Ketika Jalan Pintas Ditelikung


523

Ketika Jalan Pintas Ditelikung

Oleh: Ndaru Anugerah

Setidaknya pada belakangan ini, sudah 2 kali media mainstream menurunkan berita yang intinya menyudutkan Rusia. Pertama tentang niatan Rusia untuk mencuri rumusan vaksin C19 yang dibuat farmasi Inggris (16/7). (http://web.archive.org/web/20200716131232/https://www.theguardian.com/world/2020/jul/16/russian-state-sponsored-hackers-target-covid-19-vaccine-researchers)

Dan yang kedua, Rusia dituduh telah memberikan ‘hadiah’ kepada para prajurit NATO yang bertugas di Afghanistan, dengan cara menyewa pembunuh bayaran. (https://www.nytimes.com/2020/07/01/world/asia/afghan-russia-bounty-middleman.html)

Dari kedua berita recehan tersebut, yang pertama yang paling santer dihembuskan. Kenapa disebut berita recehan? Karena isi beritanya hanya opini tanpa menyajikan fakta yang berfungsi sebagai alat bukti. Dengan kata lain, beritanya lebih ke propaganda ketimbang pemaparan fakta di lapangan.

Saya coba jelaskan.

Pada artikel yang diturunkan Guardian, tidak ada disebutkan tentang sumber atau referensi berita. Nggak ada juga tautan yang mendukung. Hanya ada pernyataan sepihak pejabat pemerintah Inggris yang tidak ada konfirmasi dari pihak yang dituduhkan. Jadi buktinya nggak ada.

Kedua menyangkut motif yang dituduhkan. Apa motif Rusia mencuri informasi tentang vaksin C19? Apa Rusia akan membajak lalu menjual vaksinnya kepada masyarakat dunia? Apa Rusia kekurangan sumber daya untuk mengembangkan riset berbasis sains, sehingga harus mencuri?

Dan ini tidak diverifikasi oleh Guardian.

Lantas apa motivasi utama media mainstream sekelas Guardian menurunkan berita tersebut?

Pertama, agar persepsi masyarakat internasional diarahkan bahwa Rusia adalah musuh dunia. “Kami yang mati-matian mengembangkan vaksin demi menyelamatkan umat manusia, eh Rusia enak aja mencurinya demi kepentingan pribadi negaranya,” begitu kurleb skenario-nya.

Kedua, apalagi tujuannya selain mempromosikan vaksin. “Vaksin kami sangat baik dan terbukti manjur. Nggak heran kalo Rusia mencurinya,” kurleb-nya begitu. Ini perlu dilakukan, mengingat sudah mulai banyak orang yang mulai sadar akan program vaksinasi global plus yang elite global usung.

Dan ketiga, bahwa si Kopit adalah ancaman serius masyarakat dunia. Makanya Rusia mati-matian mencuri formula vaksinnya, karena virus Corona amat berbahaya bagi umat manusia. Nyatanya, si Kopit sama sekali nggak berbahaya bagi kebanyakan orang. (https://off-guardian.org/2020/05/15/watch-uk-chief-medic-confirms-again-covid19-harmless-to-vast-majority/)

Lalu, apa yang sebenarnya terjadi? Saya sajikan supaya anda paham duduk masalahnya.

Faktanya, Rusia telah mengembangkan lebih dari 30 varian berbeda dari 17 kandidat vaksin SARS-CoV-2. Bahkan 3-4 diantaranya akan memasuki tahap produksi. Tapi karena sengaja nggak mau diekspos, beritanya jadi nggak pernah terdengar. (https://tass.com/society/1178839)

Siapa yang menyelenggarakan penelitian terhadap vaksin si Kopit? Universitas Sechenov di Moskow yang menggelar penelitiannya. “Rencananya pada Agustus 2020, kami akan meluncurkan vaksin yang siap pakai.” (https://tass.com/russia/1180037)

Bukan itu saja, Rusia juga sudah membuat obat si Kopit yang diberi nama Koronavir, dan rencananya dirilis pada Agustus ini. (https://tass.com/society/1179063)

Selama ini, Pusat Penelitian dan Pengobatan Klinik Universitas Sechenov bertanggungjawab terhadap uji klinis vaksin C19 intramuskuler (baik cair maupun bubuk). Kepala Dana Investasi Langsung Rusia – Kirill Dmitriev – mengatakan, “Kami memiliki infrastruktur yang cukup untuk mengembangkan vaksin.”

Apa yang telah dilakukan Universitas Sechenov terhadap pengembangan vaksin si Kopit?

