Anjing Menggonggong, Sang Ndoro Tetap Berlalu

In Lite

Anjing Menggonggong, Sang Ndoro Tetap Berlalu

Oleh: Ndaru Anugerah

Krisis energi terjadi dimana-mana, dari mulai Inggris hingga India, dari China hingga Amrik. Semua menjerit tentang kelangkaan energi dipicu oleh banyak faktor. Dan salah satunya rencana peralihan dari dirty ke clean energy. (https://www.weforum.org/agenda/2021/10/energy-transition-risks-crisis/)

Apakah ini terjadi secara alami?

Justru moment ini terjadi by design.

Genk Davos telah bicara tentang ini dari awal, bahwa krisis energi justru akan menciptakan peluang bagi proses transisi energi. Dengan adanya kelangkaan, maka orang dipaksa untuk meninggalkan fossil fuels secepatnya. (http://www3.weforum.org/docs/WEF_Fostering_Effective_Energy_Transition_2020_Edition.pdf)

Makanya, biar orang-orang sedunia teriak soal kelangkaan energi atau bakal banyak yang menggigil tingkat dewa saat musim dingin tiba, apapun risikonya rencana besar sang Ndoro harus tetap berjalan sesuai schedule.

Menurut laporan, pada 2050 mendatang, emisi karbon akan turun pada level 40% jika target zero carbon dapat terpenuhi.

Dan untuk mencapai status ini, maka dibutuhkan komitmen.

“Negara-negara harus punya komitmen untuk mewujudkan rencana tersebut, yang diprediksi akan memakan biaya investasi sekitar USD 4 triliun,” begitu ungkap International Energy Agency (IEA). (https://www.theguardian.com/environment/2021/oct/13/carbon-emissions-will-drop-just-40-by-2050-with-countries-current-pledges)

Jadi, krisis energi yang terjadi saat ini memang sengaja dibuat guna memuluskan rencana besar kartel Ndoro besar.

“Tuh lihat, bahan bakar fosil selain harganya fluktuatif juga nggak ramah lingkungan. Saatnya kita beralih ke energi terbarukan agar kita nggak terombang-ambing oleh harga fossil fuels yang tidak menentu rimbanya,” begitu kurleb-nya.

Bagaimana ini dilakukan?

Dalam waktu dekat, maka akan ada konferensi iklim Cop26 di Glasgow, Inggris pada November mendatang, yang bertujuan agar pemimpin negara-negara punya komitmen yang ‘kuat’ pada rencana peralihan energi. (https://ukcop26.org/uk-presidency/what-is-a-cop/)

Apa jaminannya agar para pemimpin di banyak negara bakal mau mengungkapkan komitmen-nya?

Gini ya.

Saat plandemi Kopit, negara-negara misqueen pasti butuh biaya pemulihan alias utangan. Dan biaya pemulihan bakal diberikan oleh kartel Ndoro besar lewat tangan lembaga Bretton Woods dan juga negara-negara kaya lainnya, jika dan hanya jika mereka mau ‘mencampakkan’ bahan bakar fosil dari negaranya.

Kalo nggak mau ‘nurut’, maka utangan nggak akan cair.

Siapa juga yang butuh utangan saat ini?

Jangan heran jika menkeu Wakanda jauh-jauh hari bisa teriak tentang biaya super jumbo untuk menanggulangi bencana iklim. Kok dia bisa tahu? (https://bisnis.tempo.co/read/1491032/sri-mulyani-butuh-rp-3-779-t-untuk-mengurangi-perubahan-iklim)

Masa yang beginian saya harus jelasin, sih?

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu