Memangnya Aman?


508

Memangnya Aman?

Oleh: Ndaru Anugerah

Pertanyaan sederhana: apakah mobil listrik aman untuk digunakan? Pertanyaan ini layak untuk dilontarkan karena selama ini kita hanya dengar bahwa mobil listrik bersifat ramah terhadap lingkungan. Nggak pernah ada tinjauan keamanan bagi penggunanya, bukan?

Pada Februari silam, ada kapal kargo Felicity Ace, yang mengangkut sekitar 4000 mobil listrik dengan nilai valuasi sekitar USD 438 juta. Masalah muncul saat kapal kargo tersebut terbakar dan apinya nggak juga padam sampai sekitar seminggu lamanya.

Apa penyebabnya?

Karena baterai lithium yang jadi sumber energi mobil listrik tersebut, yang hanya bisa padam kalo semuanya sudah habis terbakar. (https://daydaynews.cc/en/technology/4-000-luxury-cars-caught-fire-at-sea-goubuli-started-selling.html)

Kasus serupa juga terjadi di Victoria, Australia pada Juli 2021 silam, dimana fasilitas penyimpanan baterai lithium-ion Tesla Megapack terbakar dan apinya baru bisa padam dengan sendirinya, setelah 3 hari. (https://www.cnbc.com/2021/07/30/tesla-megapack-caught-fire-at-victorian-big-battery-site-in-australia.html)

Atas kejadian ini, Robin Mitchell selaku pakar teknologi EV menyatakan, “Bahaya paling signifikan dari bateri lithium-ion adalah begitu terbakar maka hampir tidak mungkin untuk dipadamkan. Api yang dipicu olehnya, terlalu sulit untuk dikendalikan. Itu hanya cocok untuk smartphone,” (https://www.electropages.com/blog/2021/08/evidence-against-lithium-ion-storage)

Sebenarnya soal baterai lithium, bukanlah hal yang baru.

Coba anda naik pesawat, pasti nggak boleh menyalakan laptop dengan baterai yang memiliki daya lebih dari 100 Watt jam, bukan? Kenapa? Karena apa yang dikemukakan Mitchell, bisa jadi salah satu penyebabnya.

Atau misalnya tindakan yang diambil Dell ketika menarik 4,1 juta beterai lithium bagi perangkat laptopnya di tahun 2006 silam. (https://www.cnet.com/tech/computing/dell-to-recall-4-million-batteries/)

Tindakan yang sama juga dilakukan oleh Hewlett Packard dengan menarik lebih dari 100 ribu laptop di tahun 2019 silam, karena risiko kebakaran yang dapat ditimbulkan dari baterai lithium yang ada pada perangkatnya. (https://www.which.co.uk/news/2019/03/hp-recalls-more-laptops-affected-by-battery-fire-risk/)

Semua punya kesamaan kasus dimana penggunaan baterai lithium pada perangkat elektronik, punya segudang masalah saat dipakai.

Itu perangkat elektronik yang kecil ukurannya. Makin besar perangkatnya, maka risiko ketidakamanan-nya juga makin tinggi. Dan ini butuh biaya besar untuk menanggulanginya.

Misalnya saat kebakaran yang disebabkan baterai lithium pada kendaraan Chevrolet Bolt, perusahaan harus keluar kocek sekitar USD 2 milyar sebagai biaya risikonya. (https://www.detroitnews.com/story/business/autos/general-motors/2021/10/12/gm-reaches-deal-lg-pay-bolt-battery-recall-costs/6101042001/)

Audi juga punya masalah yang sama dengan baterai lithium pada kendaraannya, sehingga harus menarik SUV E-Tronnya dari peredaran. (https://www.theverge.com/2019/6/10/18659983/audi-etron-recall-battery-fire-risk.)

Bahkan sekelas Tesla, dipaksa mengeluarkan dana yang nggak sedikit akibat penggunaan baterai lithium pada kendaraan listriknya yang dianggap nggak layak untuk digunakan oleh pengadilan. (https://www.thedrive.com/news/28420/parked-teslas-keep-catching-on-fire-randomly-and-theres-no-recall-in-sight)

Jadi pertanyaan tentang keamanan dari baterai lithium sebagai sumber energi hijau, silakan anda simpulkan sendiri lha ya.

Anehnya, media mainstream seolah tutup masalah akan masalah ini. Sebaliknya, mereka malah mempromosikan baterai hijau tersebut, sebagai sumber energi masa depan yang sama sekali bebas risiko. Kan konyol. (https://www.bbc.co.uk/ideas/videos/how-the-humble-battery-can-help-save-the-world/p0b26hq1)

Tapi tenang saja. Masih ada kok manusia yang punya pikiran waras, Salah satunya YouTuber kondang asal Inggris yang bernama Tim Burton alias Shmee.

Dalam sebuah konten miliknya, dia mneyatakan telah mengganti Porsche listrik miliknya dengan Ferrari V12 bertenaga mesin, karena menurutnya lebih ramah lingkungan. (https://www.youtube.com/watch?v=uBisO3qGSh8)

Kok bisa?

Bukankah selama ini kita dicekokin kalo mobil listrik itu adalah kendaraan dengan emisi karbon yang sangat rendah atau bahkan zero carbon?

Burton mengutip penelitian yang dirilis Volvo pada KTT iklim COP26 di tahun lalu.

Menurut penelitian yang dibuat oleh Andrea Egeskog dari Sustainability Center milik Volvo, mobil bertenaga mesin ternyata menghasilkan emisi karbon 40% lebih rendah ketimbang mobil listrik, yang keduanya adalah produk Volvo.

“Jika anda berkendara di bawah 93.000 mil, anda akan menghasilkan emisi karbon yang lebih besar jika anda menggunakan mobil listrik ketimbang mobil bertenaga bensin,” begitu kurleb-nya. (https://www.volvocars.com/images/v/-/media/applications/pdpspecificationpage/xc40-electric/specification/volvo-carbon-footprint-report.pdf)

Dengan demikian, kalo seorang Burton mau mengganti mobil listriknya dengan mobil bertenaga bensin, salahnya dimana? Bukankah mobil listrik saat ini adalah kendaraan yang sengaja didesain untuk daerah perkotaan yang jarak tempuhnya nggak sampai ribuan mil?

Kalo tetiba ada slogan bahwa mobil listrik adalah kendaraan masa depan bebas karbon, silakan dijawab: itu fakta atau dongeng?

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!