Jawaban Yang Menohok

In Sosial Budaya

Jawaban Yang Menohok

Oleh: Ndaru Anugerah

Saat November saya ditanya, kapan sekolah akan dibuka kembali. Saya bilang masih lama dan paling cepat akhir awal 2022. Itupun dengan syarat tetap pakai prokes ketat.

Lho, bukannya sudah ada vaksinasi? Harusnya kehidupan kembali normal dong?

Dengarkan baik-baik apa yang dikatakan WHO, “Vaksinasi Kopit nggak bisa mengakhiri pandemi sehingga kita nggak bisa kembali ke masa sebelum Kopit.” (https://www.cnbc.com/2020/08/21/who-warns-a-coronavirus-vaccine-alone-will-not-end-pandemic.html)

Singkatnya, ada nggak ada vaksinasi, kita nggak akan mungkin kembali ke dunia sebelum Kopit melanda. (https://newsroom.unsw.edu.au/news/health/vaccine-or-no-vaccine-there’s-no-returning-pre-covid-19-world)

“Bukankah pemerintah berencana kembali membuka sekolah dan memulai pembelajaran tatap muka pada Januari 2021, Bang?” timpal seorang netizen lainnya. (https://www.cnnindonesia.com/nasional/20201120125838-20-572335/nadiem-izinkan-pemda-buka-sekolah-di-semua-zona-januari-2021)

“Itu hanya mimpi di siang bolong. Karena begitu sekolah dibuka, nggak lama ada berita menakutkan tentang terbentuknya klaster baru di sekolah. Dan sekolah kembali di online-kan. Begitu terus sampai Upin Ipin lulus kuliah,” jawab saya kala itu. (baca disini)

Dan apa yang saya katakan, kembali terjadi. Sekolah tetap off-line dan rencana bukaan kembali tinggal cerita.

Memang, seandainya sekolah dibuka kembali, apakah benar akan terbentuk klaster-klaster baru? Apa iya anak-anak bakal mati bergelimpangan di sekolah akibat Kopit?

Swedia kasih jawaban yang menohok.

Alih-alih lockdown dan menerapkan sekolah secara online, Swedia malah membuka sekolahnya secara full. Lebih satu juta anak usia sekolah menjalani kehidupan normal di sekolah dan nggak pakai masker. Nyatanya nggak ada anak-anak sekolah yang mati bergelimpangan. (https://www.collective-evolution.com/2021/01/08/study-sweden-has-schools-open-millions-of-kids-no-masks-no-lockdown-no-deaths/)

Dan ini bukan cerita ngasal, karena merujuk pada penelitian yang sudah diterbitkan pada jurnal ilmiah internasional, New England Journal of Medicine. (https://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMc2026670)

“Meskipun Swedia telah membuka sekolah dan pra-sekolah, kami menemukan tidak ada anak yang meninggal selama pandemi SARS-CoV-2 berlangsung. Tidak ada anak meninggal karena Kopit,” begitu Jonas F. Ludvigsson, M.D., Ph.D.

Yang paling parah dilaporkan adalah rasio anak dirawat ke ICU gegara Kopit adalah 1 dari 130.000 anak. Dan itupun tidak mendatangkan kematian.

Lalu bagaimana rasio tenaga pengajar yang terkena Kopit? Setara dengan 19 dari 100.000 orang tenaga pengajar. Dan itupun tidak mendatangkan kematian alias hanya dirawat di ICU.

Merujuk pada hasil penelitian ini, Jonas Ludvigson MD, PhD mengatakan, “COVID-19 yang dikatakan memiliki dampak serius, nyatanya sangat jarang terjadi pada anak-anak meskipun sekolah dibuka selama pandemi.” (https://www.eurekalert.org/pub_releases/2021-01/ki-lro010621.php)

Pertanyaannya: apakah virus Kopit di Swedia berbeda dengan virus Kopit di belahan dunia lainnya? Sama aja, bukan. Lalu kalo sama, kenapa di Swedia tidak ada istilah klaster-klaster baru ataupun berita-berita yang mengekspos tentang anak yang mati saat bersekolah?

Kemana juga larinya berita yang kerap mengekspos tentang OTG di Swedia sana? Nggak ada bukan? Kenapa bisa begitu?

Karena itu hanya bisa-bisanya media mainstream dalam menakut-nakuti anda sekalian. Diharapkan anda jadi parno sama si Kopit dan ujung-ujungnya program vaksinasi bisa dijalankan guna mengakhirinya. Apesnya, kehidupan nggak bisa kembali normal, meskipun anda sudah disuntik vaksin Kopit.

Hasil ini paralel dengan pernyataan Dr. Jay Bhattacharya MD, PhD dari Fakultas Kedokteran Universitas Stanford yang direkam pada jaringan The Journal of American Medical Association.

“Tingkat kelangsungan hidup pada orang yang menderita Kopit berdasarkan 50 penelitian yang telah dipublikasi menyatakan bahwa mereka yang berusia di atas 70 tahun, angkanya 95%. Sedangkan yang berusia di bawah 70 tahun, mencapai 99,95%,” ungkap Dr. Jay. (https://www.youtube.com/watch%3Fv%3D2tsUTAWBJ9M)

“Dengan kata lain, penyakit flu lebih berbahaya daripada Kopit untuk anak-anak,” tambah Dr. Jay.

Sampai sini jelas kan duduk masalahnya, Seol Dal Mi?

Dan satu yang pasti, Swedia nggak perlu repot-repot pakai vaksinasi karena nyatanya Kopit nggak membayakan apalagi mematikan. Dasarnya apa?

Satu lagi, di Swedia kehidupan sebelum dan sesudah Kopit tetap berjalan normal seperti biasanya. Nggak pakai istilah new normal-new normal-an ala WHO.

Jadi mantra WHO bahwa kehidupan kita nggak akan kembali ke masa sebelum Kopit, hanyalah isapan jempol semata. “Itu hanya berlaku jika anda percaya kepada mantra tersebut.”

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

You may also read!

Armenia Memanas

Armenia Memanas Oleh: Ndaru Anugerah Konflik Nagorno-Karabakh (NK) sesuai prediksi saya memang nggak meluas seperti analisa kebanyakan orang yang bilang bahwa

Read More...

Green Passport Kopit

Green Passport Kopit Oleh: Ndaru Anugerah Saat vaksinasi berlangsung, diwaktu yang bersamaan dikembangkan yang namanya green passport (GP). Kelak GP akan

Read More...

Teknologi Pengawasan

Teknologi Pengawasan Oleh: Ndaru Anugerah China buat terobosan baru. Apa itu? Baru-baru ini, pemerintah Beijing telah meluncurkan teknologi yang lebih canggih ketimbang

Read More...

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu