Ketika Isi Tidak Sesuai Dengan Bungkusnya


534

Ketika Isi Tidak Sesuai Dengan Bungkusnya

Oleh: Ndaru Anugerah

Beberapa hari yang lalu, Kongres AS baru saja mengesahkan RUU Stimulus C19 yang diberinama Consolidated Appropriations Act 2021 (CAA 2021).

Jadi dari judulnya kita tahu bahwa ini merupakan UU Stimulus Bill jilid 2 yang akan diterapkan di AS sana. (https://www.businessinsider.com/stimulus-bill-text-delayed-by-printer-errors-and-internet-issues-2020-12)

Memang CAA 2021 isinya hanya seputar penanganan Kopit? Kalo nggak, dokumen setebal 5593 halaman tersebut, membahas soal apa?

Yang perlu diluruskan adalah kapan pemungutan suara dilakukan sebelum RUU tersebut diketok palu? Kenapa juga media mainstream nggak membahas RUU tersebut padahal penting bagi AS dan juga dunia? Apakah anggota Kongres tahu isi RUU tersebut sebelum disahkan jadi UU? (https://apnews.com/article/politics-james-mcgovern-legislation-coronavirus-pandemic-bills-0da216bf0352e92f8a62d8438fc9b519?utm_campaign=SocialFlow&utm_medium=AP&utm_source=Twitter)

Saya coba akan membahasnya untuk anda. Bagi yang penasaran isi CAA 2021, ini saya sertakan link-nya. (https://rules.house.gov/sites/democrats.rules.house.gov/files/BILLS-116HR133SA-RCP-116-68.pdf)

Ada beberapa yang bisa disorot. Satu yang pasti, bahwa bantuan senilai USD 900 milyar tersebut, nggak melulu menyangkut pandemi si Kopit.

Dalam CAA 2021, ada klausul untuk pemberian bantuan asing yang cukup buat anda ngiler. Mesir bakal dapat dana bantuan USD 1,3 milyar. Israel, Sudan dan Ukraina masing-masing dapat bantuan sebesar lebih dari USD 500 juta.

Tapi jangan salah. Bantuan tersebut bukan untuk penanganan Kopit, melainkan untuk kepentingan pertahanan. Dengan kata lain, bantuan itu dipakai untuk beli senjata dari AS. Untuk apa? Silakan jawab sendiri.

Apa CAA 2021 hanya bicara soal pembelian persenjataan dari AS?

Nggak juga.

Sebagian dipakai untuk mendukung kudeta di Venezuela dan Belarusia. Untuk program ‘demokratisasi’ di Venezuela saja, angka yang digelontorkan sebesar USD 33 juta.

Dengan adanya penggelontoran dana jumbo untuk aksi ‘revolusi warna’, artinya Washington menempatkan beberapa negara sebagai skala prioritas untuk ‘diamankan’ mengingat rejim yang berkuasa sudah cukup bikin pusing pala Berbie dengan mendekat ke poros Tiongkok.

Tapi tenang aja, Republik Wakanda nggak ada dalam skala prioritas, kok.

CAA 2021 juga mengalokasikan dana sebesar USD 300 juta untuk pengembangan vaksin influenza guna mencegah pandemi influenza di masa depan.

Kenapa vaksin influenza menjadi demikian penting untuk dibahas? Saya pernah membahasnya. (baca disini)

Ada lagi bagian dari CAA 2021 yang akan menggelontorkan dana jumbo sekitar USD 4 milyar kepada GAVI yang berafiliasi dengan Bill Gates.

Menang banyak si bandar vaksin. Sudah jualan vaksin dapat untung, eh dapat lagi dana sinterklas.

Selain soal bantuan keuangan, ada juga bagian dari CAA 2021 yang membahas soal streaming online ilegal pada platform berhak cipta yang bisa dikenakan pasal kejahatan federal dengan ganjaran hukuman hingga 3 tahun penjara.

Jadi kalo anda mencoba melakukan streaming ilegal pada platform berhak cipta (misalkan zoom atau google meet), anda bisa kena pasal kejahatan federal.

Tahu darimana anda sudah melakukan streaming secara ilegal? Apa anda baru tahu bahwa perangkat elektronik yang anda pakai nggak bebas sensor? (baca disini)

Dan yang nggak kalah penting untuk diungkap adalah kampanye propaganda pro-vaksin yang akan terus didengungkan. Jadi kampanye guna menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya vaksin akan terus dimainkan, mengingat program sang Ndoro besar nggak boleh gagal.

Sebagai konsekuensinya, maka bagi mereka yang mencoba menyadarkan masyarakat akan bahaya vaksin, sudah pasti akan ‘diamankan’ dan dianggap sebagai sumber masalah.

Masih banyak ‘sisi’ menarik dari CAA 2021 yang belum sempat saya bahas. Dan satu lagi, bahwa pandemi ini masih terus berlanjut di 2021 nanti.

Jadi kalo anda hanya membaca judul CAA 2021, anda bakalan kecele. Karena isinya nggak sesuai dengan cover-nya.

Alih-alih ingin beli burger, eh tahunya isinya combro.

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!