Poros Imaginer


507

Pernah main kartu Black Jack? Semua pemain, pasti akan simpan kartu-nya rapat-rapat. Tujuannya satu, agar bandar tak mengetahui apa langkah selanjutnya. Tiba-tiba, kartu black jack pun muncul dan langsung ditutup dengan kemenangan.

Dalam perpolitikan saat ini, kurang lebih strategi yang dimainkan, mirip-mirip main Black Jack. Semua serba rahasia, sampai saatnya tiba. Dan yang dipertontonkan kepada publik siapa paslon capres-cawapres masing-masing kubu, juga sama. Semua saling keep, sampai saat yang pas untuk beraksi.

Kenapa ini bisa terjadi?

Dalam politik, kerahasiaan adalah keniscayaan. Makin rahasia, makin menarik untuk diikuti. Ibarat nonton aksi Dr. Bernard Mahfoudz alias Johny Sins yang langsung jebrat-jebret, pasti kurang berseni dan cepat bosan ngeliatnya. Tapi coba kalo nonton striptease, akan beda ceritanya. Ada aroma penasaran untuk menanti helai demi helai dihempaskan…

Jelang pilpres, publik dibuat mereka-reka, siapa lawan siapa nantinya? Dan selaku player, Pakde tahu betul situasinya. Nggak heran kalo beliau mengulur waktu untuk menetapkan siapa cawapres-nya.

Apa yang terjadi kemudian?

Segala manuver pendukung maupun pesaingnya, makin blingsatan. Bahkan saking ngebetnya untuk mengkerek AHY, pihak Pepo-pun langsung bereaksi sampai mengancam Pakde segala, jika cawapres-nya tidak kunjung diumumkan dalam waktu dekat.

Tentang siapa paslon yang akan bertanding, saya sudah ulas pada tulisan saya terdahulu. Cuma ada yang bertanya kepada saya, apa nggak mungkin munculnya paslon alternatif sebagai poros ketiga?

Istilah poros ketiga, makin santer didengungkan sama PKS menuju pilpres 2019 nanti. Apa targetnya? Agar pilpres bisa berjalan 2 putaran, dan skenario pilkada DKI-pun bisa terulang. Akan ada aksi masif jualan ayat dan politisasi mayat. Dan ibarat sinetron, Pakde bakal keok diakhir cerita.

Bukan Pakde namanya, kalo bisa jatuh ke lubang yang sama. Disitulah diperlukan ahli strategi yang bisa memuluskan langkah tersebut. Dengan dipasangnya sang Jenderal Moeldoko, langkah pembentukkan poros ketiga menjadi imaginer alias khayalan semata.

Tapi, partai Gerindra akan terus bermanuver sampai last minute, agar Om Wowo nggak ditiggal. Dan Sabtu kemarin (14/7) adalah jawabannya. Setelah bertemu dikediaman Om Wowo untuk sepakat mengusung mantan danjen Kopassus tersebut, eh selang 4 jam, PKS merevisi bahwa dukungan itu bukan-lah kesepakatan.

Pragmatis, adalah kata kuncinya bagi PKS. Gimana mau nyapres, kalo dana aja nggak punya.” Jangan harap ada sokongan, kalo akhi lagi bokek.” Dan Om Wowo siap-siap depresi berat. Pasal dia yang kebelet, tapi orang lain yang berhasil boker.

Tak kalah taktik, pedekate ke PKB-pun, coba ditempuh. Tapi yah, gitu dehh… Bagi cak Imin, untung rugi pasti sudah jadi pertimbangan.

“Iya kalo menang jadi cawapres, kalo kalah? Boncos yang ada.. Uang sudah melayang, posisi di pemerintahan nggak dapat sama sekali. Mending yang pasti-pasti aja, dukung pakde, dan kue kekuasaan minimal bisa didapat, walau secuil,” begitu kilah cak Imin.

Bisa disimpulkan, poros ketiga-pun akan segera menemui ajalnya, bahkan sebelum kelahirannya. Dan Om Wowo bisa dipastikan bakal siap nangis Bombay meratapi nasibnya.

“Bukankah pernah terdengar kabar kalo Prabowo akan disandingkan dengan Jokowi di 2019?” tanya seorang kolega.

“Benar, tapi itu. Dulu..dulu sekali,” kataku. Saat itu bang Luhut Binsar berinisiatif menawarkan Om Wowo untuk menjadi tandem Pakde tanpa harus repot-repot keluar modal. Apa lacur, tawaran ditampiknya dan lebih mengikuti syahwat berkuasa-nya.

Jangan sedih ya Om. Ntar para kamfret jadi melow. Mendingan dengerin kata si Bibib, “Kalo Om Wowo gagal nyapres, bidan-nya siapa?”

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah mantan Aktivis 98 GEMA IPB)


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!