Tsunami Politik

Apa sih tsunami?

Secara definitif tsunami merujuk pada perpindahan badan air yang disebabkan oleh perubahan permukaan laut secara vertikal dengan tiba-tiba. Penyebabnya bisa macam-macam, dari mulai gempa bumi yang berpusat di bawah laut, hingga hantaman meteor di lautan.

Banyak sudah korban tsunami. Di Indonesia saja, sudah puluhan ribu jiwa melayang, dari mulai tsunami di Aceh pada 2004, hingga yang paling anyar terjadi di Banten, pada penghujung tahun 2018 lalu.

Tsunami adalah fenomena alam. Dapat terjadi secara tiba-tiba tanpa peringatan dini seperti yang terjadi di Banten, dapat juga terjadi lewat peringatan dini, seperti yang terjadi di Aceh. Intinya, akan ada gerakan tiba-tiba yang maha dahsyat, jika tidak diantisipasi dari awal.

Apakah tsunami dapat terjadi pada ranah politik?

Saya teringat pada perang Vietnam. Orang Vietnam punya tradisi untuk merayakan Hari Raya Tahun Baru Imlek, Hari Raya Tet namanya. Siapa sangka, disaat prajurit AS tengah lengah dengan asumsi bahwa prajurit Vietkong tidak mungkin mengadakan perang saat hari raya tiba, nyatanya dugaan itu meleset.

Bak tsunami, serangan Mau Than yang digelar serempak ditujukan kepada pos-pos tentara AS di Vietnam Selatan, tepat pada malam Tahun Baru Tet 1968 secara dadakan. Akibatnya sungguh dahsyat, AS dipaksa keok pada perang Vietnam. “Lha malam tahun baru, bukan berdoa kok malah perang?”

Prajurit AS kena gelombang ‘tsunami’ saat itu. Kasus yang sama juga bisa terjadi pada kancah perpolitikkan nasional. Apa maksudnya?

Sebagai petahana, posisi Jokowi memang menang diatas angin. Betapa tidak, tercatat 9 survei sudah menobatkan pakde sebagai pemenang, jika seandainya pilpres digelar saat ini. Maka jumawa-lah para cebongers menyambut hasil survei tersebut. Mereka menjadi mabuk kepayang dengan buaian indah.

Tercatat, politisi PDIP – Budiman Sujatmiko angkat bicara melalui akun twitter-nya menanggapi hasil survei 9 lembaga: “Memasuki tahun baru 2019 dengan angka-angka ini. Waspada, tapi tetap bersiul lah..” (1/1/19)

Sebagai seorang linguis, makna dari kalimat tersebut adalah: BS cukup puas dengan angka yang sudah diraih Jokowi, sehingga gerakan yang dibuat kubu lawan nggak perlu terlalu dipandang serius. Jumawa, mungkin kata yang tepat untuk menafsirkan kalimat tersebut.

Padahal sebagai politisi, BS tentu tahu kalo hasil survei itu tidak menggambarkan apa-apa. Bisa menggambarkan sesuatu, jika dan hanya jika momen pilpres digelar hari ini. Besok atau besoknya lagi, kita nggak akan tahu. Dengan kata lain hasil survei sifatnya spekulatif dan prediktif, bukan fakta yang sesungguhnya.

Kondisi ini diperburuk dengan langkah yang diambil oleh relawan pendukung Jokowi atau yang biasa dikenal sebagai Projo, di lapangan. Walaupun sudah berkali-kali Jokowi menginstruksikan para relawannya untuk melakukan gerakan door to door alias bergerilya, nyatanya di lapangan itu nyaris tidak terjadi.

“Relawan Jokowi belum ada gerakan di daerah saya, bang,” begitu keluh beberapa suara bernada sama di daerah-daerah.

Sementara, gerakan kubu BOSAN lewat relawannya yang militan (HTI dan PKS), sudah merangsek jauh ke akar rumput (grass root). Gerakan door to door mereka sudah demikian masifnya, lewat khotbah di mesjid-mesjid, majlis taklim, arisan-arisan emak-emak sampai ajang reuni sekolah.

Semua dimanfaatkan kampreters untuk kampanye. Sementara relawan JOMIN pada kemana?

Waktu tersisa 100-an hari lagi. Tulisan ini ditujukan sebagai peringatan dini kepada para relawan JOMIN yang tengah mabuk kepayang dengan hasil survei-survei yang ada. Segera bergerak jangan ditunda kalo tidak mau digulung ombak ‘tsunami’. Sebab telat bertindak, sesal kemudian tentu tak berguna.

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah mantan Aktivis 98 GEMA IPB)

AboutNdaru Anugerah

It is human nature to think wisely and act foolishly

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *