Pelajaran Berharga dari Bom Manchester

In Sosial Budaya

Pelajaran Berharga dari Bom Manchester

Anak-anak ABG di Manchester Inggris, tentu tak menyangka kalo konser musik ikon mereka, Ariana Grande, ternyata berujung duka. Serangan teror yang mematikan di Manchester Arena, pada Senin Malam (22/5) berhasil menewaskan 22 orang dan melukai 59 orang lainnya. Dan yang paling menyayat hati, adalah korban tewas yang bernama Saffie Rose Roussos yang baru berusia 8 tahun. Saffie adalah siswi SD Tarleton Community, Lancashire – Inggris. Bagaimana tidak menyayat hati? Masa anak SD yang belum tau apa arti politik dan kebencian, terpaksa menjadi korban politik dengki yang diklaim sebagai upaya Jihad. Fakk….

Yang melakukan serangan, berhasil diidentifikasikan sebagai Salman Abedi (22 tahun). Lahir di Manchester Selatan pada tahun 1994, Abedi adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Orang tua Abedi adalah pengungsi perang Libya, yang dipaksa beremigrasi ke Inggris untuk melarikan diri dari rezim Gaddafi. Ibunya bernama Samia Tabbal (50 tahun), sedangkan ayah-nya bernama Ramadan Abedi (53 tahun), yang merupakan seorang petugas keamanan. Semua orang yang pernah dekat dengan Abedi, menyatakan keterkejutan-nya dengan aksi yang diambil Abedi. Ini dimungkinkan, karena Abedi adalah orang yang kelihatan alim, penuh rasa hormat terhadap orang tua, senantiasa berbusana islami serta menjalankan ibadah sholat-nya secara teratur.

Setelah aksi bom bunuh diri tersebut, ISIS mengklaim sebagai organisasi yang bertanggungjawab. “Salah satu tentara KHILAFAH mampu menempatkan bahan peledak ….di kota Manchester,” demikian isi pesan online yang dikeluarkan ISIS. Bahkan harian di Inggris menulis bahwa ISIS menarget anak-anak sebagai bagian aksi mereka. Sadis dan biadab, tentu-nya, mengingat apa salah & dosa anak-anak …

Berdasarkan penelusuran oleh petugas keamanan di Inggris, belakangan diketahui kalo ternyata Abedi pernah berkuliah di University of Salford dan mengambil jurusan manajemen bisnis, walaupun dia tidak pernah menuntaskan kuliah-nya disana. Awalnya semua fine-fine aja, sampe pada tahun 2015, Abedi kemudian bergaul dengan kelompok islam radikal di Inggris. Dan yang menambah kekuatan bagi-nya untuk melakukan aksi bom bunuh diri adalah khotbah yang dia dengar tentang melawan terorisme dan kesucian hidup. Setelah khotbah tersebut, Abedi cenderung menarik diri dari pergaulan sosial, dan disaat ini-lah sel-sel kelompok radikal mulai mendekati diri-nya yang sedang gamang bin galau untuk sekedar mencari arti hidup. Abedi berhasil diyakinkan oleh kelompok islam radikal, bahwa tindakan Jihad merupakan upaya yang dibenarkan oleh agama. Kebencian demi kebencian terhadap orang yang berada diluar kelompok-nya maupun kepada sistem pemerintahan, mulai ditanamkan dalam dirinya. Dan ujungnya adalah tindakan bom (tafjiri) pun diambilnya. Apa ganjaran buat Abedi kelak? Yah, ganjaran-nya dia kelak akan bertemu 72 bidadari, jika sukses melakukan aksi tersebut. Maka lewat proses demi proses, akhirnya mencapai final-nya saat diujung konser Ariana Grande, dimana Abedi kemudian menarik pemicu bom yang juga menewaskan diri-nya…Cukup singkat waktu yang diperlukan oleh kelompok radikal untuk mengubah pola pikir seorang Abedi yang masih seorang remaja. Tapi, upaya cuci otak itu-pun berhasil gilang gemilang. Kelompok ISIS di Irak-pun, dikabarkan menyambut gembira aksi brutal tersebut dan meng-klaim bahwa Allah ada dipihak mereka, karena berhasil membunuh kaum kafir. Wat-de-hel….

