Dibalik Gerakan Tagar

In Sejarah

Konflik di Rohingya sebenarnya bukan yang pertama kali. Konon sudah terjadi sejak satu abad yang lalu. Namun seiring berjalannya waktu, konflik ini bukan makin surut, tapi makin memanas. Dan komunitas internasional, mulai bereaksi terhadap konflik tersebut. Apa ada sebenarnya?

Analisa yang paling sederhana, sangat mudah dicari penjelasannya. Pasti ada motif ekonomi dibalik setiap perang yang digelar. Entah itu perang di Afrika, di Amerika Latin, di Asia, termasuk juga di Rohingya yang ada di negara Myanmar.

Pertanyaan selanjutnya, siapa bermain disana? Ini juga sangat mudah mencari jawabnya.

Tapi okelah, saya akan jawab pertanyaan seseorang lewat kanal e-mail.

Seperti yang saya ulas, bahwa ada motif ekonomi dibalik perang yang terjadi. Ada apa di Rohingya?

Myanmar, terutama wilayah Rohingya, sangat kaya akan sumber daya alamnya. Yang jelas nyata adalah minyak dan gas alias migas. Selain wilayah di pesisir Rakhine, ada juga ladang gas yang bernama Than Shwe. Konon, cadangan gas-nya cukup membuat suatu negara langsung melejit kaya raya.

Setidaknya, temuan yang berhasil dirilis pada tahun 2004 tersebut, sampai ke telinga pemerintah China. Merasa memiliki kedekatan ideologi dengan negara Myanmar, China kemudian menginvestasikan uang yang cukup besar pada negara Myanmar, utamanya wilayah Rohingya. Mencapai USD 8,17 milyar nilainya.

Setelah birokrasi berhasil ditembus, maka China segera membangun kilang dan pipa migas yang bisa menghantar migas langsung ke Cungko sana. Jalur pipa migas yang terhubung dari pelabuhan Kyaukphyu di Myanmar langsung menuju kota Kumming di Yunan, China akhirnya berhasil dirampungkan pada tahun 2013.

China yang progresif bangun sana-sini, dan sangat membutuhkan migas sebagai bahan bakar industrialisasinya, amat terbantu dengan adanya pasokan migas dari Rohingya. Dari jarak saja, China gak perlu repot-repot memutar melewati jalur Selat Malaka, yang terkenal rawan bajak laut. Selain dekat, juga relatif aman.

Jika keadaan ini terus berlangsung, bisa dipastikan ekonomi China akan terus melesat dan jauh meninggalkan negara Barat, tak terkecuali AS. Dan ini tidak boleh dibiarkan.

Adalah George Soros yang kemudian dijadikan think-tank, untuk segera menciptakan konflik di Rohingya. Modusnya: ‘carilah konflik yang paling mudah disulut, kalo nggak agama, suku kalo nggak status ekonomi deh, atau kombinasi diantara ketiganya. Dan tidak butuh waktu lama untuk mendesain rekayasa sosial tersebut.

Kebetulan mayoritas etnis Rohingya adalah muslim, dan secara etnis mereka dianggap sebagai anak tiri oleh pemerintah Myanmar. Maka diciptakan skenario pembuka, dimana seorang wanita Myanmar kemudian diperkosa oleh sekelompok pemuda Rohingya.

Aksi inipun sukses besar, dan provokasi segera meledak ibarat bom waktu. Rakyat Myanmar yang tidak terima perlakuan tersebut, lantas melakukan aksi balasan atas etnis Rohingya, dan selanjutnya aksi kekerasan menemukan jalannya. Ribuan orang berhasil meregang nyawa pada konflik tersebut.

Tentara Penyelamatan Rohingya Arakan (Arakan Rohingya Salvation Army), kemudian dibentuk dan mendapat sokongan penuh Soros untuk menjaga tensi ketegangan di sana.

Merasa ada isu yang terus berkembang, maka aksi-pun sebagai bagian perang asimetris, langsung digelar. Soros kemudian membentuk Satgas Burma alias Burma Task Force yang berisi sejumlah LSM dengan tujuan sama: menyerukan dukungan dunia internasional bahwa telah terjadi aksi genosida ummat muslim Rohingya di Myanmar.

Ibarat digerakkan oleh sang dirigen, aksi ini berkembang kemana-mana, tak terkecuali di Indonesia dengan gerakan tagarnya #saveRohingya yang kita tahu bersama, siapa yang berkepentingan atas gerakan tagar tersebut.

Setidaknya ada beberapa hal yang ingin disasar Soros.

Pertama agar China yang sedang giat-giatnya menjalankan program industrialisasinya, minimal bisa terhambat dengan konflik sektarian tersebut. Dengan kata lain, pemerintah Beijing yang sedang menjalankan proyek industri berbasis migas, akan keteteran dengan pasokan migas dari Myanmar akibat perang.

Kedua, konflik ini diharapkan akan memanaskan situasi regional ASEAN. Seakan-akan ada upaya untuk memerangi ummat muslim yang dilakukan oleh rejim Myanmar, yang identik dengan komunis. Faktanya, negara-negara ASEAN, seperti Indonesia dan Malaysia, penduduknya mayoritas muslim. Dan para operator lapangan, kerap menggarap isu Islam lawan komunisme, tak terkecuali di Indonesia.

Dan sebagai dampaknya, konflik ini sangat efektif untuk meningkatkan radikalisasi di kelompok kampret yang sangat berkepentingan agenda ‘tuan-nya’ untuk bisa berjalan sesuai rencana.

Kita tahu bersama, pelor itu akhirnya ditembakkan ke rejim Jokowi yang seolah-olah diam terhadap genosida etnis Rohingya, yang seolah-olah abai terhadap penderitaan sesama muslim, yang seolah-olah pro kepada komunis Myanmar.

Inilah yang mejadikan pilpres 2019 menjadi menarik. Kepiawaian seorang tukang kayu dalam menghalau gerakan para komprador kepentingan AS, sangat menarik untuk ditilik. Apalagi HTI sebagai salah satu operator lapang yang handal, telah diketok palu oleh MA, dan dinyatakan sebagai ormas terlarang.

Ibarat nonton trailer film Hollywood, sajian menarik akan kita saksikan hari-hari ke depan, terutama jelang pencoblosan.

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah mantan Aktivis 98 GEMA IPB)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

You may also read!

Upaya Pecah Kongsi

“Pada akhir ulasan abang yang lalu, kesuksesan aksi 28 Juni nanti bergantung pada soliditas TNI-POLRI. Apa maksudnya, bang?” tanya

Read More...

Utak Atik Gatuk

Gerakan percobaan penggulingan kekuasaan Jokowi berakhir dengan anti klimaks seperti yang sudah saya prediksi sebelumnya. Penyebabnya karena kurangnya perencanaan

Read More...

Aksi Anti Klimaks

Aksi Anti Klimaks Sejatinya, aksi 225 diprediksi akan menuai sukses besar saat digelar. Sekilas tampak rapih, tapi sebenarnya yang paham

Read More...

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu