Tukang Obat Jualan

In Sosial Budaya

Tukang Obat Jualan

Oleh: Ndaru Anugerah

Ada seorang pembaca setia yang tanya ke saya, “Menurut abang, analisa Bossman Mardigu layak dijadikan acuan?” Ini dia tanyakan jauh-jauh hari, dan saya sudah janji akan membahasnya. Namun sampai saat ini saya belum memenuhi janji saya. Mumpung sekarang ada waktu, saya akan bahas.

Analisa yang dimaksud adalah seputar WHO yang tempo hari dituding Trump sebagai antek China. Bahkan Mardigu mengklaim WHO sebagai CHO alias China Health Organization. Istilah itu didapatnya setelah berkomunikasi dengan temannya yang katanya Doktor ilmu ekonomi dari Australia. (https://www.youtube.com/watch?v=7wZWNKRgO9Y)

Disini saja sudah ada kesalahan. Secara tata bahasa, yang benar adalah Chinese Health Organization bukan China Health Organization, karena China itu noun, sementara Chinese itu adjective. Sedangkan fungsi kata world pada WHO adalah sebagai adjective yang artinya sedunia.

Jadi kalo Mardigu klaim telah ngomong sama temannya yang Doktor dari Australia, gimana kita bisa percaya? Lha wong bahasa Inggris-nya aja masih acak adut. (https://www.japantimes.co.jp/opinion/2020/04/29/commentary/world-commentary/chinese-health-organization/)

Dikatakan Mardigu bahwa Tedros pernah mengatakan bahwa Corona tidak mematikan. Nyatanya, Tedros malah bilang bahwa si Kopit justru 10 kali lebih mematikan dari flu babi yang pernah terjadi di tahun 2009. (https://www.liputan6.com/health/read/4226863/who-covid-19-sepuluh-kali-lebih-mematikan-dibanding-flu-babi)

Terus Mardigu juga bilang bahwa China sengaja bisnis APD dengan cara memborong dari pasaran pada Januari dan menjualnya kembali dengan harga 10 kali lipat, begitu barang sudah langka di pasaran.

Kalo begini kejadiannya, recehan banget China, kok bisnis APD dan mengorbankan rencana besar Belt & Road Initiative yang dimilikinya yang tertunda gegara si Kopit. Masuk akal nggak? Ngorbanin uang besar untuk dapat recehan?

Yang ada, China bukan bisnis tapi malah kasih bantuan APD kepada dunia, termasuk Indonesia. (https://republika.co.id/berita/q7p159415/china-mengirimkan-bantuan-medis-covid19-ke-indonesia)

Mardigu juga bilang, bahwa dijamannya Obama, China adalah mitra strategis AS.

Dimana masuk akalnya, mengingat pada jaman Obama-lah, AS justru mengeluarkan kebijakan Pivot to Asia yang bertujuan mengunci posisi China di Asia. (https://thediplomat.com/2017/01/the-pivot-to-asia-was-obamas-biggest-mistake/)

Bukan itu saja, Mardigu bilang kalo India yang akan produksi obat vaksin Corona dan dipaksa Trump untuk dijual ke AS. Obat apa vaksin nih, karena nggak ada yang namanya obat vaksin? Bahkan Mardigu mengklaim bahwa data yang dimilikinya sebagai valid.

Nyatanya, India bukannya produksi obat atau vaksin, tapi malah minta Rusia untuk menjual vaksinnya di negara Bombay tersebut guna mengatasi pandemi si Kopit. (http://www.pharmafile.com/news/559409/india-signs-deal-100m-doses-russias-sputnik-v-covid-19-vaccine)

Dikatakan juga bahwa Trump marah besar terhadap Big Pharma yang telah melakukan kongkalikong dengan WHO dan China dalam melakukan manipulasi pada pandemi si Kopit.

Lha kalo Trump marah sama Big Pharma, kenapa operation warp speed yang menghabiskan dana milyaran dollar guna menciptakan vaksin, justru diberikan ke Big Pharma? Logikanya dimana? (https://www.nytimes.com/2020/06/03/us/politics/coronavirus-vaccine-trump-moderna.html)

Mardigu mengatakan bahwa ada unsur pengayaan AIDS pada virus C19, sehingga imunitas seseorang yang terkena jadi melemah. Ini jelas ngawur, mengingat daya tahan tubuh yang lemah justru rawan terkena Kopit. Bukan sebaliknya. (https://covid19.go.id/p/berita/daya-tahan-tubuh-lemah-rawan-tertular-covid-19)

Dan terakhir, Mardigu bilang kalo WHO kongkalikong dengan China dan Big Pharma dalam menjual vaksin Corona di seluruh dunia.

Lagi-lagi ini blunder. Sejak kapan China kerjasama dengan Big Pharma dalam jualan vaksin? Justru China yang berupaya mengandaskan impian Big Pharma dalam berjualan vaksin Corona. (https://www.nytimes.com/2020/05/04/business/coronavirus-china-vaccine.html)

Dengan kata lain, apa yang dikatakan Mardigu dalam video-nya di Youtube, bisa dikatakan nggak punya basis analisa yang kuat. Lompat-lompat dan nggak jelas juntrungannya.

Kenapa bisa begitu?

Karena Mardigu bukan analis geopolitik. Nggak aneh kalo pernyataannya saling tubrukan satu dengan lainnya. Jadinya bingung sendiri, tapi dikemas seolah-olah sudah paling benar di mata orang awam yang nggak ngerti geopolitik.

Itu saja ulasan dari saya. Semoga menjawab pertanyaan anda. Tapi kalo anda masih mau memakai analisa bossman Mardigu, ya silakan aja. Dalam iklim demokrasi, itu bukan dosa.

 

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

You may also read!

Charlie Hebdo (*Bagian 1)

Charlie Hebdo (*Bagian 1) Oleh: Ndaru Anugerah Paris, 7 Januari 2015. Tiga pria menggunakan masker dan melakukan penyerangan di kantor majalah

Read More...

Ketika Sains Tergadaikan

Ketika Sains Tergadaikan Oleh: Ndaru Anugerah Pada awal Oktober silam, New England Journal of Medicine (NEJM) buat ulasan editorial yang isinya

Read More...

Upaya Menutup Kembali

Upaya Menutup Kembali Oleh: Ndaru Anugerah Pagi ini saya dapat kabar bahwa 3 orang tewas akibat serangan yang menggunakan pisau di

Read More...

7 commentsOn Tukang Obat Jualan

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu

This Site is Hosted By iJoo