Bangkitnya Silent Majority

Ada yang sama pada gelaran pilpres 2019 dengan gelaran pilpres 2014, dimana gerakan kaum terdidik mulai menunjukkan eksistensinya dengan memberikan dukungan moril kepada paslon petahana untuk bisa melanjutkan kepemimpinan nasional.

Dan ibarat bola salju, gerakan ini saling berbalasan yang kian hari membentuk bola salju yang mulai membesar.

Dimulai dengan dukungan alumni kampus Universitas Indonesia sebagai pelopornya. Ramai-ramai para alumni bergerak memberikan dukungan pada paslon 01 pada Sabtu (12/1) yang lalu, di kawasan Plaza Tenggara, Gelora Bung Karno. Acara ini terbilang sukses dengan dihadiri ribuan alumnus kampus kuning tersebut.

Seakan nggak mau kalah set, berikutnya alumni ITS dan Unair Surabaya, kembali memberikan dukungan kepada paslon JOMIN. Bertempat di Kompleks Tugu Pahlawan, Surabaya (2/2), acara inipun mendulang sukses dengan dihadiri oleh ribuan alumnus-nya.

Kembali ke Jakarta, ribuan alumni kampus reformasi Universitas Trisakti, kembali memberikan dukungan kepada Jokowi dengan menggelar deklarasi di Hall Basket, Senayan Jakarta pada Sabtu kemarin (9/2).

Dan yang terbaru, adalah event hari ini (10/1), dimana puluhan ribu alumni SMA se-Jakarta baik negeri dan swasta, kembali menggelar dukungan kepada sosok Pakde. Acara bertajuk Alumni SMA Jakarta BerSATU yang digelar di Istora Senayan tersebut-pun kembali menuai sukses besar.

Ke depan, berdasarkan informasi yang saya dapat, deklarasi dukungan akan juga menjalar ke daerah-daerah lainnya se-antero nusantara. Dan bila ini terus-terusan terjadi, bisa dipastikan elektabilitas paslon 02 akan semakin tergerus oleh kaum terdidik.

Ngapain juga kaum intelektual yang notabene-nya adalah golongan silent majority mulai ramai-ramai bergerak?

Karena mereka adalah kaum yang kritis dalam menanggapi situasi yang ada. Mereka mulai gerah dengan kondisi bangsa ini yang mulai makin tidak kondusif dengan manuver fitmah dan hoaks yang makin masif dipertontonkan oleh kubu BOSAN. Belum lagi penggunaan simbol agama untuk legitimasi politik.

Mau dibawa kemana bangsa ini, kalo paslon BOSAN belum memimpin saja, sudah berani menebar teror dan pesimisme dikalangan anak bangsa? Masa belum-belum Indonesia bubar atau Indonesia punah. Bisa mengharap apa sama pemimpin model ginian?

Sementara disisi yang lain, mereka melihat sosok pemimpin yang berbeda. Jokowi di mata mereka adalah sosok pemimpin yang bisa dijadikan teladan. Minimal kerja kerasnya. Jangan harap akan ada kemajuan tanpa kerja keras. Itu pesan dari Jokowi yang mereka tangkap.

Dahulu, hutang negara makin lama makin banyak, tapi dapatnya apa? Boro-boro pembangunan disana-sini, yang ada malah proyek mangkrak dimana-mana. Lha, duit hutangan kemana larinya?

Sekarang, sosok kepemimpinan nasional bisa menjawab masalah pembangunan. Minimal Jokowi tidak korupsi uang negara dan keluarganya nggak sibuk ngemis proyek-proyek pemerintahan bapaknya.

Mereka bisa menilai mana pemimpin yang bisa kerja dan mana pemimpin yang bisanya hanya nyinyir.

Saat presiden yang mereka idam-idamkan diserang oleh kubu kampret yang ada dipihak BOSAN, rasa gelisah itulah yang akhirnya mampu menggerakkan mereka.

Bahwa Jokowi jangan boleh diganggu dalam membangun. Bahwa Jokowi tidak boleh dibiarkan tanpa dukungan. Bahwa Jokowi harus bisa memimpin bangsa ini kembali demi kejayaan negeri tercinta.

Padahal tipikal kaum intelektual Indonesia adalah kaum mayoritas yang cenderung diam dalam mensikapi keadaan. Mau negara jungkir balik kek, bagi mereka nggak ada pengaruhnya. Toh mereka masih bisa makan. Ibarat kata, ke Starbuck tiap minggu mereka masih bisa kok. “Mendingan diam saja,” itulah slogannya.

Wajar itu bisa terjadi, karena dampak NKK/BKK yang diberikan oleh Orde Baru akhirnya berhasil membuat mereka apatis terhadap kehidupan politik di negeri ini.

Kalaupun ada kaum intelektual yang bergerak ‘menyuarakan moral’, palingan banter cuma mahasiswa kampret, yang bergerak karena memang ada ‘pesanan’ dari pendananya.

Setelah reformasi 1998, kini mereka kembali. Dan ini bisa jadi sinyalemen ketidaknyamanan mereka melihat situasi bangsa yang makin lama makin tidak kondusif. Gampang lihatnya. Agama yang harusnya jadi pedoman moral, malah dijadiin dagangan politik oleh para kampret. Makin muaklah, mereka. Dan ini tidak boleh dibiarkan.

“Bang, dari SMA mana?” demikian suara manis disebelahku. Wah, ternyata mantan gue ikutan aksi juga hari ini. Jadi reunian, kita neng…

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah mantan Aktivis 98 GEMA IPB)

AboutNdaru Anugerah

It is human nature to think wisely and act foolishly

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *