Teroris Mozambik

In Politik

Teroris Mozambik

Oleh: Ndaru Anugerah

Apakah GWOT sudah ditekan tombol ‘ON’-nya oleh AS?

Jawabannya, iya. Dan itu di mulai di Mozambik yang berada di Afrika bagian selatan pada awal Maret 2021 silam.

Saat itu AS melabel organisasi Al-Shabaab sebagai organisasi teroris global yang berafiliasi dengan ISIS. (https://www.state.gov/state-department-terrorist-designations-of-isis-affiliates-and-leaders-in-the-democratic-republic-of-the-congo-and-mozambique/)

Dan nggak lama setelah itu, AS kemudian mengirim selusin pasukan khususnya alias Green Barret untuk membantu militer nasional Mozambik dalam rangka menggelar operasi kontra terorisme-nya. (https://www.bbc.com/news/world-africa-56441499)

Jadi, dengan dalih mengendalikan terorisme global, tangan kepentingan AS bisa digelar disana. Alibi yang sempurna.

Lalu apa kepentingan AS di Mozambik dan secara umum Afrika bagian selatan?

Pertama, untuk menahan laju tren multipolar yang disebarkan China. Asal tahu saja, bahwa pengaruh China lumayan meningkat di sana terutama sejak 2017 silam. (https://orientalreview.org/2017/12/15/will-us-offensive-global-south-hit-south-africa/)

Selain itu, Mozambik juga dikenal sebagai salah satu negara produsen gas (LNG) terbesar di dunia beberapa tahun ke depan, jika cadangan gas lepas pantai utara yang ‘kebetulan’ kini dikuasai Al-Shabaab berhasil dieksploitasi sepenuhnya. (https://issuu.com/the-eic/docs/insideenergynovember2020)

Nggak aneh jika kemudian Mozambik menjadi negara yang cukup seksi di Afrika untuk ‘di-intervensi’ oleh AS dengan alasan terorisme.

Kekhawatiran AS terhadap Mozambik cukup beralasan, karena sejak 2019 silam, Xi Jinping mulai menarik Mozambik untuk masuk dalam proyek Belt & Road Initiative yang dimilikinya. (https://news.cgtn.com/news/3d3d774d31496a4d34457a6333566d54/index.html)

“Mozambik mengucapkan terima kasih kepada China karena telah dibantu saat menghadapi bencana siklon tropis. Selain itu kami berharap agar kerjasama bilateral antara China dan Mozambik dapat memicu pembangunan yang seimbang,” ungkap Presiden Filipe Jacinto Nyusi.

Nggak lama setelah itu, Nyusi menandatangani kerjasama dengan negeri Tirai Bambu tersebut. (http://www.beltandroadforum.org/english/n100/2019/0426/c22-1254.html)

Mozambik bersikap pragmatis, mengingat negara tersebut tergolong misqueen. Karenanya membutuhkan suntikan dana guna menggenjot pembangunan di negaranya yang masih terbelakang.

Di sisi yang lain, China mau kasih sokongan dana karena ada ‘peluang’ di sana. Setidaknya kandungan gas Mozambik demikian menggiurkan bagi industri yang ada di China.

Sejak itu, bantuan China untuk mewujudkan kerjasama tersebut mengalir ke Mozambik. (https://www.globaltimes.cn/content/1206694.shtml)

Makin mesra hubungan keduanya, makin cemburu-lah AS. “Kalo China bakal dapat ‘apa-apa’ maka sebalinya gue bakalan nggak dapat ‘apa-apa’ di sana,” begitu kurleb-nya.

Nggak ada jalan lain bagi AS untuk bisa masuk ke negara tersebut, kecuali dengan memakai kekuatan proxy jihadis yang ada di negara tersebut.

Jadi masuknya teroris Al-Shabaab ke Mozambik, bukan bersifat kebetulan. (https://www.hrw.org/news/2021/03/29/hundreds-missing-after-mozambique-attack)

Sekarang AS punya alasan untuk membentuk kerjasanma dengan Mozambik karena ada musuh bersama yang bernama ‘terorisme’.

Sebenarnya kerjasama militer antara kedua negara bisa digagalkan, asalkan China mau menawarkan kerjasama dalam bidang yang sama kepada Mozambik.

Masalahnya, China nggak mengambil bagian dalam operasi anti-terorisme yang ada di LN. Termasuk di Mozambik. Meskipun China melatih pasukan mliter rekan BRI-nya, tapi itu bukan dalam rangka memerangi terorisme. (https://www.profarmer.com/system/files/inline-files/Belt.pdf)

Kusut deh masalahnya.

Beda dengan Rusia, dimana mereka banyak melatih personil militer negara yang menjadi mitra kerjasamanya, guna mengembangkan solusi ‘Keamanan Demokratis’. (https://www.geopolitica.ru/en/article/hybrid-wars-and-democratic-security)

Untuk benua Afrika, Rusia telah melatih personil militer di Republik Afrika Tengah, Republik Kongo dan juga Togo.

Itu sebenarnya sama saja untuk membekali mereka dengan perang terhadap terorisme, dalam arti yang sesungguhnya. Jadi bukan memerangi terorisme ala AS yang ada udang dibalik bakwan-nya.

Wajar jika kemudian Mozambik menerima tawaran bantuan kerjasama militer yang ditawarkan AS, karena China bersifat pasif alias setengah hati dalam menggelar kerjasama dengan Mozambik.

Dan skenario rusuh yang sengaja dibuat oleh Al-Shabaab akan terus dikembangkan AS guna menancapkan kukunya di negara Afrika tersebut, guna mengusik kepentingan China. Alasan klise akan dilontarkan, “Wah, terorisnya terlalu canggih dan sulit untuk ditaklukkan.”

Lucu juga.

Padahal yang kasih dana bagi terorisme, ya dia-dia juga. (https://landdestroyer.blogspot.com/2011/09/war-on-terror-is-fraud.html)

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu