Siapa Bermain di Haiti? (*Bagian 1)

In Politik

Siapa Bermain di Haiti? (*Bagian 1)

Oleh: Ndaru Anugerah

Siapa nggak kenal mantan presiden diktator Haiti, Jovenel Moise? Mantan presiden tersebut bisa berkuasa pada 2016 silam, karena ada dukungan dari AS dan Kanada.

Namun tak dinyana, sekelompok orang bersenjata berhasil berkonvoi dan merangsek kediaman sang presiden. Padahal yang namanya rumah presiden, penjagaan kurang ketat apa, coba? (https://twitter.com/HaitiInfoProj/status/1413158821116014600)

Kejadian nggak berhenti sampai disitu. Kelompok tersebut kemudian memberondong tubuh sang presiden dengan peluru dan mengakibatkan dirinya tewas pada dinihari (7/7). Sementara istrinya, Martine Mose, terluka berat akibat serangan tersebut. Hanya mereka berdua. (https://nypost.com/2021/07/08/jovenel-moises-body-was-riddled-with-12-bullets-judge/)

Spekulasi merebak, siapa bermain pada kematian Moise? Kok bisa sosok yang disokong AS malah ‘dihabisi’?

Sebelum menjawab teka-teki tersebut, kita harus tahu siapa sosok Moise.

Moise adalah presiden yang kurang populer di Haiti. Sehari sebelum pembunuhan tersebut, Moise sempat menunjuk beberapa kandidat perdana menteri. Salah satunya Claude Joseph yang belakangan memimpin Haiti selepas tewasnya Moise, meskipun dapat tentangan. (https://lenouvelliste.com/article/230284/claude-joseph-nest-pas-premier-ministre-il-fait-partie-de-mon-gouvernement-affirme-ariel-henry)

Sehari sebelum Moise dibunuh, Joseph bertemu dengan Kelompok Inti yang ada di Haiti, seperti: para dubes asing, perwakilan PBB dan OAS. Kelompok Inti inilah yang punya pengaruh kuat dalam ‘mengatur’ jalannya pemerintahan di Haiti. (https://ht.usembassy.gov/press-release-port-au-prince-10-february-2019-the-core-group/)

Nggak aneh setelah pertemuan tersebut, mereka menyatakan bahwa Joseph akan memimpin negara tersebut hingga pemilu September 2021, selepas kematian Moise. (https://www.reuters.com/world/americas/un-special-envoy-haiti-says-joseph-remain-prime-minister-now-2021-07-08/)

Jadi ini skenario ajeg yang akan mengantar Haiti dalam menentukan pemimpin barunya di September mendatang. Tentu saja yang akan dapat ‘restu’ dari Kelompok Inti tersebut.

Kembali ke laptop.

Lalu, kenapa rakyat Haiti menentang kepemimpinan Moise?

Karena Moise terkenal korup. Skandal Petrocaribe yang ditenggarai dilakukan oleh dirinya di tahun 2018 silam, itu salah satunya. Nggak aneh kalo rakyat misqueen malah mendorong agar dirinya turun dari kursi kepresidenan dan hengkang dari negeri tersebut.

Sejak itu, demonstrasi menentang Moise kian marak digelar di Haiti. Dan yang spektakuler adalah aksi pemogokan dengan menutup Port-au-Prince selama sebulan. (https://www.miamiherald.com/news/nation-world/world/americas/haiti/article245045015.html)

Untuk menaggulangi keadaan, Moise terpaksa mengeluarkan dekrit. Terutama saat masa jabatannya habis di 7 Februari 2021 silam sementaranya dirinya menolak untuk mundur dari kursi kepresidenan. (https://www.voanews.com/americas/despite-pressure-haiti-president-wont-resign-feb-7-ambassador-tells-voa)

Sejak itu, suara rakyat dibungkam oleh aksi brutal gank-gank yang didukung oleh pemerintahan Moise. Terutama pada daerah dengan tingkat resistensi tinggi.

Klinik HAM Internasional Harvard merilis laporan bahwa setidaknya ada 240 korban jiwa akibat serangan gank-gank bersenjata yang disokong oleh Moise. (https://hrp.law.harvard.edu/press-releases/report-finds-haitian-government-complicit-in-crimes-against-humanity/)

Pada hari-hari sebelum tewasnya Moise, aksi kekerasan makin parah. Seorang jurnalis kondang, bahkan menjadi korban atas kebrutalan tersebut. (https://www.ledevoir.com/monde/ameriques/614913/une-fusillade-en-haiti-fait-15-morts-dont-un-journaliste-et-une-militante-politique)

Moise berani ambil langkah represif, karena selain AS, pihak Kanada juga mendukung langkah yang diambil dirinya.

Di tahun 2004 saja, AS dan Kanada menyabotase pemilu paling demokratis yang ada di Haiti. Tercatat ribuan pejabat terpilih digulingkan sebelum akhirnya presiden terpilih (Jean Bertrand Aristide) juga dilengserkan. (http://www.dominionpaper.ca/features/2004/08/25/canada_in_.html)

Namun apes. Setelah pemilu digelar, kandidat presiden Rene Preval justru malah memenangkan kursi kepresidenan. Karena nggak selaras dengan Kelompok Inti, akhirnya kepemimpinan Preval-pun dirongrong. (https://www.oas.org/en/media_center/press_release.asp?sCodigo=E-029/06)

Kenapa Preval layak digulingkan?

Karena sikap Preval yang pro wong cilik. Programnya untuk menaikan upah minimum buruh, itu salah satu bukti keberpihakannya. (https://reliefweb.int/report/haiti/haiti-minimum-wage-exacerbates-tensions)

Selain itu, Haiti juga menjalin kerjasama perdagangan minyak dari Venezuela lewat perusahaan Petrocaribe di tahun 2009. Tahu sendiri, kan bagaimana sikap AS terhadap Venezuela? (https://www.thenation.com/article/archive/wikileaks-haiti-petrocaribe-files/)

Selain AS, Kanada juga berkontribusi terhadap jalannya pemerintahan di Haiti.

Sokongan Ottawa pada Haiti juga tampak saat senator PTHK Rony Celestin menyembunyikan jutaan dollar dalam bentuk properti di Montreal. Padahal uang buat beli properti tersebut didapat dari korupsi. (https://rabble.ca/news/2021/02/canadas-contribution-political-corruption-haiti)

Jadi jangan heran kalo sosok seperti Celestin yang dijadikan pejabat berwenang atas inisiatif Kanada, selepas kudeta yang menyasar Aristide di tahun 2004.

Sampai sini, saya harap anda paham duduk masalahnya, setidaknya tentang pihak-pihak yang berkepentingan terhadap kepemimpinan di Haiti.

Pertanyaannya, kenapa sosok sekelas Moise ‘dihabisi’? Bukankah ada bekingan AS pada kepemimpinannya? Siapa yang berkepentingan atas ‘lenyapnya’ Moise? Ada apa di Haiti kok kerap didera konflik berkepanjangan?

Pada bagian kedua nanti saya akan membahasnya.

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu