Bisnis Sampingan

In Sosial Budaya

“Saya minta di setiap rest area, jualannya bukan McD, bukan Kentucky, bukan Starbucks. Harus semuanya diganti sate, soto, kambing guling, gudeg,” begitu ujar Pakde seusai meresmikan jalan tol Sragen-Kartasura di Solo, Jawa Tengah (15/7).

Pernyataan itu terlontar karena memang selama ini banyak suara-suara sumbang bernada komplen atas usaha mikro yang merasa tersisihkan atas pembangunan jalan tol di Indonesia. Walhasil, pendapatan pedagang lokal-pun anjlok, menyusul tidak adanya keberpihakan kepada kelompok UMKM. Berapa sih unit UMKM yang bercokol di rest area jalan tol?

Akibatnya, pada April 2018, kebijakan yang mengakomodir suara keluhan tersebut diteken oleh pak Basuki selaku menteri PUPR. Pedagang kecil bisa bernafas lega, karena 20%-30% area komersil di rest area, diperuntukkan bagi mereka.

Sebenarnya, kalo boleh jujur, yang disindir pakde bukan itu. Tapi lebih jauh lagi. Ini menyoal bisnis sampingan negara asing di Indonesia, utamanya negeri Paman Sam.

Freeport itu hanya simbol bisnis kepentingan asing di Indonesia. Itu bukan yang utama,” kataku tempo hari. Nah terus, yang utama apa?

Sini, saya kasih tau…

Tercatat, ada lebih dari 280 waralaba asing (utamanya Amerika) bercokol di Indonesia dari mulai makanan, minuman sampai pendidikan dan produk sepatu. Dari situ, 50%-nya adalah usaha makanan dan minuman, dari mulai Mc.Donald hingga Starbucks.

Bagaimana mereka bisa merajai bisnis makanan di Indonesia? Lewat rekayasa sosial.

Masih ingat dalam ingatan saya, pertama kali Mc.Donald buka di Sarinah – Thamrin pada tahun 1980an. Sejak saat itulah bisnis makanan negeri Paman Sam terus menggurita.

Polanya sederhana. Lewat iklan. Dan yang disasar adalah anak-anak, karena merekalah pasar potensial-nya. Dibuatlah jingle untuk produk yang dipasarkan lewat media televisi, sampai anak-anak lebih hapal tuh lagu jingle, ketimbang lagu Rayuan Pulau Kelapa, misalnya.

Selain beriklan , mereka juga memanfaatkan fasilitas layanan untuk anak. Sebisa-bisanya dioptimalkan. Contohnya, kalo kita ngajak anak makan di KFC, pasti akan kita temui fasilitas children playground, sampai paket menu untuk anak lengkap dengan hadiah mainan sebagai bonusnya.

Kalo anak belum bisa mencapai gerai makanan tersebut, masih ada undangan dari teman sebaya mereka yang berulang tahun disana. Sekali ngerasain, jadi ketagihan deh. Apalagi yang namanya anak-anak, pasti nggak mau kalah sama teman sebayanya. Kalo temannya bisa ngerayain ultah disana, pasti mereka meminta hal yang sama pada orang tuanya.

Dan bisa ditebak, secara tidak langsung anak-anak yang terbiasa menyantap makanan fast food tersebut, pasti akan terbawa hingga dewasa. Coba cek, berapa kali dalam seminggu anda mengajak anak untuk makan di gerai-gerai cepat saji asal Paman Sam? Bahkan ada yang berujar, seperti mati rasanya kalo nggak makan KFC dalam seminggu. Watdehel…

Ini makin diperparah oleh pola pikir masyarakat kita yang setrba import-minded. Artinya apa-pun, asal dari Amrik, udah pasti bagus punya. Giliran ditawarin nasi pecel, langsung gengsi-nya pada nongol.

Sekarang coba kita kalkulasi keuntungan. Untuk membuka gerai fast-food ala Amrik, seseorang perlu membayar biaya waralaba dan royalti. Biaya waralaba cukup sekali aja dibayar. Sedangkan biaya royalti, dibayar per-bulan.

Untuk biaya waralaba, misalnya diketok 50 juta saja, berapa jumlah gerai KFC yang ada di Indonesia. Let’s say 1000 gerai jumlahnya. Apa nggak ketemu angka 50 milyar? Itu baru dari KFC. Bagaimana dengan Pizza Hut, Mc.Donald, A&W atau Burger King? Seorang analis pernah menyebut, angkanya bisa trilyunan rupiah.

Itu baru dari biaya waralaba. Bagaimana dengan biaya royalti?

Nilai yang harus dibayar bervariasi. Bisa 5% hingga 12%, tergantung franchise-nya. Sebagai gambaran, target penjualan KFC Indonesia pada tahun 2007 saja sudah mencapai 1,5 trilyun. Bayangkan berapa hasil royalti yang masuk ke kantong perusahaan asal negeri Trump berkuasa?

Jadi melongo, kan? Itu baru makanan dan minuman. Gimana dengan produk sport, fashion atau alat kebugaran? “Bisa nggak tidur lu, tong, kalo gue sebutin.”

Inilah bisnis sampingan sesungguhnya yang ingin dipapas oleh pakde. Fantastik lihat angkanya, tapi kita nggak sadar berkontribusi saat menikmatinya.

Pertanyaannya, apakah pihak Mamarika akan diam mengendus adanya upaya perang terselubung dilancarkan pakde ke depannya? Disinilah menariknya pilpres 2019. Betewe, ada yang mau traktir saya Caramel Frappuccino di Starbucks?

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah mantan Aktivis 98 GEMA IPB)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu