Framing Media

In Politik

Mengamati kasus Papua sungguh menarik. Bukan apa-apa. Gerakannya belum siap ditataran isu, tapi sudah dipaksa untuk jadi sesuatu yang bombastik. Maklum dana yang digelontorkan lumayan gede, jadi banyak petualang politik yang memanfaatkan hajatan tersebut.

Tak terkecuali para influencer yang mencoba mengail di air keruh, walaupun bukan untuk memperebutkan uang yang gede tersebut. Ada faktor lain, tentunya.

Belum apa-apa panglima TNI yang sudah disalahkan atas kasus rusuh Papua. Ditudinglah, karena ketidak becusan memilih Pangdam di bumi Papua, makanya kerusuhan bisa terjadi. “Nggak punya jiwa profesionalisme,” katanya.

Padahal kasus kerusuhan itu pemodal besar-lah yang tengah bermain. Itu dominant factor-nya.  Bukan karena profesionalisme panglima. Apalagi kinerja seorang pangdam.

Dengan duit banyak, apa yang nggak mungkin terjadi? Rusuh pasca pemilu yang konon didanai kroni orde baru saja sudah demikian heboh, apalagi pemodalnya genk Rothschild?

“Coba perhatikan siapa yang akan diajukan oleh sang influencer untuk menggantikan posisi panglima TNI. Mungkinkah selain dari matra darat? Jadi klop saat penanganan kasus Enzo tempo hari, dimana sang influencer mati-matian membela sosok yang akan disokongnya menjadi pengganti Jenderal Hadi,” demikian bisik seorang teman.

Case closed ya….

By the way, yang mau saya ulas kali ini adalah peran media massa pada suatu konflik. Bahasa kerennya framing media. Seberapa pentingnya? Saya akan jabarkan.

Media pada dasarnya terbagi atas 2 golongan, konvensional dan digital. Namun seiring perkembangan jaman, yang sifatnya konvensional (seperti koran dan televisi), mulai ditinggal. Maka sang pemodal yang cukup jeli lihat keadaan, beramai-ramai bermigrasi ke platform digital.

Media massa utama (mainstream media/MSM semisal CNN, Reuters, Guardian hingga Fox News), merupakan perangkat yang dikembangkan sebagai penunjang perang asimetrik. Fungsinya sebagai penyebar propaganda agar orang yang membaca pemberitaan yang sudah di framing tadi, jadi percaya pada konten pemberitaan tersebut. Padahal sejatinya hoax.

Sesudah serangan WTC 911, pemberitaan MSM salah satunya menyasar Saddam Hussein yang dituding sebagai salah satu dalang serangan tersebut selain Osama bin Ladden. Berdasarkan survei, publik AS (sebanyak 69%) sangat percaya bahwa Saddam-lah salah satu aktor intelektualnya.

Berbekal alasan tersebut, jadi sah-sah saja kalo kemudian Saddam digulingkan. Padahal berdasarkan rekam jejak sejarah, perang Irak-Iran adalah perang yang didanai oleh AS kepada Irak dalam menghambat perkembangan pengaruh Iran di negara-negara Timteng.

Jadi aneh, kalo tiba-tiba Saddam yang dituding sebagai salah satu dalang. Apa kepentingannya lha wong dari dulu Irak adalah sekutu AS?

Belakangan, kita tahu apa modusnya. Tak lain adalah kepentingan genk Rothschild yang mulai dipersulit oleh seorang Saddam. Dan genk Rothschild yang punya MSM. Jadi, di framing-lah si Saddam untuk dijadikan pembenaran buat digulingkan.

Tidak aneh kalo kemudian jika jaringan televisi semisal Fox News (yang dimiliki oleh Rupert Murdoch), sangat intens menyiarkan perang Irak kepada publik AS. Mati-matian jurnalis Fox News menggambarkan bahwa invasi AS merupakan ‘operasi kebebasan’ bagi seluruh warga Irak.

