TNI Kecolongan?

In Sosial Budaya

Sungguh malang nasib calon taruna (catar) Akmil TNI yang bernama lengkap Enzo Zenz Allie. Pada Selasa (6/8) yang lalu, namanya sempat membahana di seantero jagad media, gegara kemampuannya secara fasih berbahasa Perancis saat diwawancara dengan Panglima TNI Hadi di momen pantukhir.

Saat Enzo dipuji-puji sebagai calon anggota TNI yang katanya memiliki kualifikasi internasional tersebut, ada seorang netizen bernama Salman Faris yang kepo untuk cari tahu siapa sesungguhnya sosok catar tersebut.

Setelah nge-browse akun medsosnya, ternyata Salman menemukan sesuatu yang menakjubkan. Pada akun facebook milik Enzo, bertebaran identitasnya yang tengah mengusung bendera tauhid yang jadi simbol ormas terlarang HTI. “Ngeri-ngeri sedap ngeliatnya,” ungkap Salman (7/8).

Masalah tidak selesai sampai disini. Akun facebook ibunya pun (Hadiati Basjuni Allie) mengindikasikan hal yang sama. Bahkan lebih liar lagi. Banyak sekali ditemukan postingan yang isinya mencaci dan menghujat pemerintahan yang sah di bawah kepemimpinan Jokowi.

Bisa disimpulkan, bahwa sang ibu setidaknya telah terpapar paham radikalisme ala HTI yang sangat getol mengusung tegaknya khilafah di Indonesia.

Singkat kata, temuannya ini langsung disundul ke media sosial.

Nggak pake lama, social engagement ala Salman inipun mendapat sambutan “super meriah” dari netizen. Merasa punya kepedulian terhadap nasib bangsa, netizen rame-rame bersuara lantang hingga ribut di medsos itupun sampai juga ke telinga petinggi di mabes TNI.

“Mendingan pecat aja pak, daripada TNI membesarkan anak ular,” demikian teriakan netizen.

Sebagai respon, sekelas Menhan Ryamizard dan panglima TNI Hadi-pun memberikan klarifikasi perihal diterimanya Enzo sebagai catar di tubuh angkatan bersenjata. Mereka menegaskan bahwa seleksi penerimaan catar sudah melalui tahap yang super ketat.

“Sangat kecil kemungkinan untuk kecolongan,” demikian ungkap seorang sumber di Mabes. Walaupun nyatanya kecolongan juga.

Namun menhan-pun kasih kepastian ke publik bahwa bila kelak sang catar terbukti terpapar radikalisme berdasarkan hasil investigasu, maka langkah pencopotan bakal dilakukan.

Apakah masalahnya selesai sampai disini? Nggak semudah itu, Malih…

Ada beberapa hal yang perlu dicermati. Bahwa ternyata sekelas TNI-pun bisa “kecolongan”. Kok bisa menerima catar yang terindikasi radikalisme? Bukti akun Enzo dengan profile picture seseorang yang tengah mengusung bendera HTI adalah bukti yang tidak perlu disangsikan lagi.

“Kalo penyataannya dibalik, bendera yang dikibarkan di akunnya Enzo adalah palu arit dan bukan bendera HTI, apa nggak akan bermasalah?” demikian ungkap seorang pegiat medsos.

Terlebih akun facebook ibunya yang juga kampret garis keras, seakan menegaskan bahwa sang catar setidaknya selama ini hidup dalam lingkungan orang-orang yang terpapar paham radikal.

Pertanyaannya: mungkinkah orang yang lama bergaul dengan tukang ikan, nggak akan ketularan bau amisnya?

Jadi bisa disimpulkan bahwa ada masalah pada tahap seleksi penerimaan catar. Dan ini harus diperbaiki.

Entah apa yang salah? Apakah metode seleksinya kelewat jadul, yang hanya bisa mendeteksi paham komunisme semata? Ataukah memang ada ‘oknum orang dalam’ yang juga memiliki orientasi politik yang sama seperti Enzo?

Ini perlu jadi tekanan, mengingat Menhan Ryamizard pernah mengungkapkan bahwa sebanyak 3% anggota TNI aktif telah terpapar paham radikal. Angka yang tidak sedikit, sekitar 12 ribuan personil jumlahnya. Setara dengan 12 batalyon kalo dikonversi.

Kebayang kalo misalnya dari jumlah tersebut, beberapa bercokol di divisi penerimaan calon taruna? Bukan nggak mungkin kalo catar sekelas Enzo akan mudah lolos seleksi.

Apakah dampaknya kalo seorang catar yang telah berorientasi paham radikal dibiarkan tetap bercokol ditubuh militer?

Kelak sang catar memiliki karir yang mocer, maka sangat mungkin dirinya akan menyokong program HTI untuk menegakkan khilafah di Indonesia. Aliasnya, tanpa dukungan pihak militer, sampe Upin Ipin lulus kuliah, tujuan penegakkan khilafah akan sia-sia.

Dan HTI sangat paham itu.

Bahwa Enzo dan ibunya adalah pendukung paslon BOSAN, itu adalah hak mereka.

Bahwa Enzo dan ibunya adalah pendukung ormas HTI,  itu juga suka-suka mereka.

Tapi jangan coba ambil bagian di negara ini. Apalagi ambil bagian di tubuh angkatan bersenjata.

 

Jika HTI kelak didukung oleh kekuatan bersenjata, apa nggak sama nasib kita nantinya seperti Libya atau Suriah?

 

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah mantan Aktivis 98 GEMA IPB)

 

 

 

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

You may also read!

Great Depression

Great Depression Oleh: Ndaru Anugerah Dalam sejarah kelam AS, terdapat satu term yang cukup terkenal dalam bidang perekonomian. Inilah yang disebut

Read More...

Kudeta dibalik Corona

Kudeta dibalik Corona Oleh: Ndaru Anugerah Corona melanda semua belahan dunia. Tak terkecuali Kosovo, yang pada 17 Februari 2008 mendapatkan status

Read More...

Agen-Agen Kepanikan

Agen-Agen Kepanikan Oleh: Ndaru Anugerah Dalam kesaksiannya di depan Kongres AS (12/3), Direktur CDC – Robert Redfield – mengakui bahwa banyak

Read More...

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu

This Site is Hosted By iJoo