Remdesivir, Efektifkah?


516

Remdesivir, Efektifkah?

Oleh: Ndaru Anugerah

Apa obat yang paling direkomendasikan oleh para pakar kesehatan dunia dalam menangani pandemi si Kopit? Hydroxychloroquine, jawabannya.

Setidaknya Sekolah Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat Universitas Yale dibawah pimpinan Prof. Harvey A. Risch baru-baru ini menerbitkan risetnya pada jurnal epidemiologi top di Amrik, yaitu American Journal of Epidemiology (27/5).

Hydroxychloroquine plus azithromycin adalah cara tercepat dan paling efektif untuk menghentikan pandemi C19,” begitu kurleb isi penelitian mereka. (https://academic.oup.com/aje/advance-article/doi/10.1093/aje/kwaa093/5847586)

Lebih lanjut, penelitian tersebut menyatakan bahwa hydroxychloroquine yang didapat dari kulit pohon kina, sangat efektif untuk dipakai selama fase 1 C19 alias pengobatan awal dimana virus baru masuk ke dalam tubuh seseorang.

Karenanya penelitian ini menyarankan, agar obat tersebut dapat tersedia pada setiap outlet klinik dokter, klinik rawat jalan dan rumah sakit yang ada di seantero AS, untuk digunakan pada pasien begitu ada gejala awal si Kopit.

Tentang keefektifan hydroxychloroquine sebagai obat C19, bukan sekali ini saja didengungkan. Saya pernah bahas secara berulang-ulang. (baca disini. disini dan disini)

Bahkan Prof. Didier Raoult selaku ahli mikrobiologi Perancis ternama, jauh-jauh hari telah menganjurkan pemakaian hydroxychroquine sebagai obat penawar C19. Pada jurnal terbaru yang dirilis oleh Science Direct (25/6) yang lalu, tingkat kematian kasus hanya mencapai 1,1% seiring penggunaan hydroxychloroquine pada pasien C19. (https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1477893920302817)

Perancis dalam hal ini nggak sendirian. Dengan protokol yang sama (yaitu penggunaaan hydroxychloroquine pada pasien C19) China, India dan Senegal juga mengalami keberhasilan yang sama. (https://www.facebook.com/groups/covexit)

Dengan semua temuan tersebut, jadi aneh kalo tiba-tiba pemerintah AS justru mengambil langkah ekstrim dengan mengambil Remdesivir sebagai obat untuk mengobati pasien C19, yang difabrikasi oleh Gilead Science sebagai bagian Big Pharma. (https://www.hhs.gov/about/news/2020/06/29/trump-administration-secures-new-supplies-remdesivir-united-states.html)

Angka yang dikeluarkan-pun juga nggak murah. Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS harus merogoh kocek sekitar USD 1,6 milyar untuk 500 ribu dosis remdesivir yang tersedia untuk rumkit di seantero AS. Aliasnya, dibutuhkan USD 3200 per pasien untuk memakai obat Remdesivir tersebut.

Mengingat mahalnya harga tuh obat, pertanyaannya apa efektif?

Setidaknya ada beberapa penelitian tentang penggunaan Remdesivir dalam menangangi si Kopit. Pertama penelitian yang didanai Gilead, yang dikepalai David McNeel yang juga dari Gilead, yang diterbitkan pada New England Journal of Medicine.

Hasilnya? “Setelah diobati dengan remdesivir, terjadi peningkatan klinis pada 36 dari 53 pasien alias 68%,” begitu kurleb isi laporannya (10/4). (https://www.nejm.org/doi/pdf/10.1056/NEJMoa2015301?articleTools=true)

Ya nggak aneh juga, wong semua Gilead yang menginisiasi ‘penelitian’ tersebut yang sudah pasti nggak bebas kepentingan.

