Sang Penantang Libra

In Ekonomi

Sang Penantang LIBRA

Oleh: Ndaru Anugerah

Pandemi COVID-19 memang belum berakhir. Tapi bukan berarti skema masa depan harus terhenti juga karena adanya halangan tersebut. Dan inilah yang terjadi pada China saat ini. Tentang hal ini saya pernah ulas dalam tulisan sebelumnya. (baca disini)

Dan yang paling gres, China kembali membuat gebrakan dengan meluncurkan mata uang digital barunya, yang bernama DCEP alias Digital Currency Electronic Payment beberapa hari yang lalu.

Praktis DCEP menjadi mata uang digital berdaulat pertama di dunia yang dirilis oleh People’s Bank of China (PBOC). Kata berdaulat menegaskan bahwa bank sentral-lah yang akan menyokong penggunaan DCEP sebagai alat transaksi pembayaran, dengan cadangan emas.

Sebagai informasi, PBOC memiliki cadangan emas per Oktober 2019 yang lalu sebesar 1948 ton. Angka yang fantastik.

Menurut informasi, uji coba penerapan akan dilakukan di kota Suzhou sebelah Barat kota metropolitan Shanghai. “Semua transaksi wajib menggunakan DCEP, dan penggunaan uang kertas adalah illegal,” demikian pernyataan pihak yang berwenang di China.

Sebenarnya uang digital ini bukan barang baru, karena sejak 2014 China sudah lama merencanakan hal tersebut. Awalnya akan dieksekusi pada akhir 2019 yang lalu. Tapi jadi tertunda karena keburu dihantam kasus Wuhan.

Lantas apa sebenarnya DCEP tersebut?

DCEP digunakan sebagai alat transaksi pembayaran. Jadi pada prinsipnya sama dengan uang yang biasa kita pakai, namun bentuknya digital. Disamping itu, penggunaan DCEP otomatis dapat menekan biaya ekonomi tinggi.

“Mang lu pikir biaya nyetak uang dan investasi teknologi anti pemalsuan uang, murmer?”

Apakah DCEP sama dengan bitcoin?

Bitcoin yang dirilis pertama kali di dunia oleh Satoshi Nakamoto pada 2009 yang lampau, didasarkan pada visi teknologi yang sifatnya utopis.

Maksudnya?

Nakamoto bercita-cita tentang adanya mata uang global yang terdesentralisasi lepas dari kunkungan bank sentral, namun memberikan keamanan dan anonimitas yang tinggi. Pada praktiknya, apa yang dicita-citakan Nakamoto nggak lebih dari sekedar khayalan belaka.

“DCEP akan menggunakan teknologi blockchain seperti halnya bitcoin (cryptocurrency), namun beda secara prinsip,” begitu kurleb penjelasan Terry Liu selaku CEO VenoChain Technology.

Pertama, kalo bitcoin sifatnya terdesentralisasi dan dikendalikan oleh suatu algoritma, namun DCEP sifatnya justru terpusat yang diatur oleh negara melalui sistem moneter. Jadi fungsinya sangat mirip dengan uang kertas tradisional, dengan nilai yang tidak fluktuatif.

Jadi teknologi blockchain digunakan, tapi dikendalikan oleh pemerintah.

Lagian, bitcoin bertentangan dengan prinsip yang dianut oleh bank sentral dan institusi keuangan lama. Nggak heran kalo China melarang keras penggunaan bitcoin sejak 2017 yang lalu.

Kedua, bitcoin (cryptocurrency) memungkinkan capital flight alias pelarian modal dari suatu negara dengan cara anonim. Dan ini sangat bertentangan dengan kampanye anti-korupsi yang kerap digadang-gadang Xi Jinping. Koruptor akan bisa melarikan uang ke luar negeri dengan sistem bitcoin.

Lantas apa motivasi China mengeluarkan DCEP?

Pertama ingin menghadang laju mata uang digital Libra, yang akan diluncurkan oleh Facebook pada akhir 2020 nanti. Libra sendiri merupakan token digital yang digunakan untuk transfer uang di dunia maya serta untuk belanja di merchant-merchant rekanan Facebook.

Untuk mendapatkan dan menggunakannya, kita harus membeli token terlebih dulu di bursa cryptocurrency, lalu menyimpannya pada dompet digital. Bila ini sukses, maka Facebook yang telah menjangkau seperempat penduduk dunia, akan ongkang-ongkang kaki meraih untung lewat sistem Libra.

Kedua China ingin memisahkan diri dari belenggu dollar AS yang selama ini digunakan sebagai hard currency di seantero jagat.

Masalahnya sejak 1970-an, dollar AS merupakan fiat money alias mata uang yang tidak dicadangkan oleh emas. Kenapa bisa demikian?

Karena adanya sistem petrodollar dimana semua pembayaran transaksi minyak, harus pakai dollar. Aliasnya, uang dicetak terus menerus oleh The Fed, tanpa ada cadangannya, alias modal bodong. (baca disini)

Dan ketiga, tentu saja China ingin mengamankan jalur sutra-nya, dengan mata uang digital DCEP yang dibesutnya. Dengan kata lain, DCEP memungkinkan China untuk maju ke era digital, sambil tetap pegang kendali atas instrumen keuangannya lewat jalur BRI-nya.

Lalu apa keunggulan dari DCEP?

Pertama, DCEP bisa beroperasi tanpa jaringan internet karena menggunakan teknologi NFC (Near Field Communication). Cukup menyentuh kedua perangkat digital, maka transaksi bisa berjalan. Yang penting kita punya dompet digital.

Ini sangat berguna saat situasi ekstrim seperti gempa bumi, saat pergi belanja ke supermarket bawah tanah yang susah jaringan internet, saat berada di atas pesawat, atau saat berada di lokasi yang tidak terjangkau jaringan internet.

Kedua, dari segi hukum, keamanan DCEP sangat terjamin karena adanya bank sentral sebagai penjamin. Kalo kita pakai Alipay atau WeChat Pay untuk pembayaran elektronik, saat perusahaan tersebut bangkrut, siapa yang akan menjamin uang kita di dompet digital mereka? Wong nggak ada asuransinya.

Dan yang ketiga, untuk mengatasi uang illegal, seperti money laundry, penipuan, perjudian, penggelapan pajak ataupun pendanaan terorisme.

Ini bisa dimungkinkan, karena penggunaan Big Data dalam operasi DCEP.

Aliasnya, transaksi dalam jumlah besar yang biasanya bersifat anomim, bisa dengan mudah dilacak keberadaannya. “Semua transaksi illegal, punya modus yang sama dalam implementasinya.”

Bayangkan jika DCEP meraih sukses dalam implementasinya (karena nilainya stabil dan digunakan secara internasional), siapa yang akan kebakaran jenggot?

Lagian, akhir dari pandemi COVID-19 kemana lagi selain salah satunya skema penggunaan uang digital yang dibesut oleh klan Rothschild.

“Bang, bagaimana nasib dollar ke depannya?”

Masih nanya aja dehh…

 

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah mantan Aktivis 98 GEMA IPB)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

You may also read!

Fake Pandemic, Fake News (*Bagian 2)

Fake Pandemic, Fake News (*Bagian 2) Oleh: Ndaru Anugerah Pada bagian pertama saya sudah mengulas tentang bagaimana fake pandemi bisa dimunculkan,

Read More...

Fake Pandemic, Fake News (*Bagian 1)

Fake Pandemic, Fake News (*Bagian 1) Oleh: Ndaru Anugerah “Kalo ini merupakan pandemi palsu, lalu orang yang mati sudah ratusan ribu

Read More...

Bagaimana Vaksin Berbasis m-RNA dikembangkan?

Bagaimana Vaksin Berbasis m-RNA Dikembangkan? Oleh: Ndaru Anugerah “Bagaimana bentuk vaksin Big Pharma yang kini tengah dikembangkan oleh perusahaan farmasi Moderna?”

Read More...

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu

This Site is Hosted By iJoo