Skandal Kogan


506

Skandal Kogan

Sudah ada 3 tahunan ini, saya perhatikan sosial media, utamanya fesbuk. Ada mainan disana, yang namanya tes kepribadian. Nama kerennya “My Personality”. Intinya pengguna fesbuk ditantang untuk mengungkap tipe kepribadiannya melalui tes ini. Dan aplikasi ini lumayan viral.

Tapi entah kenapa, saya nggak pernah tertarik. Pikir saya sederhana, kepribadian saya tidak untuk konsumsi publik.

Dan tahun 2018 ini, kemudian terungkap mega skandal Cambridge Analytica atau skandal Kogan, yang sukses dibongkar oleh reporter Channel 4 News.  Apa sih skandal itu?

Sebelum saya terangin lebih jauh, saya mau kenalin siapa itu Kogan. Bernama lengkap Aleksandr Kogan, Kogan merupakan profesor psikologi sosial di Universitas Cambridge. Dia kemudian mengembangkan aplikasi, yang bernama thisisyourdigitallife.

Nah, dari aplikasi ini seorang pengguna fesbuk ditawarkan untuk mengikuti tes kepribadian yang hasilnya di-publish di laman personal sang pengguna fesbuk. Bahkan pada awal-awal pengguna ditawari untuk mengikuti tes tersebut dengan diberi imbalan. Siapa yang nggak kepicut?

Modus awalnya, Kogan merekrut beberapa orang sebagai starter-nya. Setelah dilihat oleh pengguna fesbuk yang lain, maka wan bai wan, fesbukers ikutan ngisi tuh kuis. Mana ada imbalan uang, lagi.. Makin gelap matalah, utamanya emak-emak dan abegeh!!

Sampai sini yang dilakukan oleh Kogan, sah-sah aja. Tapi yang dilakukannya kemudian, menyalahi aturan protokol API alias Application Programming Interface. Data yang diperoleh Kogan dari pihak pengguna bukan di-keep, eh malah dirampok dan diserahkan ke pihak ketiga.

Parahnya lagi, jejaring pertemanan lewat pengguna fesbuk yang sudah ikutan kuis, semua datanya dijebol. Itu data kemudian disetor ke Cambridge Analytica, yang notabene’nya adalah konsultan politik Donald Trump pada pilpres Amrik di 2016.

Menurut laporan resmi CTO Facebook, Mike Schroepfer, tercatat lebih dari 70 juta fesbukers di Amrik yang datanya digunakan tanpa ijin. Warbiyasah….

Lho, apa pentingnya akses data pengguna? Untuk profiling.

Lewat tes kepribadian, seorang fesbuker akan dipilah menjadi 5 kriteria pengguna, yang dijadikan target kampanye nantinya. Ada ekstraversi, keterbukaan pikiran, neurotisme, sifat cautious, dan sifat penurut.

Nah, menurut konsultan politik, kampanye akan sangat efektif jika sesuai dengan profile orang yang ditarget, istilah kerennya personalized campaign.  Misalnya profile seorang yang memiliki pikiran open-minded, sangat cocok dikasih materi kampanye yang sifatnya argumentatif. Jangan kasih materi kampanye yang berkaitan dengan isu nasionalisme. Gak mecink, bro…

Singkat kata, melalui modus kuis psikologi buatannya, Kogan berhasil membobol 70 juta akun fesbukers Amrik dengan cara cepat, murah dan berkualitas. Dan Trump pun menang. Kurang apalagi Coky..??

Melalui skandal Kogan, setidaknya kita bisa belajar 2 hal.

Pertama, jangan mudah tertarik pada iming-iming ataupun tantangan untuk mengisi tes kepribadian di dunia maya. Apalagi ngasih data pribadi. Bisa kacau, nenk!!

Kedua, bagi tim pemenangan Jokowi hendaknya mulai berbenah dari sekarang. Kalo kampanye bukan lagi soal program, tapi lebih pada hal personal. Maksudnya kampanye politik bukan lagi siapa kandidat yang kompeten, atau proramnya realistik apa nggak, tapi lebih kepada apa yang bisa menarik perhatian pemilih.

Sensasional, itu kata kuncinya. Maka jangan heran, demi mendulang suara pemilih, kemasan jauh lebih penting dari kompetensi kandidat, apalagi program-nya. Apalagi dengan sentuhan-sentuhan “ayat agama”. Sukses maksimal dahh…

Semoga skandal Kogan cukup terjadi di Amrik ajah!!

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah mantan Aktivis 98 GEMA IPB)

 

 

 

 

 

 


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!