Tindakan Yang Nggak Masuk Akal


523

Tindakan Yang Nggak Masuk Akal

Oleh: Ndaru Anugerah

Apa kampanye yang paling sering tentang program enjus massal?

Dikatakan bahwa vaksinasi telah dan akan menyelamatkan jutaan nyawa setiap tahunnya. Sehingga dapat dikatakan bahwa program tersebut sebagai salah satu intervensi pada aspek kesehatan masyarakat yang paling aman dan paling efektif. (https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/23733039/)

Apa iya?

Di AS sana, dosis vaksin influenza mengalami peningkatan yang signifikan pada tengat waktu 1979 hingga 2019, mencapai angka 189 juta dosis. Nyatanya, tingkat kematian akibat influenza sama-sama saja pada periode tersebut. (https://www.researchgate.net/publication/26439988_Influenza_Vaccine_Review_of_Effectiveness_of_the_US_Immunization_Program_and_Policy_Considerations)

Jadi, ada nggak ada vaksin, jumlah kematian yang ditimbulkan akibat virus influenza, sama saja.

Di Jerman, kejadiannya juga sama bahkan lebih merugikan.

Adalah Dr. Gerhard Buchwald yang mengadakan penelitian terkait vaksinasi, dan diakhir risetnya dia mengatakan bahwa vaksinasi yang dilakukan di Jerman nggak membawa dampak positif melainkan malah merugikan. (https://docplayer.org/67828402-Arztezeitschrift-fuer-naturheilverfahren.html)

Misalnya pada tahun 1925, dimana sebelum ada vaksinasi, penderita difteri di negara tersebut sekitar 50 ribu orang. Namun, saat vaksinasi mulai diperkenalkan, jumlah penderita difteri melonjak hingga 150 ribu orang di tahun 1939.

Kasus lainnya yang kurleb sama adalah di Nigeria, dimana vaksinasi anti Polio secara gencar dipromosikan pada 2005 silam, akhirnya malah memicu eskalasi penyakit tersebut di negara Afrika tersebut. (http://jvi.asm.org/content/87/9/4907.abstract)

Dan ini nggak hanya terjadi pada masa modern saat ini.

Pada Perang Dunia I, misalnya, dimana menurut jurnalis sains Hans Tolzin, pandemi flu Spanyol (yang sukses membunuh hingga puluhan juta orang) justru ‘diinisiasi’ oleh vaksinasi massal cacar dan tipus yang dilakukan pada markas-markas  militer milik AS. (http://www.seuchen-erfinder.de/)

Tentang ini saya pernah bahas sebelumnya. (baca disini)

Masih banyak kasus lainnya, yang kalo saya rinci satu persatu, nggak akan cukup untuk saya tuliskan pada analisa saya kali ini.

Menanggapi ini, Robert F. Kennedy Jr menyatakan bahwa “hampir semua vaksin blockbuster di Afrika dan Asia yang diusung oleh BG (dari mulai cacar, malaria, Polio, meningitis hingga HPV) malah menyebabkan lebih banyak cedera dan kematian daripada yang seharusnya bisa dicegah.” (https://www.simonandschuster.com/books/The-Real-Anthony-Fauci/Robert-F-Kennedy/Children-s-Health-Defense/9781510766808)

Singkatnya, vaksinasi yang diuapayakan malah mendatangkan masalah baru karena terbukti nggak efektif dan cenderung kontraproduktif.

Jadi apa yang harus dilakukan jika bukan vaksin sebagai solusinya?

Merujuk pada pengalaman di Eropa, dimana sebagian besar penyakit menular justru menurun sebelum vaksin diperkenalkan karena adanya intervensi berupa peningkatan kondisi hidup higienis, sanitasi yang memadai dan juga kecukupan pangan plus vitamin. (https://www.seanet.com/~alexs/ascorbate/195x/mccormick-wj-arch_pediatrics-1951-v68-n1-p1.htm)

Selain itu, intervensi gizi yang baik juga berperan penting dalam menghentikan laju pandemi. Kasus di India mungkin bisa dijadikan rujukan, dimana program perbaikan gizi dapat mengurangi dampak kematian yang diakibatkan oleh TBC. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4457886/pdf/pone.0128187.pdf)

Ini baru kebijakan rasional yang seharusnya diambil dan bukan sedikit-sedikit malah ambil jalan pintas yang ujung-ujungnya malah meningkatkan status pandemi. (baca disini dan disini)

Tapi kan, kalo nggak pakai program enjus massal, gimana TGR bisa dijalankan?

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!