Namun kini, setelah sekian tahun Saddam digulingkan, rakyat Irak terus menerus dilanda konflik berkepanjangan yang tak kunjung usai.

Serangan bom tiap saat mengancam kapan saja. Karena apa? Irak tidak lagi punya pemimpin karismatik sekelas Saddam yang bisa merekatkan warga Irak. Semua ingin jadi pemimpin. Antar faksi kemudian bertikai. Akibatnya adu domba-pun menemukan muaranya. Siapa yang untung?

Framing media yang paling heboh adalah saat siaran CNN tepat sebelum serangan WTC 7 2001 terjadi. Dipublikasikan lewat jaringan CNN bahwa bangunan WTC 7 telah hancur akibat serangan bom. Padahal pada tayangan tersebut, serangan bom belum terjadi. Baru 21 menit kemudian serangan berlangsung. Kemudian berita diralat.

Aneh bin ajaib bukan? Ada apa? Apa karena kecerobohan media semata? Yang bokir…

Tapi karena framing media, rakyat AS sudah termakan propaganda MSM milik genk Rothschild. Yang mereka percayai adalah serangan teroris tersebut didalangi Saddam, dan karenanya Saddam harus ditumbangkan. Titik.

Penggunaan MSM sebagai alat propaganda sebenarnya bukan barang baru. Mantan direktur CIA, William Casey pada 1981 di depan Kongres AS mengakui bahwa CIA menggunakan media untuk membuat dan menyebarkan informasi yang salah kepada warga AS. Yah hoax, namanya.

Mekanisme yang digunakan, menurut Casey adalah pengulangan (berita yang diulang-ulang), penindasan (yang dilakukan oleh rejim yang ingin dijatuhkan) dan tentu saja rasionalisasi berita (agar publik yakin akan pemberitaan yang diberikan).

Dengan mekanisme tersebut, wajar jika publik AS terlena pada pemberitaan MSM. Karena sudah terjebak pada ruang gema yang diciptakan oleh MSM atas disain CIA. Mau dapat darimana berita alternatifnya? Apa mungkin dapat dari Spongebob Squarepant di Bikini Bottom?

Sadar akan dahsyatnya framing media, kita jadi mengerti kenapa kemudian Menko Polhukam – Wiranto – kemudian ‘membatasi’ warga asing (WNA) untuk mengunjungi Papua saat ini.

“Bukan semata-mata membatasi ruang gerak orang asing, tapi semata-mata soal melindungi orang asing itu sendiri, supaya tidak menjadi korban kerusuhan,” demikian ungkap Wiranto.

Karena apa?

Pemerintahan Jokowi sadar, bahwa media asing, utamanya MSM, jika dikasih akses ke Papua, maka mereka dengan mudahnya menggelar skenario yang membuat seolah-olah rusuh Papua sudah sedemikian parahnya dan butuh perhatian internasional. Singkatnya framing media bisa dijalankan.

Selanjutnya publik internasional dipaksa untuk memberi ‘perhatian khusus’ buat Papua. Lobi-lobi internasional-pun dijalankan. Singkat cerita referendum dimainkan. Dan kita sudah bisa tebak kemana bola bergulir, pada akhirnya.

Apakah ini yang kamu harapkan, Rudolfo?

 

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah mantan Aktivis 98 GEMA IPB)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

You may also read!

Operation Paperclip

Operation Paperclip Oleh: Ndaru Anugerah Perang Dunia II berakhir seiring sukses bom atom AS yang dijatuhkan ke kota Hiroshima dan Nagasaki

Read More...

Langkah Skak Mat

Langkah Skak Mat Oleh: Ndaru Anugerah “Pokoknya pemerintah harus lockdown guna menghindari jatuh korban lebih banyak lagi,” demikian narasi yang terus

Read More...

Adu Kuat Jokowi – Trump

Adu Ngotot Jokowi – Trump Oleh: Ndaru Anugerah Awalnya lewat Tedros selaku Dirjen WHO, BG dan kelompok Big Pharma yang punya

Read More...

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu

This Site is Hosted By iJoo