Ketika Mimpi Tinggal Mimpi


519

Ada seorang wanita yang tengah beranjak dewasa. Dia memiliki kemampuan dalam menjahit. Keahlian itu didapat saat tinggal di asrama yang dikelola oleh para biarawati. Nah, disela waktu belajar, dia mendapatkan keterampilan jahit menjahit tersebut.

Selepas dari asrama, dia memilki mimpi untuk menjadi penjahit terkenal. Untuk mewujudkan mimpinya, dia membuka toko. Toko topi tepatnya, di kawasan Rue Cambon 31, Paris.

Satu persatu pelanggan mulai berdatangan, tapi toh tokonya tidak seramai yang diharapkan. Timbul masalah. Sampai anak buahnya-pun berkata, “Kek nya ibu harus alih profesi. Jangan buat topi, tapi coba buat pakaian deh.”

Kata-kata anak buahnya sungguh menamparnya. Baginya, menjahit pakaian itu, selain rumit juga membingungkan.

Tapi nasib berkata lain. Karena topi buatannya tak kunjung terkenal, dia akhirnya memakai topi buatannya sendiri dalam menghadiri berbagai undangan. Hitung-hitung promo, pikirnya. Tak dinyana, disain topi buatannya mengudang decak kagum para wanita kaum elit yang melihatnya saat jamuan pesta.

Puncaknya ialah ketika aktris terkenal yang bernama Gabriella Dorziat memakai topi buatan sang wanita pada suatu sesi pemotretan untuk majalah mode. Tak butuh waktu lama, maka viral-lah topi karyanya, dan diapun akhirnya kebanjiran order.

Meski menurutnya membuat pakaian wanita amat njelumit, toh akhirnya dia menapaki tantangan tersebut. Dia akhirnya membuat suatu terobosan dengan membuat gaun wanita dengan corak dari pakaian pria ala Skotlandia, yaitu menggunakan tweed, alias bahan wol setengah jadi.

Disanalah karya ikonik sang wanita akhirnya menjadi termasyur. Disainnya dituangkan dalam stelan blazer dan rok dengan motif tweed, khas pakaian warga Skotlandia di tahun 1920-an. Hingga kini, tweed dan blazer menjadi dua hal yang tetap dipertahankan dalam setiap karyanya.

Wanita tersebut adalah Coco Chanel. Seorang gadis yang berhasil mewujudkan mimpi yang dimilikinya sejak kanak-kanak.

Lain lagi cerita keluarga Chesky. Alih-alih ingin menginap di hotel bintang lima di bilangan San Fransisco, ternyata mereka malah mendapat penolakan. Alasannya sederhana. Hotel tersebut diperuntukkan bagi tamu-tamu VVIP, alias kaum tajir tralala…

Karena penolakan tersebut, mereka dipaksa menginap di dalam mobil, ditengah gelapnya malam yang dingin. Saat menjelang tidur, mereka berbincang dan bermimpi. Mereka berkhayal seandainya ada kamar yang bisa disewa dengan tarif murah, kejadiannya mungkin tidak seperti yang mereka alami saat itu.

Berbekal mimpi itulah, tanpa disadari akhirnya terciptalah startup Airbnb. Perusahaan yang dicetuskan oleh Brian Chesky dan Joe Gabina, alias keluarga Chesky tersebut, yang mampu memberangus tatanan bisnis perhotelan di dunia saat ini.

Chesky mampu mewujudkan imajinasi menjadi kenyataan. Dream does come true. Dimana para wisatawan berkantung tipis-pun, kini mampu memperoleh kamar layak inap dengan harga yang relatif terjangkau.

Dan semua itu bermula dari sebuah khayalan. Sebuah mimpi.

Tokoh dunia sekelas Albert Einstein-pun pernah berujar, “Imagination is more valuable than knowledge.” Pengetahuan serba terbatas, namun imajinasi tanpa batas. Itulah kebabasan berpikir yang paling tinggi tingkatannya, yang bisa dimiliki seorang manusia.

Bagaimana di negara kita?

Saat seorang anak bermata sipit ditanya oleh gurunya, hendak menjadi apa saat dewasa nanti. Lantas sang anak menjawab, “Mau jadi presiden, pak guru.” Alih-alih sang guru malah menasehati si murid, “Nak, kalo mimpi jangan kejauhan, harus realistik.” Jangankan mendapatkan mimpinya, eh yang ada malah dijebloskan di penjara. Dan itu sudah ada buktinya.

Apakah bermimpi telah menjadi sesuatu yang salah di negeri ini?

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah mantan Aktivis 98 GEMA IPB)


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!