Bukan Sekedar Kesepakatan


518

Bukan Sekedar Kesepakatan

Oleh: Ndaru Anugerah

Pada 13 Agustus 2020, secara mengejutkan Uni Emirat Arab dan Israel akan menormalisasi hubungan kedua negara. Kontan kesepakatan tersebut memancing gelombang demonstrasi di dunia Arab.

“Itu adalah bentuk pengkhianatan,” teriak para demonstran Palestina yang bergerak di jalur Gaza, menanggapi perjanjian tersebut. (https://www.aljazeera.com/news/2020/08/palestinians-gaza-rally-israel-uae-deal-200819114138805.html)

Lantas apa dampak dari persetujuan kedua negara tersebut? Apa hanya sekedar persetujuan tanpa ada target tertentu di dalamnya?

Walaupun masalahnya rumit, namun saya coba untuk membahasnya dengan bahasa yang sederhana.

Siapa yang selama ini dianggap sebagai trouble-maker di kawasan Timteng oleh AS dan Israel? Nggak lain adalah Iran.

Coba lihat apa yang terjadi di Yaman, Suriah hingga Lebanon. Apa bisa kawasan itu membara tanpa ada sokongan dari Iran? Jangan heran bahwa kesepakatan damai tersebut punya target yang sama yaitu menggembosi peran Iran di kawasan ‘panas’ tersebut.

Maka dicarilah cara bagaimana mewujudkan rencana tersebut. Setelah pikir panjang, ketemu deh caranya, yaitu dengan menggandeng UEA.

Apa untungnya bagi UEA bergabung dalam kesepakatan tersebut?

UEA ingin dapat dukungan penuh atas pembiayaan masa depan negaranya dan juga bisnis dari AS dan Israel. Seperti yang kita tahu, UEA sangat terpukul ekonominya atas perang harga minyak yang dibesut oleh Arab Saudi tempo hari. (https://www.aljazeera.com/ajimpact/oil-prices-crash-saudi-uae-businesses-scramble-cash-200331174103601.html)

Lalu apa untungnya bagi Israel dan AS dalam menggandeng UEA pada perang melawan Iran?

Sekedar informasi, bahwa saat Revolusi Islam Iran meletus di tahun 1979, sekitar 500 ribu orang Iran dipaksa eksodus dan menetap di Dubai dan Abu Dhabi, UEA. Kenapa mereka eksodus? Karena mereka nggak sejalan dengan garis revolusi Iran.

Saat ini, beberapa dari mereka digunakan sebagai proxy dalam menjalankan bisnis properti yang ada di Khuzestan, yang merupakan tempat lahirnya lakon Abu Nawas. Khuzestan sendiri adalah sebuah wilayah yang ada di Iran.

Kenapa mereka berbisnis properti? Siapa pula yang menjadi pendananya?

Secara formal yang terlihat adalah aliran dana yang berasal dari perusahaan yang ada di Abu Dhabi dan Dubai. Namun dibelakangnya ada operasi gabungan intelijen yang dibesut oleh Israel dan AS pada usaha properti tersebut.

Bahkan dana operasi intelijen yang disediakan mencapai USD 2,19 milyar. Jelas bukan kaleng-kaleng. (https://oilprice.com/Geopolitics/Middle-East/What-The-UAE-Israel-Deal-Really-Means-For-The-Middle-East.html)

Dan berdasarkan informasi, telah terjadi peningkatan tajam sejak 2 tahun terakhir untuk pembelian properti di wilayah Khuzestan atas pengusaha keturunan Iran yang berasal di Abu Dhabi dan Dubai tersebut.

Memang ada apa di Khuzestan?

Wilayah Khuzestan kaya akan kandungan migas. Iran sendiri di tahun 2019 silam telah menemukan ladang minyak baru di wilayah tersebut, dengan kandungan sekitar 22,5 milyar barrel. (https://www.cnbcindonesia.com/news/20191111203514-4-114470/iran-temukan-cadangan-minyak-raksasa-meski-perang-ri-kapan)

Jadi modusnya adalah beli properti banyak-banyak untuk diduduki oleh orang UEA keturunan Iran, yang siap dijadikan aset intelijen pada operasi gabungan Israel dan AS tersebut. Dari sana, data intelijen tentang Iran, bakal bisa didapat dengan mudah. Pura-pura bisnis properti, tahunya agen binaan Israel dan AS.

Langkah ini sebenarnya mirip yang dilakukan Iran terhadap Israel melalui kehadiran proxy-nya di Lebanon dan Suriah.

Apakah Iran nggak tahu akan modus tersebut? Nggak juga.

Baru-baru ini ada pertemuan tingkat tinggi antara Menhan Iran (Amir Hatami) dan Menhan Rusia (Sergey Shoygu) yang membicarakan kesepakatan militer (pertahanan) antara Iran dan Rusia. (https://www.tasnimnews.com/en/news/2020/08/24/2334203/iran-s-defense-minister-briefed-on-s-400-features-in-russia-visit)

Kenapa Iran mau menandatangani kesepakatan militer dengan Rusia (setelah sebelumnya dengan China)? (https://foreignpolicy.com/2020/08/09/irans-pact-with-china-is-bad-news-for-the-west/)

Karena Iran merasa ‘utang budi’ atas upaya China dan juga Rusia sebagai anggota tetap di DK PBB dalam menolak resolusi anti Iran (embargo atas persenjataan) yang digelontorkan oleh AS tempo hari. (https://www.dw.com/en/un-security-council-rejects-iran-arms-embargo-extension/a-54576786)

Akan ada apa nantinya di Iran sebagai implementasi kerjasama militer tersebut?

Pada 9 November mendatang, Iran akan kedatangan angkatan laut China dan Rusia di sekitar pelabuhan utama Iran, seperti Chabahar, Bandar Abbas dan Bandar-e-Bushehr. Sudah pasti, kedepannya, masalah pertahanan dan intelijen yang ada dikawasan tersebut bakalan diperketat.

Pada tataran teknis, akan ada transfer perangkat peperangan elektronik (electronic warfare) dari Rusia dan juga China, sehingga Iran bisa melakukan aksi peringatan atas penggunaan senjata musuh, sistem pengacau hingga perlindungan terhadap gangguan musuh.

Jadi sistem canggih C4ISR (Command, Control, Communications, Computers, Intelligence, Surveillance and Reconnaissance) yang dimiliki NATO, bakal nggak guna diterapkan di Iran. Termasuk aksi intelijen proxy yang menyamar sebagai pebisnis UEA yang berdarah Iran tadi.

Lantas, dimana peran Arab Saudi atas kesepakatan normalisasi antara Israel dan UEA?

Kalo untuk melakukan hal serupa, jelas Arab Saudi nggak akan bisa, mengingat Arab Saudi merupakan pendiri Organisasi Konferensi Islam. Apa mau dicaci maki dunia Islam yang selama ini gregetan melihat sikap Israel terhadap warga Palestina?

Bukankah Raja Salman pernah bilang, “Perjuangan Palestina merupakan masalah inti bagi OKI, sehingga Arab Saudi menolak tindakan apapun yang mencoba menyentuh posisi historis atas Yerusalem Timur.” (https://www.ft.com/content/738e3ee1-e356-4a28-bbd3-e905c572546e)

Jadi Arab Saudi hanya bisa mendukung secara diam-diam atas rencana tersebut. Dukungan itu dibuktikan dengan penggelontoran uang. Sebanyak 62% bagian dari nilai proyek intelijen berkedok properti yang disebutkan diawal (USD 2,19 milyar), berasal dari Arab Saudi.

Bahkan Menlu Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan menyatakan bahwa perjanjian normalisasi hubungan Israel dan UEA sebagai langkah yang positif. (https://telasacodigital.com/2020/09/01/what-the-uae-israel-deal-really-means-for-the-middle-east/)

Sekarang, jadi paham duduk masalahnya, kan?

 

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)

 


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!