Saat Tandem Diperlukan

Survei elektabiltas paslon capres-cawapres sudah banyak digelar oleh beberapa lembaga survei, dari yang kredibel sampai yang abal-abal. Bagaimana gambaran sesungguhnya, only God knows. Artinya survei itu bisa dijadikan proyeksi, atau bisa juga tidak menggambarkan apa-apa.

“Tergantung bagaimana kita menyikapinya. Tapi satu yang pasti, itu dapat juga dijadikan acuan untuk memperbaiki performa di mata para pemilih agar mereka dapat diyakinkan bahwa pilihannya sudah tepat,” demikian tutur seorang konsultan politik senior kepada saya.

Pertanyaan sederhananya: apa sih sebenarnya fungsi cawapres?

Fungsi cawapres, tentu sangat beragam.

Saat terpilih nanti, minimal 2 tugas utama sudah menantinya. pertama, fungsi ban serep, manakala seorang presiden berhalangan hadir dikarenakan ada kunjungan keluar negeri, sakit, dipecat, sampai meninggal.

Kedua, karena tuntutan ban serep, maka tugas-tugas utama presiden, setidaknya dia mengerti. Dengan kata lain, fungsi untuk mengemban pendelegasian tugas yang diberikan kepadanya, dia harus mumpuni. Dan tugas yang paling vital adalah seputar tugas kenegaraan.

Nah kalo semasa kampanye, apa fungsinya?

Setidaknya untuk membantu mendongkrak elektabilitas paslon-nya. itu sebab, cawapres adalah jabatan politis, yang diharapkan mampu mengamankan pasokan suara kepada capres-nya. Itulah sebab, Ma’ruf Amin lebih dipilih pakde sebagai tandemnya, karena diharapkan suara Nadliyin yang jumlahnya puluhan juta, akan bermuara pada sosok Jokowi semata.

Namun, seiring berjalannya waktu, sosok cawapres ternyata tidak bisa memberikan kontribusi yang berarti bagi paslonnya. ini terbukti pada hasil survei yang dilakukan oleh SMRC pada bulan Oktober 2018 lalu. “Posisi cawapres tidak mempengaruhi secara positif dan negatif paslon presiden,” demikian ungkap Djayadi Hanan (7/10).

Inilah yang kemudian dijadikan acuan untuk kubu BOSAN untuk berbenah diri, dengan menerjunkan Sandiaga Uno untuk turun gelanggang. Jangan heran kalo kemudian Sandi makin intens bergerilya ke lapangan, dari mulai komunitas emak-emak, pasar, sampai kaum milenial.

“Untuk mendongkrak elektabilitas Prabowo yang mulai stagnan, mau gak mau Sandi harus makin intensif untuk diturunkan,” ungkap sebuah sumber TKN BOSAN. yang layak diapresiasi, walaupun konten yang diusung Sandi belakangan malah blunder, dengan mengeluarkan isu tempe setipis ATM, lah… belanja 50 ribu cuma dapet bawang , lah… Yah, namanya usaha bray…

Di sisi yang lain, Ma’ruf Amin hanya bisa berpasrah pada kondisinya yang memang sudah tidak memungkinkan untuk bergerak segesit Sandi. Bisa-bisa turun berok,…

Dalam satu bulan terakhir, sasus beredar bahwa MA tidak nampak keluar rumah apalagi kampanye dikarenakan terjatuh dari kamar mandi dalam sebuah blusukan di daerah Lampung yang menyebabkan kakinya terkilir. Jika kejadiannya demikian, sungguh amat disayangkan, mengingat masa kampanye adalah masa dimana paslon harus dalam kondisi prima untuk bisa mendongkrak elektabilitas pasangannya di mata publik.

Akankah paslon BOSAN dapat mengungguli paslon JOMIN? Atau malah paslon BOSAN makin jauh tertinggal? We’ll see…

“Brug…,”aduh mobil gue ada yang nabrak. Tak lama seorang wanita berwajah oriental keluar dari mobilnya untuk sekedar meminta maaf atas tindakannya. “Sorry, but don’t worry I’ll pay for the damage,” katanya. Njritt.. Dan gue makin terpesona. Bukan karena santun sikapnya.

Tapi wajahnya mengingatkan gue pada artis JAV yang kerap nongol menemani kakek Sugiyono yang selalu kesepian.

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah mantan Aktivis 98 GEMA IPB)

AboutNdaru Anugerah

It is human nature to think wisely and act foolishly

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *