Merayakan Kebebasan?

In Sosial Budaya

Merayakan Kebebasan?

Oleh: Ndaru Anugerah

Ada yang berbeda di Inggris sana, pada Senin (19/7) kemarin.

Mereka merayakan apa yang disebut sebagai hari kebebasan, setelah aturan pembatasan resmi ‘dicabut’ di negara tersebut.

Begitu selebrasu digelar, langsung deh warga Inggris pergi ke tempat-tempat hiburan. Ibarat mak-emak yang setahun dilarang belanja, terus aturannya dicabut, begitulah kurleb kondisinya di sana. Siapa juga yang nggak suntuk kalo dikurung terus menerus?

Menariknya, ejekan dan umpatan langsung membanjiri laman media sosial Inggris perihal perayaan hari kebebasan yang dirayakan dengan penuh sukacita. (https://sputniknews.com/uk/202107191083412700-post-lockdown-uk-compared-to-hunger-games-for-covidiots-on-social-media/)

Umpatannya macam-macam. Mulai dari ramalan bakal timbulnya klaster baru, lonjakan kasus dan kematian yang bakal meningkat, hingga warga yang dicap sebagai ‘covidiots’.

Ini juga terlihat pada beberapa media mainstream yang terlihat dalam ulasan beritanya.

Misalnya, Reuters yang memberi label peristiwa tersebut dengan hari kecemasan. Cemas karena pembukaan kembali tersebut bakal memicu gelombang Kopit berikutnya di negara tersebut. (https://www.reuters.com/world/uk/freedom-day-or-anxiety-day-england-end-covid-19-curbs-2021-07-15/)

CNN nggak mau kalah set. Laporannya bilang bahwa moment tersebut adalah pertaruhan besar yang diambil oleh pemerintahan Inggris ditengah lonjakan kasus yang belum jinak. (https://edition.cnn.com/2021/07/18/uk/boris-johnson-covid-gamble-freedom-day-intl-gbr-cmd/index.html)

Bahkan The Guardian yang akrab dengan BG, juga meramalkan adanya kekacauan ekonomi dan juga bencana menyusul aksi bukaan kembali. (https://www.dumptheguardian.com/theobserver/commentisfree/2021/jul/17/what-will-happen-in-the-third-coronavirus-wave)

Apa yang sebenarnya terjadi di Inggris, menyangkut hari kebebasan tersebut?

Pada mulanya, Inggris mau berencana melakukan bukaan lebih awal, sebelum Senin (19/7) kemarin. Namun karena ‘ganasnya’ varian Delta, maka rencana tersebut ditangguhkan. (https://www.reuters.com/world/uk/britain-records-22868-new-covid-19-cases-3-deaths-2021-06-28/)

Ini cukup beralasan, mengingat kematian akibat si Kopit di Inggris, termasuk tinggi. Selain itu laju kasus hariannya yang mencapai 10 ribu selama beberapa hari terakhir, juga masuk hitungan dalam membuat kebijakan. (https://www.reuters.com/business/retail-consumer/uk-looks-set-ease-restrictions-july-19-sun-cites-pm-saying-2021-06-28/)

Namun satu yang perlu dicatat, bahwa bukaan kembali tersebut berarti bahwa semua warga Inggris bebas melakukan aktivitas seperti sebelum pandemi si Kopit melanda.

Tetap ada batasan-batasan juga.

Misalnya, semua pekerja rumahan (misalnya: asisten RT), harus wajib divaksinasi jika ingin bekerja kembali. (https://www.bbc.com/news/uk-57829135)

Selain itu, semua bisnis didesak untuk menerapkan aturan green passport Kopit jika ingin melakukan aktivitasnya kembali. (https://www.telegraph.co.uk/politics/2021/07/14/restaurants-pubs-bars-should-check-covid-passports-says-government/)

Dan yang nggak kalah penting, aturan prokes seperti menggunakan masker di angkutan umum, juga wajib diterapkan. (https://www.bbc.com/news/uk-england-london-57826331)

Sampai sini saya harap anda paham duduk masalahnya.

Jadi klaim Boris Johnson bahwa kehidupan akan kembali normal seperti masa sebelum Kopit, hanyalah isapan jempol belaka. Nyatanya, ‘new normal’ tetap diterapkan juga, meskipun dengan skala yang lebih kecil.

Lalu apakah ‘kebebasan’ ini akan berlangsung selamanya?

Nggak juga.

Saat musim dingin tiba, dimana jumlah kasus dipastikan akan meningkat, aturan lockdown sangat mungkin untuk diterapkan kembali. (https://www.telegraph.co.uk/global-health/science-and-disease/coronavirus-news-covid-vaccine-cases-third-wave-delta-variant/)

Kalo gitu ceritanya, ngapain juga Inggris melakukan bukaan kembali yang sifatnya temporal?

Begini. Anda harus paham, kalo laju kecepatan vaksinasi di Inggris adalah terbanyak kedua di dunia setelah Israel.

Secara umum, jumlah warga Inggris yang telah divaksinasi komplit ada sekitar 52,00%. Sedangkan yang baru terima suntikan tunggal, angkanya 15,21%. Jadi total jenderal ada sekitar 68,20% warga yang sudah divaksin. Ini sudah mendekati ambang batas kekebalan kawanan, bukan? (https://ourworldindata.org/covid-vaccinations)

Dan ini adalah prestasi tersendiri bagi seorang Boris Johnson.

Menjadi wajar jika kemudian warga Inggris diberi apresiasi berupa ‘hadiah’ boleh melakukan bukaan kembali (reopening), walaupun hanya sementara saja sifatnya.

Anak kecil yang ngambek, akan senang jika diberi permen, bukan?

Disisi yang lain, ini akan kasih dampak ke belahan dunia lainnya, dengan menjadikan Inggris sebagai model.

Pesannya jelas: ‘kalo mau aktivitas dibuka kembali, cepat-cepatlah melakukan vaksinasi guna mencapai angka 70% seperti yang diharapkan sang Ndoro besar.”

Anyway, selamat ajeb-ajeb lah Dude. Mumpung masih ada kesempatan.

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu