Bisnis Kebencian (*bagian 2)


521

Mohon maaf buat pembaca yang menanti-nantikan tulisan kedua saya, karena harus menunggu agak lama. Ini dikarenakan saya baru saja sembuh dari penyakit diare akut yang saya alami beberapa hari yang lalu. Lagian kan saya sudah janji dan yang namanya janji ya harus ditepati.

Secara prinsip, bisnis kebencian sudah berlangsung sejak jaman kolonial. Dan sekarang bukannya pudar, malah bertransformasi dengan model yang jauh lebih canggih cara kerjanya. Namun esensinya sama, bahwa negara yang disasar untuk diorak-arik adalah negara yang punya kekayaan SDA yang menggiurkan.

Sangat banyak kasus, yang kalo secara kasat mata sekilas bercerita tentang pelanggaran HAM. Namun kalo ditelisik, bukan HAM yang didapat, tapi udang, udang dibalik bakwan tepatnya.

Secara prinsipil, bisnis kebencian yang ada dewasa ini merupakan kolaborasi yang kompleks antara pemodal, konsultan dan operator lapang yang bekerja dengan sangat rapih. Bagaimana cara kerjanya? Saya akan mengulasnya.

Tarik mang…

Yang perlu dimengerti adalah bahwa kebencian tidak serta merta terjadi dalam satu malam. “Nggak mungkin tiba-tiba orang dalam jumlah ribuan berdemonstrasi tanpa ada sebab.” Karena ini bukan kisah Aladdin.

Kebencian sebagai barang dagagan, harus difabrikasi lewat sistem industri. Dan bicara industri, dananya tentu sangat besar, puluhan bahkan ratusan juta dollar uang beredar disana.

Sesuai dengan temanya, maka industri ini menyasar masyarakat awam yang buta sama sekali akan politik. Merekalah sasaran empuk yang bisa dibangkitkan rasa bencinya. Lewat siapa? Operator lapangan.

Siapa saja mereka? Bisa jadi penggiat HAM yang kerap teriak-teriak Papua Merdeka, sampai para ustaz sosmed yang acap meneriakkan rejim dzolim.

Cara kerjanya bagaimana?

Pemodal yang merasa bisnisnya terancam di negara tujuan, maka akan segera menggalang upaya untuk menggulingkan rejim yang dianggap menyusahkan mereka. Dari sini muncul istilah revolusi warna, karena menyasar semua ideologi negara yang berseberangan dengan si pemodal.

Ada revolusi merah di Venezuela untuk menumbangkan Maduro, atau mungkin revolusi hijau yang coba dimainkan di Iran pada 2009 lalu.

Nah si boss besar berkolaborasi dengan USAID mulai menggelontorkan dana segar untuk bergerak. Kepada konsultan spesialis penggulingan rejim, tentunya. Siapa konsultannya? Banyak. Namun yang paling populer Srda Popovic, namanya. Tentang Popovic saya akan ulas pada lain tulisan.

Popovic dengan perusahan CANVAS miliknya, merupakan mantan mahasiswa Serbia yang dibina secara khusus oleh CIA untuk mengembangkan teknik propaganda. Kemampuannya dalam menggelar upaya penggulingan rejim seantero dunia, sudah cetar membahana.

“Tujuan kami adalah untuk mendidik para aktivis pro-demokrasi di seluruh dunia untuk bisa sukses dalam perjuangan tanpa kekerasan,” demikian ungkap Popovic. Kalo diterjemahkan kurang lebihnya ya ‘kudeta dengan modus demonstrasi damai’.

Nah, dari Popovic uang yang sudah didapat dari pemodal semisal Open Society Institute besutan George Soros, akan dipakai untuk melatih para operator lapangan. Dan menurut sasus yang saya peroleh, pelatihan gerakan ‘pro-demokrasi’ ini juga berlangsung pada hotel-hotel mewah. Jauh dari kesan gembel sebagai aktivis jalanan.

Untuk menyukseskan aksinya, Popovic juga menggandeng LSM handal semisal National Endowment for Democracy dan National Democracy Institute. Maklum jumlah uangnya lumayan besar untuk bisa dihabiskan seorang diri.

Kelak LSM-LSM tersebut akan menggandeng mitra LSM yang ada dinegara tujuan yang punya kode yang sama. “Biasanya kodenya adalah HAM,” demikian ungkap seorang narsum.

Nah ditataran operator lapang yang dilatih di hotel-hotel mewah tadi, mereka mendapatkan pelatihan bagaimana cara yang efektif dalam menghasut massa. Itu tujuan utamanya, yaitu bagaimana massa bisa dikomporin.

Apa yang bisa menggerakkan massa untuk bertindak irasional? Provokasi jawabannya. Provokasi yang bagaimana? Yang sudah menyentuh otak reptil-nya (croc brain).

Berdasarkan teori, otak reptil bisa dengan mudah digerakkan jika kita berhasil membangkitkan hal-hal yang sifatnya hakiki, misalnya jaminan pekerjaan selain masalah ekonomi. Jangan heran bila tempo hari isu serbuan tenaga kerja Aseng dan isu kehancuran ekonomi Indonesia jadi bahan provokasi yang sangat efektif.

Tujuannya orang jadi takut. Apalagi yang kasih ceramah para ustaz yang mereka anggap ‘orang benar’. Makin yakinlah mereka. Kalo sudah merasakan ketakutan, maka mereka akan dengan mudah digerakkan sebagai bagian dari perang asimetrik, yaitu penggelembungan massa.

Dengan diaktivasikannya otak reptil, maka orang praktis jadi hilang akal sehatnya. Nggak aneh kalo kita kasih data seobyektif mungkin, nggak akan ngefek kepada orang tersebut.

Selain pelatihan yang diberikan kepada operator lapang, Popovic juga menyadari tentang peran penting media-media mainstream dalam membentuk opini publik. Selain media-media tersebut dimiliki oleh para boss besar, para jurnalisnya juga bakal kecipratan uang proyek yang gede tadi.

Dengan uang modal sejumlah ratusan jutaan dollar, Popovic bisa sukses menjalankan aksinya. Terbukti kliennya berasal dari segala belahan dunia. Mengapa mereka percaya padanya? Karena portofolio yang dimilikinya. Lebih banyak suksesnya daripada gagalnya.

Setelah memahami cara kerjanya, bagaimana di Indonesia?

Kasus Papua yang sekarang lagi ramai, nggak lain ada peran Popovic didalamnya. Berhasil apa tidaknya proyek tersebut, tergantung pada 2 hal. Pertama ketegasan aparat keamanan, dan kedua pematangan isu di lapangan. Dan bicara pematangan isu, tergantung pada operator lapangan yang bekerja.

“Apakah kasus Papua bisa bergulir pada referendum?” tanya seseorang. Yang perlu diketahui adalah bahwa kemampuan seorang Uskup Bello, kelasnya tentu tidak sama seorang Veronica Koman atau bahkan Benny Wenda.

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah mantan Aktivis 98 GEMA IPB)


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!