Sang Monster Afrika


512

Oleh: Ndaru Anugerah

Uganda dasawarsa 1970an, ditengah situasi perang dingin antara blok komunis dan kapitalis. Saat kedua kekuatan besar mencari pengaruh di Afrika untuk dijadikan negara satelit, seorang Milton Obote tiba-tiba membuat kebijakan untuk menasionalisasi 80 perusahaan Inggris di negara tersebut.

Sontak, kebijakan yang dilakukan oleh presiden Obote tersebut memicu ketegangan dengan Inggris selaku negara yang pernah menjajah wilayah tersebut. “Sudah mulai kurang ajar ini.” Singkat kata, rencana dibesut yang tujuannya sang presiden harus dimakzulkan lewat upaya kudeta.

Kenapa harus pakai cara kudeta?

“Afrika bukanlah Amerika Latin, dimana kekerasan bersenjata paling mudah menemukan pembenaran ketimbang demonstrasi untuk menggulingkan pemerintah yang sah,” demikian ungkap sebuah sumber intelijen.

Siapa penggantinya? Nggak sulit menemukannya.

Tentu penggantinya harus berdarah fasis sesuai dengan tuntutan kultur Afrika yang serba keras. Dialah Jenderal Idi Amin Dada Oumee. Setidaknya begitu menurut pantauan MI-6 selaku konseptor kudeta di Uganda.

“Pemerintah Inggris sengaja memilih Idi Amin dengan alasan dialah orang terbodoh berlatar militer yang paling mudah untuk dimanipulasi,” begitu ungkap Alexander Gray.

Setelah sukses mendongkal Obote lewat kudeta militer yanh dibantu Inggris saat sang presiden lagi kunjungan ke Singapura di tahun 1971, otomatis Idi Amin sebagai panglima angkatan bersenjata yang didaulat untuk memimpin Uganda.

Hubungan Uganda dan Inggris awalnya harmonis. Selaku pihak yang meng-endorse Idi Amin maju memimpin Uganda, pihak kerajaan langsung memanggil dirinya ke Inggris untuk mendapatkan gelar sekalian perkenalan.

Dan benar saja. Idi Amin kemudian diberi gelar CBE alias Conqueror of British Empire. Nama ini kemudian melekat dibelakang namanya, layaknya gelar akademik. Meskipun sesungguhnya Idi Amin nggak bisa baca tulis.

Koran-koran mainstream yang berafiliasi dengan kerajaan sekelas The Times dan Daily Telegraph langsung menulis berita nan lebay: “Inilah pemimpin masa depan yang akan membawa Uganda menjadi lebih gemilang.”

Sekembalinya dari Inggris, sesuai arahan Idi Amin langsung men-denasionalisasi aset perusahaan Inggris yang sempat diambil oleh pemerintah rezim Obote. Dan pihak kerajaan mulai tepok tangan dan memberi bantuan ekonomi kepada pemerintah Uganda senilai 10 juta poundsterling dan juga peralatan militer.

Sayangnya, rencana yang semula dibesut oleh dinas intelejen Inggris tersebut tidak berjalan sesuai rencana. Di tengah jalan watak fasis Idi Amin mulai muncul dan berada pada level yang biadab.

Gimana tidak. Demi membungkam lawan-lawan politiknya, Idi Amin meletakkan UU militer dalam menjalankan pemerintahan, di atas hukum sipil yang berlaku. Akibatnya bisa ditebak. Kasus  pelanggaran HAM dari mulai penculikkan, pemerkosaan, hingga pembunuhan masif digelar demi alasan darurat militer.

Dan korban-korban mulai berjatuhan, mulai dari pemuka agama, seniman, hakim, termasuk turis manca negara yang lagi plesiran di Uganda. International Amnesty mencatat 500ribu orang tewas dimasa kepemimpinan sang monster dari Afrika tersebut.

Kalo sekedar mati ditembak, mungkin julukan ‘monster’ nggak matching buat dirinya. Masalahnya korban yang telah tewas diperlakukan biadab oleh dirinya mulai dari dilempar ke kandang buaya, hingga memutilasi kepala para korbannya dan meletakannya di lemari es milik sang diktator.

Yang tak kalah sadisnya adalah aksi memakan daging manusia yang telah dijadikan korbannya. Anehnya, begitu ada wartawan yang tanya tentang kebiasaan anehnya tersebut, Idi Amin cuma bisa cengar-cengir sambil menjawab, “Saya nggak suka makan daging manusia karena rasanya asin.”

Jika sekedar biadab, mungkin pihak kerajaan Inggris masih bisa tutup mata. Masalahnya, Idi Amin mulai mengambil langkah blunder.

Apa saja?

Pertama dengan menggandeng negara-negara sosialis seperti Soviet dan Libya sebagai rekan strategis Uganda. Langkah ini jelas membuat kecemburuan Inggris yang menganut paham kapitalis.

Selanjutnya Idi Amin membentuk aliansi dengan negara-negara Arab yang anti Semit.

Dan puncaknya, manakala pesawat komersial Israel dibajak oleh Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina (PFLP), Idi Amin malah mempersilahkan para pembajak untuk mendaratkan pesawatnya di bandara Entebbe, Uganda. Inilah yang kemudian memicu kemarahan pihak Inggris sebagai sekutu Israel.

Nggak pake lama. Operasi kudeta-pun mulai digelar untuk melengserkan sang diktator Uganda tersebut.

Caranya? Dengan mempersenjatai pasukan pemberontak Tentara Pembebasan Nasional Uganda (UNLA) dan didukung oleh langkah konfrontatif presiden Tanzania – Julius Nyerere – maka sang monster akhirnya berhasil dijungkalkan dari kursi singgahsananya lewat pemberontakkan di tahun 1979.

Peristiwa ini memaksa Idi Amin untuk mencari suaka dari mulai Libya, Irak dan berakhir di Arab Saudi. Tepat di tahun 2003, dirinya meninggal dunia di pengasingan.

“Kebiadaban rezim militeristik bukan hanya terjadi di Uganda maupun Afrika. Di Amerika Latin dan juga Asia, juga sama kelakuannya, karena memang begitu watak militer,” begitu ungkap temanku.

Jika Idi Amin yang dinyatakan ‘bodoh’ saja dikasih akses senjata dan kuasa bisa menjadi monster, gimana dengan yang agak pintaran dengan latar belakang yang sama, Bambang?

 

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah mantan Aktivis 98 GEMA IPB)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!