Universitas Sechenov telah melakukan uji klinis pada 38 sukarelawan sehat. Pertama 18 orang telah divaksinasi pada 18 Juni silam. Dan kedua 20 orang telah divaksinasi pada 23 Juni silam.

Hasilnya? Yelena Smolyarchuk selaku Kepala Pusat Evaluasi Ahli untuk Produk Obat di Universitas Sechenov mengatakan, “Vaksin kami telah diuji dan terbukti aman bagi pasien.” Dan laporan ujicoba itu sudah sampai ke pihak WHO.

Sebagai informasi, dari 38 orang yang diujicoba vaksin, mereka telah keluar dari RS pada 15 Juli dan 20 Juli silam dalam kondisi baik. Namun mereka tetap berada dalam pengamatan selama setengah tahun untuk memantau apakah mereka mengalami gangguan kesehatan, mengingat vaksin biasanya mempunyai efek jangka panjang bagi penggunanya. (https://www.sechenov.ru/eng/news/227619/)

Dan Ketua Dewan Federasi Majelis Tinggi Rusia, Valentina Matvienko, menegaskan (23/7), “Rusia berencana menggelar vaksinasi sebelum akhir tahun. Dan kami merupakan negara pertama di dunia yang telah mengumumkan vaksin siap pakai karena telah teruji secara klinis.” (https://tass.com/society/1181693)

Dengan kata lain, pemberitaan tentang Rusia yang membajak vaksin C19 dari Barat, jelas mengada-ada. Kenapa? Karena Rusia nyatanya telah memimpin dalam perlombaan buat vaksin si Kopit.

Bagaimana dengan AS sebagai kiblat dunia Barat dalam mengembangkan vaksin?

Walaupun sudah dikasih jalur jalan tol oleh Trump lewat kebijakan Operation Warp Speed, nyatanya vaksin yang dikembangkan bisa dikatakan stagnan. Padahal kebijakan tersebut ibarat bikin tahu bulat, karena tidak melewati uji pra-klinis pada hewan. Jadi langsung by-pass uji coba klinis pada manusia. (http://williamengdahl.com/englishNEO18May2020.php)

Sebagai gambaran Moderna adalah pihak Big Pharma yang memimpin dalam ujicoba vaksin tahap kedua. Namun sayangnya, dari 15 sularelawan yang menerima dosis tinggi, 3 diantaranya terpaksa dirawat inap akibat vaksinasi yang diberikan.

Bahkan kurang dari 12 jam setelah vaksinasi, Ian Haydon (29 tahun) selaku salah satu relawan langsung mengalami kejang otot, muntah, demam tinggi dan akhirnya hilang kesadaran (26/5). Padahal Haydon merupakan sukarelawan terkuat dari kelompok tersebut. Gimana reaksinya terhadap orang yang lebih lemah? (https://www.statnews.com/2020/05/26/moderna-vaccine-candidate-trial-participant-severe-reaction/)

Namun kabar buruknya tidak cukup sampai disitu, mengingat teknologi m-RNA LNP yang digunakan Moderna dengan cara mengedit gen pada vaksin, merupakan teknologi baru dalam medis yang belum ada bukti keberhasilannya. Padahal, vaksin itu punya efek jangka panjang. Kebayang, kalo jangka pendeknya saja sudah demikian parahnya, gimana dengan jangka panjangnya?

Dan Moderna nggak pernah kasih tahu Haydon tentang konsekuensi yang bakal dihadapinya belakangan dikemudian hari. (https://childrenshealthdefense.org/news/modernas-guinea-pig-sickest-in-his-life-after-being-injected-with-experimental-vaccine/)

Dapat disimpulkan, tanpa pemberitaan bombastik, Rusia nyatanya memimpin pengembangan vaksin tanpa jalur cepat ala Trump. Jadi kalo ada tuduhan pembajakan, jelas itu lebay.

Satu yang perlu dicatat, Menkes Rusia – Mikhail Murashko – mengatakan bahwa program vaksinasi itu harus bersifat sukarela, tanpa ada paksaan. Jadi kalo ada yang nggak mau divaksin, negara nggak punya hak untuk memaksakan kehendaknya. (https://www.sechenov.ru/eng/news/227619/)

Jadi Rusia buat vaksin bukan untuk tujuan komersil alias cari untung seperti tudingan media mainstream selama ini.

Hal senada diungkapkan pengacara kondang Alan Dershowitz, “Negara nggak punya hak untuk memaksakan seseorang untuk pakai masker, apalagi divaksinasi.” (https://www.youtube.com/watch?v=EDC_25jZr1E)

 

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!