Bagi saya pribadi, teror di Manchester, mempunyai 2 pelajaran yang berharga.

Pertama, pemerintah harus-nya belajar kembali tentang cara menangani terorisme di Indonesia. Padahal kalo boleh berkaca, keluarnya Inggris dari Uni Eropa, salah satunya adalah ketakutan akan imigran Timur Tengah yang notabene-nya adalah orang-orang yang menganut paham islam radikal. Dan ketakutan itu, ternyata terjawab sudah lewat aksi teror Manchester. Maksud saya, belajar-lah dari Inggris, kalo kita tidak boleh sedikitpun bersifat permisif terhadap ormas-ormas islam radikal yang anti Pancasila. Begitu banyak jejak kebencian sudah mereka tanamkan kepada generasi muda baik di sekolah mau-pun di rumah, tentang kebencian terhadap sesama yang tidak satu pemikiran dengan mereka dengan istilah kafir, tentang negara yang katanya sistem Thogut, tentang sikap menolak hormat bendera dan pahlawan kafir dan tentang sistem kuffur yang harus digantikan dengan sistem Khilafah yang juga diusung oleh ISIS. Menurut saya istilah gebuk harus diikuti aksi berantas dan labelisasi ORGANISASI TERLARANG oleh pemerintah, ke setiap ormas radikal. Jangan setengah hati dalam memberantas aksi-aksi ini, karena mereka sudah menyebar kemana-mana untuk menyebarkan paham kebencian yang mereka punya.

Kedua, pemerintah hendaknya mengambil alih tempat naungan islam radikal dengan segera, yaitu sekolah, pesantren, dan juga mesjid serta siaran televisi. Tempatkan-lah ulama-ulama NU yang mempunyai riwayat islam nusantara di mesjid-mesjid. Beri gaji dan perkuat mereka dengan wawasan kebangsaan yang sudah mereka punya. Kelak dalam khotbah-nya mereka akan menyebarkan kesejukkan dan bukan angkara murka atau kebencian antar sesama anak bangsa. Di sekolah dan pesantren, pemerintah harus segera mengganti kepala sekolah yang terkait islam radikal dan tidak usah ragu untuk memutasi-kan atau memecatnya. Dan untuk siaran televisi, pemerintah segera mewajibkan semua stasiun TV untuk menayangkan lagu-lagu kebangsaan, agar generasi muda terutama anak-anak punya jiwa nasionalisme dan tidak hanya tahu mars Perindo doank. Siaran TV yang bernuansa islami juga harus disortir dan tidak membolehkan penceramah yang gemar mengkafir-kan orang lain apalagi memprovokasi orang untuk berjihad.

Jika hal ini tidak segera terealisasi, maka saya sanksi kalo Indonesia akan aman dari ancaman perpecahan, lewat konflik SARA dan juga teror. Kasian nasib si Budi kecil yang masih harus bersekolah. Kasian juga nasib kakak-nya, Wati yang harus mengejar cita-citanya. Masa depan mereka ada ditangan kita bersama dan pemerintah pasti-nya. Jangan korbankan asa mereka untuk membangun Indonesia tercinta pada aksi konyol ormas islam radikal yang bercita-cita mendirikan Khilafah di bumi nusantara.

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah mantan Aktivis 98 GEMA IPB)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

You may also read!

AADH (*bagian 2)

Setelah rejim sosialis mengambil alih China di tahun 1949, negara tirai bambu ini makin melaju pesat dalam hal ekonomi

Read More...

AADH (*bagian 1)

“Bang, kenapa nggak sekali-kali ulas kondisi luar negeri, jangan ulas masalah politik di dalam negeri mlulu?” begitu protes seorang

Read More...

Rekonsilinasi

Seharusnya, kubu 01 menang mutlak pada gelaran pilpres 2019 yang lalu. Angkanya bisa mencapai 65%an. Itu info yang saya

Read More...

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu

This Site is Hosted By iJoo