Jejak Langkah Sang Paman


517

Bicara tentang jejak keterlibatan uncle Sam di Indonesia, ibarat main petak upet. Gampang-gampang susah mengendus keberadaannya.

Selepas Perang Dunia II, Nazi Jerman dan kekuatan porosnya sukses hancur berkeping-keping. Kawan taktis, AS dan Uni Sovyet dihadapkan pada masalah baru. Mereka berebut wilayah ‘jajahan’ untuk dijadikan kepanjangan blok ideologi mereka. Kalo nggak blok Komunis ya pasti blok Kapitalis.

Seketika terbentuklah blok Barat dan blok Timur, dan berujung pada perang dingin (cold war) berkepanjangan. Konsep yang ditawarkan adalah perang dengan menggerakkan dinas intelijen rahasia di kedua kubu, dengan psy-war perang nuklir sebagai pemanis cerita.

Tak pelak, baik Eropa dan Asia-pun dijadikan ajang rebutan pengaruh kedua blok tersebut. Ngapain mereka berebut daerah jajahan? Karena dua hal yang sifatnya ekonomis. Pertama wilayah jajahan kaya sumber daya alam. Yang kedua wilayah jajahan juga kaya sumber daya manusia yang cocok dijadikan budak.

Maka jangan heran, kalo wilayah Korea dan Vietnam pun mengalami nasib yang sama. Berebut pengaruh kedua ideologi, seketika ketegangan tercipta dan ujung-ujungnya perang-pun digelar.

Tapi naas, ‘bahaya merah’ (=komunisme) mulai merambah ke penjuru selatan Asia, dimulai sejak jatuhnya Korea dan Vietnam ke dalam blok komunis.

Ini jelas bahaya. Jika tidak diantisipasi, bukan tak mungkin Australia kelak akan jatuh ke tangan kaum komunis. Hanya ada satu cara untuk mencegahnya: Indonesia sebagai penyangga Asia dan Australia harus dibuat steril dari kaum pengusung konsep proletarianisme tersebut.

Mulailah para agen CIA bergerak di lapangan dengan segera. Kenapa? Karena situasi Indonesia kala itu sungguh tidak menguntungkan pihak AS. Ini karena sikap Soekarno yang tampak lebih condong ke pihak komunis baik Cina maupun Rusia. Akibatnya, keberadaan AS terabaikan.

Kondisi ini diperburuk dengan kenyataan bahwa berdasarkan hasil pemilu 1955, PKI sebagai parpol menempati posisi ke-4 setelah PNI, Masyumi dan NU. Dan berdasarkan analisis para agen CIA di lapangan, kekuatan PKI sangat berbahaya bagi perkembangan ideologi komunis di Asia Tenggara.

Situasi tambah kusut dengan sikap Soekarno yang anti-AS menambah tingkat kegalauan negeri paman Sam tersebut. Mengantisipasi hal ini, presiden Dwight Eisenhower segera meninstruksikan perang senyap yang melibatkan agen-agen CIA, sebagai bagian perang semesta melawan komunisme.

Targetnya satu: jatuhkan Soekarno lewat gerakan pemberontakkan.

Tak pelak, CIA mendanai dan mendalangi pemberontakkan di Indonesia, salah satunya PRRI/Permesta. Dana besar sudah digelontorkan dan pelatihan milisi sudah diberikan, namun toh Soekarno tidak kunjung tumbang. Malah, seorang agen CIA bernama Allan Pope terciduk dalam operasi senyap tersebut.

Tapi berkat kedekatan Soekarno dan John F. Kennedy, Allen Pope belakangan dibebaskan dan ditukar guling dengan 12 pesawat C-130 Hercules selain kucuran dana melalui Civic Mission Program. Dan sejarah mencatat, ketidakcermatan Soekarno terhadap CMP berbuah bencana dikemudian hari.

Apa maksudnya? CMP sebenarnya adalah program akal-akalan AS untuk mendapatkan akses secara leluasa ke seluruh lapisan angkatan bersenjata dan merekrut kader-kader tentara yang anti Soekarno, tanpa perlu rasa waswas. “Mosok udah kasih bantuan, kok masih dicurigai?”

Satu persatu kader serdadu yang anti Soekarno direkrut oleh CIA, dengan berbekal propaganda hitam bahwa Soekarno adalah presiden yang pro-komunis. Untuk memperkuat stigma ini, maka saat Operasi Trikora di Irian Barat (1962), AS justru mengembargo persenjataan ke pihak Indonesia.

Dilema. Indonesia yang butuh banyak persenjataan untuk merebut kembali Irian Barat, akhirnya dipaksa untuk membeli senjata dari Rusia. Makin kencanglah propaganda berhembus, bahwa Indonesia dibawah kepemimpinan Soekarno seolah-olah benar adanya pro kepada komunis Rusia.

Rencana makin matang, dengan digelarnya drama Gestapu yang belakangan meraih sukses. Dan Soekarno otomatis terdepak seiring kejatuhan PKI, karena dianggap sebagai presiden yang pro-komunis.

Jangan aneh juga, saat orde baru berkuasa, “hantu bangkitnya komunisme” adalah senjata efektif yang terus menerus digaungkan untuk memberangus kekuatan oposisi.

Aneh memang, but it works! Padahal faktanya, komunisme di negara asalnya sudah lama bangkrut, bahkan sebelum “konsep negara tanpa kelas sempat terbentuk.”

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah mantan Aktivis 98 GEMA IPB)


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!