Antara JFK dan Indonesia (*Bagian 1)

In Sejarah

Antara JFK dan Indonesia (*Bagian 1)

Oleh: Ndaru Anugerah

Jumat, 22 November 1963. Sebuah kendaraan yang membawa presiden AS ke-35, John F. Kennedy melintas di Dallas, Texas. Namun iring-iringan mobil tersebut terhenti akibat adanya tembakan yang menyasar JFK dan istrinya.

Sontak, JFK tewas mengenaskan karena terjangan timah panas yang menurut berita resmi dilakukan oleh mantan Marinir AS bernama Lee Harvey Oswald. (https://en.wikipedia.org/wiki/Assassination_of_John_F._Kennedy)

Apakah benar Oswald pelakunya?

Ini juga jadi tanda tanya serius yang memicu banyak polemik. Ditengah kegamangan tentang peristiwa tersebut, seorang sejarawan kawaka nasal Australia yang bernama Prof. Greg Poulgrain menerbitkan buku seputar kematian JFK yang diberi judul: The Incubus of Intervention: Conflict Indonesia Strategies of John F. Kennedy and Allen Dulles.

Memang apa isi buku tersebut?

Saya coba mengulasnya. Namun karena banyaknya informasi yang saya sampaikan, terpaksa saya pecah tulisan ini menjadi 2 bagian.

Jauh sebelum perang Vietnam berkecamuk, Allen Dulles telah lama mengawasi Indonesia yang merupakan negara yang kaya SDA-nya (khususnya mineral dan minyak), secara spesifik di Papua Barat. Dulles adalah direktur CIA di tahun 1960an.

Sejak 1920-an, sebelum menjabat di CIA, Dulles awalnya adalah pengacara yang mewakili kepentingan Rockefeller Oil selain Dulles juga punya kekerabatan dengan sosok Ndoro besar tersebut. Karena ‘jasanya’, Dulles ditetapkan sebagai direktir CIA di tahun 1950an. (https://famouskin.com/famous-kin-chart.php?name=42638+allen+dulles&kin=14620+john+d+rockefeller&via=11320+james+butler)

Apa keahlian utama Dulles kok didaulat memimpin CIA? Perubahan rezim di suatu negara.

Awalnya tidak ada masalah. Masalah muncul karena pemikiran Dulles nggak sejalan dengan pemikiran JFK, tentang Indonesia. JFK berpendapat bahwa Indonesia adalah rekanan AS dalam perang dingin menghadapi Soviet. Sementara, Dulles punya pikiran yang beda.

Apa itu?

Dalam Perang Dingin, situasi AS cukup lemah mengingat China dan Soviet kalo dibiarkan menyatu, pasti runyam urusannya. Maka disusunlah tim yang diinisiasi oleh Rockefeller Brothers di tahun 1958, dengan tujuan utama memecah kedekatan China-Soviet.

Dan proyek ini meraih sukses di tahun 1960, dengan bubarnya kongsi Sino-Soviet. (https://en.m.wikipedia.org/wiki/Sino-Soviet_split)

Informasi berharga ini di-keep sama Dulles. Presiden Eisenhower juga nggak tahu informasi penting ini. Bahkan presiden JFK yang terpilih di tahun 1961, juga nggak tahu akan info A1 tersebut.

Kenapa JFK nggak diberitahu?

Karena JFK nggak mau ‘menjatuhkan’ Soekarno, sementara Dulles punya niat yang sebaliknya. Gimana kalo JFK tahu retaknya hubungan China-Soviet? Bisa-bisa Indonesia bakal dilepas dari tangannnya. Dan ini nggak boleh terjadi.

Saking sebelnya Dulles sama JFK, rencana AS untuk menginvasi Teluk Babi di Kuba yang berujung kegagalan, dibiarkan saja terjadi. Padahal CIA tahu kalo Soviet sudah tahu rencana tersebut, seminggu sebelum penyerangan. Dan JFK yang akhirnya disalahkan, bukan?

Lantas darimana Dulles dapat informasi bahwa di Papua kaya SDA-nya? Siapa lagi kalo bukan Rockefeller. Pada ekspedisi di tahun 1940-an, perusahaan Rockefeller menemukan deposit emas terbesar di dunia selain kandungan minyak yang bebas sulfur alias nggak perlu disuling di Papua Barat.

Gila, bukan?

Jadi skenario-nya Papua harus dikuasai. Masalahnya, Belanda-lah penguasa Papua saat itu. Jadi mau nggak mau, Belanda harus disingkirkan.

Padahal di tahun 1961, ada pembicaraan rahasia antara Kennedy dan Sekjen PBB Dag Hammarskjold yang intinya kasih legitimasi buat PBB untuk ambil sikap pada status Belanda dan Indonesia di Papua. Dan Kennedy menyetujui hal tersebut.

Kalo begini, bisa runyam. Karena bisa-bisa Papua Barat diberikan jalan untuk merdeka oleh PBB.

Ini nggak berlebihan. Dag Hammarskjold punya rencana untuk mengangkat isu Papua di Sidang Tahunan PBB di tahun 1962. Intinya baik Belanda dan Indonesia baiknya untuk tidak campur tangan atas ‘West New Guinea’.

Dan kematian misterius sang Sekjen PBB pada September 1961 di Kongo (disebabkan kecelakaan pesawat), mengkandaskan upaya Dag Hammarskjold buat bukan jalan bagi Papua Barat merdeka. (https://www.history.com/news/dag-hammarskjold-death-plane-crash)

Matinya sang Sekjen, tidak serta merta memuluskan langkah Dulles, mengingat JFK masih eksis dan Belanda masih bercokol di Papua. Dan rencana kunjungan JFK ke Jakarta pada tahun 1963 dalam rangka menghentikan konfrontasi dengan Malaysia serta ‘mendukung’ Soekarno sebagai presiden seumur hidup, jelas mimpi buruk buat Dulles.

Apa untungnya seorang JFK mendukung penghentian konfrontasi Malaysia dengan Indonesia?

Ya tentu saja Hadiah Nobel Perdamaian yang diincarnya karena dinilai sukses mengakhiri konflik Indonesia dan Malaysia. Ini pula yang akan dijadikan modal bagi JFK untuk melaju kembali sebagai presiden di tahun 1964 dalam meraup suara publik di AS.

Bagaimana kelanjutan skenario Dulles di Indonesia menurut Prof. Greg Poulgrain?

Pada bagian kedua nanti saya akan mengulasnya.

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

You may also read!

Menyoal Virus dan Pengujiannya (*Bagian 2)

Menyoal Virus dan Pengujiannya (*Bagian 2) Oleh: Ndaru Anugerah Pada bagian pertama, saya telah mengulas tentang upaya mencari keberadaan virus lewat

Read More...

Itu Bukan Vaksin!

Itu Bukan Vaksin! Oleh: Ndaru Anugerah Mei 2020 silam, saya ditanya sama seorang netizen, “Vaksin jenis apa yang akan dipakai untuk

Read More...

Should be Mandatory or Not?

Should be Mandatory or Not? Oleh: Ndaru Anugerah “Sebaiknya, program vaksinasi global dibuat wajib apa nggak?” tanya seorang kepada saya. Sebagai analis,

Read More...

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu