuk langsung bertanya ke saya, “Ada apa sebenarnya, bang? Apa Jokowi mau dimakzulkan?”

Sebenarnya ini pertanyaan retorik. Kalo anda baca ulasan saya, pasti anda tahu jawabannya. Petunjuknya, ada pihak yang coba menggoyang kepemimpinan pakde saat ini lewat berbagai isu yang berkaitan dengan revisi sejumlah UU, yang memang kontroversial.

Jadi demonstrasi ini sebenarnya mirip kasus Ahok. Diharapkan akan terus membesar. Kalo nggak berhasil diredam, maka sasaran tembak utama berupa penggulingan rejim Jokowi bakalan terjadi.

Dari sini saja saya bisa menilai kalo konsultan politik yang dipakai sang bohir terbilang nggak kreatif, alias modal copas doang.

”Jangan coba jatuhkan Jokowi saat ini, karena ini adalah puncak performa-nya dalam mengkonsolidasikan kekuatan,” begitu saya pernah katakan dalam satu ulasan.

Jadi clear ya, gimana nasib demonstrasi berujung rusuh akhir-akhir ini…

Yang saya mau ulas kali ini bukan ujungnya, melainkan pertanyaan pertama, tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Pertanyaan awal, apa yang memicu orang berbondong-bondong demonstrasi?

Adalah sikap politik yang diambil Jokowi dalam menangani produk revisi UU yang ditenggarai sebagai penyebabnya. Revisi UU KPK yang disorot banyak kalangan akan bisa melemahkan lembaga anti rasuah tersebut, justru malah disahkan oleh dirinya.

Sebenarnya masalah bukan hanya itu. Ada sejumlah revisi UU yang diajukan DPR, dari mulai UU KUHP, UU Minerba hingga UU Pemasyarakatan. Tapi tentang hal itu semua sudah dijawab sama Jokowi. Pemerintah memutuskan untuk menunda revisi UU tersebut karena dianggap cukup kontroversial.

Bayangkan jika wanita yang keluar malam di atas jam 10 malam, bakalan kena pasal pidana. Apa kata Lucinta Luna?

Namun, penundaan itu bukan yang jadi tuntutan utama. UU KPK itulah yang dijadikan sasaran tembak. Ujungnya bisa ditebak. Mereka menuntut Jokowi mengeluarkan perppu untuk menganulir revisi UU KPK tersebut.

Tapi Jokowi tetap pada pendiriannya. Kenapa demikian?

Ada 2 hal yang melatar belakangi ngototnya sang tukang kayu. Pertama menyangkut upaya penggalangan dana menuju pilpres 2024 secara masif (baca disini). Dan kedua Jokowi bisa mengukur kekuatan yang dia punya. “Jadi mau lu goyang gue bagaimanapun, bakalan percuma Malih…”

Namun, bohir melihat peluang untuk bisa menggoyang sang tukang kayu di sisi ini. Sebenarnya targetnya hanya test case saja, bukan juga berupaya menggagalkan pelantikan Jokowi di tanggal 20 Oktober nanti, seperti banyak diprediksi orang.

“Kalo benar bahwa gerakan demonstrasi nanti utamanya akan menggagalkan acara pelantikan Jokowi  pertanyaannya apa solusinya? Apa menuntut pembentukkan pemerintahan transisi? Apa mau Prabowo yang dijadikan presiden?” Kan, nggak juga.

Aliasnya analisis yang menyatakan akan adanya upaya menggagalkan hari pelantikan adalah lebay.com belaka.

Lanjut, ya..

Siapa yang jadi bohirnya?

Untuk melihat inipun nggak susah-susah amat sebenarnya. Cukup lihat siapa operator lapangan yang dimainkan dan cara membungkus suatu isu agar bisa menggerakkan massa yang lebih besar lagi.

Ada mantan jenderal yang dipakai untuk menggerakkan massa. Sedangkan cara yang dipakai konsultan untuk memprovokasi massa adalah dengan membangkitkan romantisme gerakan 98.

Gerakan Gejayan di Jogjakarta yang sempat jadi spot perlawanan rakyat Jogya terhadap rejim orde baru, kembali dimainkan. Nggak sedikit juga yang mengusung frase ‘reformasi belum tuntas’. Harapannya, akan ada pengulangan sejarah pada demonstrasi kali ini, seperti saat 98.

Namun sang konsultan lupa banyak hal. Mahasiswa 98 bukanlah mahasiswa milenial, yang kalo dipukul aparat larinya malah ke mall. Mahasiswa 98 adalah aktivis jalanan tulen, bukan aktivis yang dibesarkan oleh gadget. Aktivis 98 jauh lebih matang dalam menjalankan aksinya.

“Bukan lupa bang konsultannya, tapi memang disesuaikan budget. Bohirnya terlalu pelit dalam menggelontorkan dana. Jadinya, demonstrasi ya kek begini deh,” demikian bisik seorang narsum.

Bicara soal bohir pelit, bisa ditebak, siapa yang berada dibalik ‘hajatan’ nasional yang terjadi saat ini. Benar. Pihak kroni orba yang berkolaborasi dengan genk kadal gurun dengan budget cekak.

Modusnya, dana digelontorkan ke kelompok dalrun, lalu operator lapang langsung berupaya menggelembungkan massa lewat berbagai cara. Namun muncul kendala, dengan fulus terbatas, bisa apa Coky?

Saking pelitnya, sampai-sampai harus kehilangan akal sehat. Alih-alih penggelembungan massa, maka anak sekolah setingkat SMP dan SMA juga terpaksa dikerahkan untuk menyukseskan acara yang mereka diusung. Padahal, anak-anak bau kencur, ngerti apa soal politik?

Hasilnya, demonstrasi-pun berakhir ricuh, karena kurang matang ditataran isu. Mobil aparat kemudian dibakar. Mobil plat merah jadi sasaran amuk massa. Bahkan pintu tol pun yang nggak salah apa-apa, juga ikutan disulut api.

Melihat demo yang chaos, apa yang bisa disimpulkan publik? Demo-nya anarkis. Kalo sudah gini, apa bisa menarik simpati massa untuk bersimpati apalagi ikut terlibat demonstrasi?

“Lagian bang, isu-nya terlalu elitis, dan nggak menyentuh kebutuhan dasar masyarakat. Coba kalo isunya turunkan harga gorengan, akan lain ceritanya,” demikian pungkas seseorang.

Seperti saya bilang, bahwa demonstrasi kali ini sama sekali nggak masuk hitungan Jokowi. Sama sekali nggak. Beda situasinya dengan demo togel tempo hari.

Kalo seorang Jokowi bisa lolos dari jerat demo berjilid, apalagi sekedar demo rusuh kali ini? Yang ada pakde tinggal cengangas cengenges liatin demo tersebut sambil garuk-garuk pantat.

Anyway, saran saya satu kepada cebongers. Tetaplah kalian konsisten dijalur dukung pakde. Jangan hanya andalkan nalar kalian, karena percayalah bahwa soliditas kalian akan gampang dipecah oleh kelompok dalrun alias kadal gurun. Yang terlihat sekarang, belum tentu yang sebenarnya.

Kalo dalrun aja bisa taklid terhadap pimpinannya mereka, walaupun udah jelas-jelas salah, kenapa nggak kalian tiru?

 

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah mantan Aktivis 98 GEMA IPB)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!