Nggak aneh jika 1 hari setelah hasil penelitian dipublikasi, Science Media Center bereaksi keras terhadap temuan tersebut. “Penelitian tersebut tidak membuktikan apapun karena datanya tidak bisa diinterprestasikan,” demikian isi sanggahannya. (https://www.sciencemediacentre.org/expert-reaction-to-a-study-about-compassionate-use-of-remdesivir-for-patients-with-severe-covid-19/)

Penelitian lainnya dilakukan di Wuhan, China terhadap 237 pasien dengan menggunakan remdesivir yang hasilnya kemudian dipublikasikan The Lancet. “Remdesivir selaku obat antivirus yang diproduksi Gilead Sciences, GAGAL mempercepat kesembuhan pasien C19 dan juga GAGAL mencegah kematian.” (https://www.statnews.com/2020/04/23/data-on-gileads-remdesivir-released-by-accident-show-no-benefit-for-coronavirus-patients/)

“Sebanyak 14% pasien dalam pengobatan dengan Remdesivir meninggal setelah 28 hari, dibandingkan 13% pasien yang tidak menerima pengobatan,” begitu kurleb hasilnya.

Kalo sudah tahu ketidakefektifan penggunaan remdesivir bagi pasien Kopit, lalu kenapa pemerintah AS tetap ngotot pakai obat tersebut?

Ini bisa terjadi karena peran Dr. Fauci selaku penasihat kesehatan Gedung Putih yang menganjurkan pemakaian remdesivir pada pasien C19. “Tingkat kematian sekitar 8% pada kelompok yang menerima remdesivir dan 11,6% pada kelompok kontrol, walaupun hasil ini TIDAK SIGNIFIKAN SECARA STATISTIK, demikian ungkap Dr. Fauci. (https://healthpolicy-watch.news/first-remdesivir-rct-shows-no-significant-clinical-benefit-for-severe-covid-19-patients-but-experts-urge-for-more-research/)

Bagi Dr. Fauci, percobaan yang dilakukan oleh NIAID tersebut (yang melibatkan 1063 pasien) terbilang sukses dan berhasil membuktikan bahwa remdesivir dapat memblokit virus Corona. Walaupun secara statistik, hasilnya tidak signifikan. Titik.

Memang berapa biaya yang dikeluarkan dalam membuat obat remdesivir tersebut?

Institute for Clinical and Economic Review (ICER) selaku organisasi nirlaba kesehatan telah menghitung estimasi pembuatan obat tersebut pada 1 Mei 2020 silam. Dan biayanya hanya sekitar USD 9,32 alias paling banter hanya USD 10. (https://icer-review.org/wp-content/uploads/2020/05/ICER-COVID_Initial_Abstract_05012020-3.pdf)

Lalu kenapa biayanya jadi membengkak demikian besar (dari USD 10 menjadi USD 3200)? Udah gitu, banyak penelitian malah MENEGASIKAN PERAN REMDESIVIR DALAM MENGATASI PANDEMI C19, kenapa juga nekat dipakai?

Jawabannya ada pada SIAPA YANG DIUNTUNGKAN dari pembelian obat tersebut.

Dr. Fauci yang merupakan bagian dari jaringan program vaksinasi global plus yang digagas oleh BG. Dengan kata lain, Dr. Fauci adalah kaki tangan BG yang berperan penting memberikan masukan pada Gedung Putih dalam mengambil kebijakan pada bidang kesehatan di AS. (https://www.newsbreak.com/news/0Of4GrYu/fauci-and-birx-both-have-big-money-bill-gates-conflicts-of-interest)

Jangan aneh kalo obat semahal apapun, dengan hasil yang layak dipertanyakan (yang bisa mendatangkan kematian), tetap bisa dibeli oleh pemerintah AS, karena memang ada udang dibalik bakwan-nya, lewat peran Dr. Fauci. (baca disini)

“Siapa juga yang butuh sehat? Yang penting obatnya laku alias laris manis tanjung kimpul.”

Bukankah begitu Rudolfo?

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah mantan Aktivis 98 GEMA IPB)


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!