Menyoal Jaringan Nirkabel Saat Belajar

In Sosial Budaya

Menyoal Jaringan Nirkabel Saat Belajar

Oleh: Ndaru Anugerah

Saat banyak pemerintahan di dunia mengikuti arahan WHO untuk melakukan karantina/lockdown, secara otomatis orang dipaksa beraktivitas di rumah. Stay at home istilahnya. Dan buat anak-anak usia sekolah, pembelajaran-pun dilakukan secara online alias home learning.

Mau nggak mau, untuk koneksi internet kebanyakan menggunakan wifi sebagai solusinya. Selain ngirit kuota, wifi juga menawarkan koneksi yang lumayan stabil. Bahkan pada beberapa netizen, malah menggunakan penguat sinyal demi koneksi internet yang lumayan kenceng.

Pertanyaannya: apa wifi nggak punya dampak bagi kesehatan jika terlalu sering digunakan?

Kemenkes Rusia pertanggal 17 Juli silam telah mengeluarkan rekomendasi ke sekolah-sekolah di Rusia untuk melarang penggunaan wifi dan ponsel di sekolah khususnya sekolah dasar. (https://childrenshealthdefense.org/wp-content/uploads/russian-report-decree-wifi-17.07.2020.pdf)

Surat rekomendasi bersama tersebut dibuat dengan afiliasi dengan Departemen Medis Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia dan Komite Nasional Rusia tentang Perlindungan Radiasi Non-Ionisasi dengan Departemen Kesehatan Rusia.

Prof. Oleg Grigoriev selaku Ketua Nasional Rusia untuk Perlindungan Radiasi Non-Ionisasi menyampaikan kepada publik hasil rekomendasi tersebut. “Kami telah melihat bahaya radiasi saat penerapan teknologi nirkabel terhadap anak-anak.” (https://multerland.wordpress.com/2019/11/21/russian-national-committee-on-non-ionizing-radiation-protection/)

Bahkan Prof. Grigoriev mencuit pada akun media sosialnya tentang hal tersebut. “Pemerintah Rusia berinisiatif untuk melindungi anak-anak terhadap bahaya teknologi nirkabel,” kurlebnya demikian. (https://twitter.com/O_Grigoriev/status/1284277174552461315)

Lantas apa bahaya yang dimaksud?

Sudah rahasia umum bila jaringan internet nirkabel dapat membawa efek buruk bagi kesehatan manusia, karena sudah banyak penelitian ilmiah yang mengungkapkan hal itu.

Prof. Martin Pall, misalnya, pada 2018 telah mengatakan bahwa referensi studi yang dilakukannya telah menunjukkan wifi bisa memicu stress oksidatif, kerusakan sperma/testis, efek neuropsikiatri, kematian sel (apoptosis)m perubahan endoktrin hingga kerusakan DNA seseorang. (https://ecfsapi.fcc.gov/file/10429016089243/WIF threat Martin Pall 2018 Environmental Research .pdf.)

Mengingat dampak kerusakan yang ditimbulkan bukanlah kaleng-kaleng, maka para ilmuwan dan asosiasi medis telah menyerukan untuk melarang penggunaan wifi di sekolah. “Kami menganjurkan untuk menggunakan jaringan kabel sebagai solusinya,” begitu kurleb-nya. (https://ecfsapi.fcc.gov/file/106070048305926/Doctor-Letters-on-Wi-Fi-In-School-Full-Compilation.pdf)

Dan berita tentang dampak buruk yang ditimbulkan oleh jaringan nirkabel tersebut, akhirnya nyampe juga di Rusia. Akhirnya Rusia mengikuti negara-negara lain di seluruh dunia untuk mengurangi penggunaan wifi di sekolah untuk melindungi kesehatan anak-anak mereka.

Langkah yang bijak. Bukankah anak-anak adalah aset masa depan yang potensial bagi suatu bangsa? Dan langkah untuk melindungi mereka, sangat tepat untuk diambil.

Sebagai informasi, Israel adalah negara pertama yang menerapkan pembatasan penggunaan wifi di sekolah pada tahun 2013 silam. Secara teknis, negara tersebut melarang wifi di tingkat taman kanak-kanak dan membatasi penggunaan wifi di jenjang sekolah dasar.

