Kali Ini Siapa Yang Jadi Sasaran Tembak? (*Bagian 1)


546

Kali Ini Siapa Yang Jadi Sasaran Tembak? (*Bagian 1)

Oleh: Ndaru Anugerah – 18052024

“Bang bisa bahas soal demonstrasi anti perang Israel-Gaza, yang tengah terjadi di kampus-kampus elit yang ada di Amerika?” tanya seorang netizen.

Mari kiita bahas.

Seperti yang kita ketahui bersama, gelombang protes terhadap agresi yang dilakukan tentara Israel ke wilayah Gaza, terus meningkat belakangan ini. Dan yang melakukan aksi protes bukanlah kaum pinggiran yang nggak punya status, melainkan kaum terdidik elit yang mendiami kampus-kampus elit di AS.

Ambil contoh kampus swasta elit yang terletak di New York, Universitas Columbia. Beberapa mahasiswa bukan hanya menggelar demonstrasi, malahan mendirikan tenda di wilayah kampus dan diberi nama “Perkemahan Solidaritas Gaza” pada medio April silam.

Apa yang mereka tuntut?

Nggak hanya seruan untuk menghentikan agresi terhadap warga Palestina di Gaza, mereka juga meminta agar pihak kampus melakukan divestasi dari perusahaan-perusahaan Israel selain memutuskan hubungan dengan institusi apapun asal Israel.

Apakah tuntutan mereka dipenuhi?

Boro-boro. Yang ada pihak kampus malah meminta bantuan pihak keamanan untuk ‘menertibkan’ aksi mereka yang dianggap rusuh. Selain tenda-nya ditertibkan dan menangkap ratusan aktivis-nya.

Para demonstran juga harus bersiap menghadapi aksi Garda Nasional karena dituding mengusung spririt anti Semitisme di negara liberal tersebut. (https://www.thenationalnews.com/news/us/2024/04/24/columbia-university-protest-national-guard-johnson/)

Di Universitas Yale, yang merupakan bagian kampus elit Ivy League, kasusnya juga sama. Pihak keamanan terpaksa mengamankan 60 orang pada akhir April silam, setelah sekelompok mahasiswa melakukan aksi mogok makan, simbol protes mereka terhadap agresi militer Israel terhadap warga Palestina.

Para demonstran juga menyuarakan agar pihak kampus segera melakukan upaya divestasi pada perusahaan-perusahaan yang mempersenjatai dan memperlengkapi serdadu Israel. (https://yaledailynews.com/blog/2024/04/17/yale-refuses-to-divest-from-military-weaponry-amid-student-protests/)

Ibarat ilalang tersulut api, aksi segera melebar ke berbagai kampus ternama yang ada di AS. Dari mulai Massachusetts Institute of Technology, Universitas Harvard, Universitas North Carolina, Universitas New York, Universitas Princeton, Universitas Brown hingga University California of Los Angeles (UCLA).

Akibat jangka pendeknya, maka acara perkuliahan terpaksa dihentikan (beberapa melakukannya sampai akhir semesster) dan dialihkan ke moda daring ala plandemi Kopit. Bahkan acara wisuda di beberapa kampus menghadapi kendala akibat aksi protes tersebut.

Anehnya, semua punya tuntutan yang sama: melakukan gencatan senjata permanen yang ada di Jalur Gaza, diakhirinya bantuan militer AS untuk Israel, divestasi pihak universitas pada perusahaan yang memproduksi alat-alat perang hingga amnesti bagi para mahasiswa dan dosen yang telah diberikan tindakan indispliner oleh kampus akibat mendukung aksi pro-Palestina.

Memangnya aksi tersebut dilakukan oleh civitas akedemika asal Palestina ataupun kaum Muslim saja?

Nggak juga. Para demonstran bukanlah kaum yang homogen. Mereka terdiri dari mahasiswa dan dosen dari berbagai latar belakang, termasuk penganut agama Yahudi sekalipun. Mereka mengorganisir diri dalam berbagai kelompok seperti Students for Justice in Palestine dan Jewish Voice for Peace.

Jadi ada yang mendisain gerakan ini dan bukan impromptu alias mengandalkan spirit solidaritas semata.

Lantas siapa yang menjadi sasaran tembak gerakan ini?

Apakah hanya Israel yang tengah menzolimi warga Palestina di Jalur Gaza?

Kalo pihak Israel, itu sudah pasti. Dari tuntutan para demonstran itu sudah sangat jelas.

Tapi itu bukan yang utama.

Maksudnya apa?

Untuk jawab pertanyaa itu, maka kita perlu tahu dulu siapa yang mendanai gerakan tersebut. Ini perlu diketahui karena diktum-nya: dimana ada demonstrasi masif, pasti ada pendana-nya. Nggak mungkin juga mereka rame-rame saweran, apalagi dalam kondisi ekonomi yang serba sulit model gini.

Orang gila mana yang mau repot-repot keluar uang dari koceknya sendiri selain harus bersiap ditangkap oleh pihak keamanan.

Belum lagi ancaman drop-out dari pihak kampus yang nggak bisa dipandang sebelah mata dan juga pemutusan jalur beasiswa bagi yang berkuliah modal otak semata.

Kebayang dong, mahasiswa dari kampus mapan yang punya segudang cita-cita dan masa depan dengan berkuliah di kampus bergengsi, terpaksa harus didepak dari kampus yang konon masuknya pun perlu seleksi berlapis?

Nggak banget lah yah. Middle class pasti pikir panjang sebelum melangkah.

Saya dapat katakan ini, karena saya mantan aktivis kampus di tahun 1998 silam. Untuk menghimpun massa kampus, butuh dana yang nggak sedikit.

Lantas siapa yang mendanai gerakan ini?

Pada bagian kedua kita akan membahasnya.

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!