Riak di Haiti (*Bagian 2)


519

Riak di Haiti (*Bagian 2)

Oleh: Ndaru Anugerah – 27032024

Pada bagian pertama tulisan kita telah membahas bagaimana suksesi kepemimpinan yang ada di Haiti terjadi, selepas pemimpin boneka AS berkuasa selama hampir 3 dekade. (baca disini)

Selanjutnya kepemimpinan nasional jatuh ke tangan Aristide yang notabene-nya sosok yang pro wong cilik dan terpilih secara demokratis. Setelah menjabat, Aristide langsung gaspol menggelar beberapa agenda reformasi, yang tentu saja buat kartel Ndoro besar gerah.

Ujungnya, Aristide dikudeta pada September 1991.

Namun aksi kudeta tersebut nggak membuat seorang Aristide kapok, karena dirinya nekat ikutan kontestasi kembali menuju kursi kepresidenan.

Pada pemilu Februari 2001, dirinya kembali terpilih. Tapi sayangnya, itu hanya 3 tahun saja, karena pada akhir Februari 2004, Aristide kembali dikudeta oleh kaki tangan AS, yang memaksanya hengkang ke Afrika Selatan dan hidup dalam pengasingan. (https://www.aljazeera.com/news/2004/6/1/aristide-arrives-for-exile-in-sa)

Dan terakhir, presiden Ariel Henry juga mengalami nasib yang sama, dimana kepemimpinannya coba digoyang oleh geng bersenjata Barbekyu pimpinan Jimmy Cherizier. (https://www.washingtonpost.com/world/2024/03/14/who-is-barbecue-jimmy-cherizier-haiti-gang/)

Kekacauan demi kekacauan sengaja terjadi, apa tujuan sebenarnya?

Jawabannya, karena Haiti kaya sumber daya alam. Layaknya negara-negara di Afrika yang kerap dilanda kekacauan, sumber masalahnya juga sama yakni kekayaan sumber daya alamnya, utamanya emas, perak dan tembaga.

Tentang ini pernah saya bahas 3 tahun yang lalu saat presiden Moise diberondong pasukan bersenjata di kediamannya. (baca disini dan disini)

Tapi bukan hanya itu kekayaan alam Haiti.

Maksudnya?

Baik AS, Perancis dan Kanada sudah lama tahu bahwa Haiti juga kaya akan minyak dan gas-nya. Dan itu sudah mereka ketahui lama sebelum rakyat Haiti sadar akan hal ini.

Berdasarkan laporan yang dibuat Komisi Ekonomi untuk Amerika Latin dan Karibia (ECLAC) di tahun 1980, Karibia memiliki cadangan minyak dalam jumlah besar, termasuk lepas pantai Port-au-Prince yang ada di Haiti. (https://repositorio.cepal.org/server/api/core/bitstreams/c5491687-3b95-4f39-b0b5-85040f546446/content)

Bahkan Haiti sendiri diklaim memiliki kandungan gas alam lepas pantai bernilai triliunan dollar, melebihi kandungan minyak yang ada di Venezuela. (https://tfiglobalnews.com/2022/11/02/haiti-has-trillions-of-dollars-worth-of-natural-gas-but-the-west-doesnt-allow-it-to-prosper/)

Sasus beredar bahwa informasi ini sudah beredar sejak tahun 1970an, yang konon berdasarkan citra satelit yang didapat AS. Namun hanya kalangan terbatas yang tahu informasi ini.

Lantas masalahnya dimana?

Untuk biaya eksplorasi yang dibutuhkan, membutuhkan biaya investasi yang tidak sedikit. Dan investor agak berpikir kalo harus merogoh kocek lebih dalam.

Satu-satunya cara agar dapat menekan biaya eksplorasi adalah mengharapkan keajaiban. “Minyak bisa terangkat ke permukaan jika terjadi gempa bumi yang dapat menghancurkan lempeng tektonik, sehingga tekanan mampu mengangkatnya ke tempat yang lebih dangkal,” begitu kurleb-nya.

Anehnya, keajaiban yang dinanti investor-pun terjadi.

Pada Januari 2010, gempa bumi berkekuatan 7.0 skala Richter menghantam Haiti. Akibat bencana alam ini, ibu kota Port-au-Prince hancur lebur dan setidaknya 220 ribu penduduk dinyatakan meninggoy serta lebih dari 300 ribu orang terluka parah. (https://www.dec.org.uk/article/2010-haiti-earthquake-facts-and-figures)

Itu sisi buruknya. Sedangkan sisi baiknya, akibat gempa dahsyat tersebut, maka otomatis kandungan minyak yang ada di Haiti menjadi terangkat ke permukaan. Dan ini menguntungkan secara ekonomis, karena biaya eksplorasi menjadi lebih sedikit.

Ini sebenarnya yang membuat AS menetaskan air liur saat menangani Haiti. Dengan kandungan minyak dan gas yang demikian ‘aduhai’, siapa yang nggak klepek-klepek dibuatnya?

Makanya saat upaya rekonstruksi Haiti dilakukan pasca gempa, bantuan asing langsung berdatangan. Ini dilakukan bukan hanya untuk misi kemanusiaan, tapi ada juga sisi bisnis yang kelak akan dijalankan.

Anda jangan terlalu naif melihat bantuan hanya sekedar bantuan. Agak kritis sedikit dalam melihat situasi ini.

Misalnya saat Clinton Foundation memberikan bantuan ‘kemanusiaan’ bagi Haiti, nyatanya justru kekacauan demi kekacauan yang terjadi. Lantas mana sisi kemanusiaan yang dijanjikan? (https://www.theguardian.com/world/2019/oct/11/haiti-and-the-failed-promise-of-us-aid)

Berdasarkan catatan, selain menghancurkan kebijakan pertanian yang ada di Haiti (utamanya pada produksi beras), Clinton Foundation juga ‘merampok’ sumbangan jutaan dollar dari donatur internasional yang sedianya dipakai untuk pemulihan Haiti. (https://canada-haiti.ca/content/how-clintons-robbed-and-destroyed-haiti)

Dengan kata lain, kekacauan demi kekacauan yang ada di Haiti memang sengaja diciptakan agar negara tersebut nggak bisa membentuk pemerintahan yang legitimate. Dengan adanya kekacauan, boro-boro mikirin soal cadangan migas, lha wong sekarang masih bisa hidup nggak ditembak geng Barbekyu aja udah syukur Alhamdulillah.

Di sisi yang lain, kartel sang Ndoro besar siap-siap menjalankan rencananya guna mengeksplorasi migas yang ada di Haiti secara besar-besaran.

In the mean, kasian nasib Ariel Henry yang semula Bang Thoyib, kini dipaksa lengser oleh geng Barberkyu. (https://www.msn.com/en-us/news/world/prime-minister-ariel-henry-steps-down-amid-haiti-s-intensifying-turmoil/ar-BB1jXRza)

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!