“Kami hanya mengijinkan wifi bisa digunakan selama 3 jam per minggu di kelas satu dan dua, dan 6 jam per minggu untuk kelas tiga (ke atas). Tetapi itupun harus dimatikan setiap saat, terutama saat tidak digunakan,” begitu kurleb-nya. (https://ecfsapi.fcc.gov/file/10929117005596/46-Attachment%2046-%20Israel%20Bans%20WiFi%20Kindergarden%20&%20Other%20precautions%20taken.pdf)

Di tahun 2017, Siprus juga melarang penggunaan wifi di taman kanak-kanak dan juga di sekolah dasar. (https://childrenshealthdefense.org/wp-content/uploads/Egkyklios-Jan-17.pdf)

Bukan hanya itu. Komite Nasional Siprus untuk Lingkungan dan Kesehatan Anak juga memprakarsai kampanye nasional untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan penggunaan telpon seluler dan paparan radiasi nirkabel pada anak. (http://www.cyprus-child-environment.org/easyconsole.cfm/id/12)

Kejadian di AS juga kurleb sama, dimana pada 2016 silam Dewan Penasihat Kesehatan dan Perlindungan Lingkungan Anak-Anak Negara Bagian Maryland bahkan sempat mengeluarkan laporan yang merekomendasikan untuk mengurangi penggunaan perangkat nirkabel pada tiap sekolah.

Kami mendapati bahwa perangkat nirkabel dapat memberikan paparan radiasi pada anak, Karenanya kami merekomendasikan untuk menggunakan koneksi internet menggunakan kabel,” begitu isi paparannya. (https://phpa.health.maryland.gov/OEHFP/EH/Shared Documents/CEHPAC/MD_CEHPAC_SchoolWiFi_022017_final.pdf)

Jadi kalo Rusia mengambil langkah serupa untuk tidak menggunakan jaringan internet nirkabel pada sekolah, ya sah-sah saja. Karena memang ada bahaya radiasi yang dapat ditimbulkannya.

Bahkan Childern’s Health Defense memberikan panduan perangkat nirkabel yang aman untuk digunakan pada saat home learning, manakala jaringan kabel tidak tersedia. (https://childrenshealthdefense.org/protecting-our-future/how-to-make-remote-learning-safe-for-your-children-during-covid-19-quarantine/)

Namun anehnya, Komisi Komunikasi Federal (FCC) AS sebagai otoritas yang berwenang, tetap keukeuh pada pendiriannya bahwa teknologi nirkabel tidak dapat menyebabkan kerusakan pada manusia. Padahal FCC hanya mendasarkan pada asumsi using yang sudah tidak relevan lagi untuk dipakai saat ini.

“Radiasi non-ionisasi yang dipancarkan oleh frekuensi gelombang mikro pada teknologi nirkabel dapat berbahaya jika mereka menyebabkan perubahan termal pada jaringan,” begiti diktum yang FCC punya.

Padahal asumsi tersebut telah tebukti salah pada ribuan penelitian yang dilakukan para ilmuwan dunia, bahkan sebelum ponsel digunakan secara komersil di tahun 1980-an. (https://bioinitiative.org/)

Sebaliknya, Rusia mengakui bahwa radiasi yang dipancarkan dari teknologi berbasis frekuensi radio dan microwave, dapat berbahaya pada level yang terrendah sekalipun, karena dapat memacu efek termal yang menyebabkan radiasi yang berbahaya pada manusia. (https://childrenshealthdefense.org/wp-content/uploads/sec03_2007_Existing_Public_Exposure_Standards.pdf)

Temuan ini jelas ironis, mengingat banyak sekolah terutama di Indonesia justru malah mengintensifkan penggunaan jaringan internet nirkabel di sekolah dalam rangka mendukung program sekolah digital. Alih-alih mau high-tech, tahunya paparan radiasinya malah membahayakan kesehatan bagi peserta didiknya.

Lewat temuan ini juga saya mau tegaskan, bahwa pembelajaran jarak jauh yang banyak mengekspos penggunaan internet dengan jaringan wifi, sudah selayaknya ditinjau ulang. Kalo perlu dihentikan secepatnya dan anak-anak bisa bersekolah secara offline kembali.

Mau sampai kapan anak-anak yang merupakan aset bangsa ini, terus-terusan diberikan paparan radiasi jaringan nirkabel?

 

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

You may also read!

Ketika Kita Buta Akan Fakta (*Bagian 2)

Ketika Kita Buta Akan Fakta (*Bagian 2) Oleh: Ndaru Anugerah Pada bagian pertama saya sudah jelaskan fakta tentang si Kopit. Bahwa

Read More...

Ketika Kita Buta Akan Fakta (*Bagian 1)

Ketika Kita Buta Akan Fakta (*Bagian 1) Oleh: Ndaru Anugerah Bagaimana cara membuat orang takut? Pakai propaganda jawabannya. Kalo anda pernah

Read More...

Belajarlah Dari Sejarah

Belajarlah dari Sejarah Oleh: Ndaru Anugerah “Apakah abang setuju bila Papua Barat memisahkan diri dari Indonesia?” tanya seorang melalui kanal whatsapp.

Read More...

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu

This Site is Hosted By iJoo