Dan Inggris-pun Kecolongan


519

Dan Inggris-pun Kecolongan

Salah satu cirri khas dari terorisme adalah aksi teror yang berlanjut. Dulu saya ingat pada dasawarsa 1970an, ada gerakan teroris internasional Fedayen yang bernama Black September. Organisasi teror ini-pun dalam menggelar aksinya selalu beruntun. Aksi satu, akan diikuti dengan aksi yang lain. Tujuannya hanya dua: mendongkrak popularitas dan menunjukkan eksistensi-nya kepada dunia internasional.

Tak lama setelah bom Manchester meletup (22/5), ledakan kembali mengguncang Rumah Sakit Phramongkutlao yang terkenal sebagai rumah sakit veteran di Bangkok, Thailand di hari yang sama (22/5). Menurut data dari tekape, 24 orang luka-luka dalam insiden tersebut. Aksi tak hanya berhenti disitu, kemudian merambat juga ke Filipina. Salah satu kota di pulau Mindanao, Marawi, yang berpenduduk 200ribu jiwa, berhasil diduduki ISIS (24/5). Bermodal 500 orang pemberontak dan dibantu oleh sel tidur alias simpatisannya, aksi pemberontakkan ini boleh dikatakan berjalan mulus. Begitu berkuasa di Marawi, kepala kepolisian setempat langsung ditebas kepalanya, klotok-klotok-klotok…dan 4 pastur Katolik dijadikan sandera kelompok ini. Kelompok Maute yang berafiliasi ISIS ini-pun langsung membebaskan ratusan napi yang ada dipenjara dan puncaknya penjara-pun dibakar. Sejak itu, korban eksekusi dari kalangan sipil-pun terus berjatuhan, dari yang bersifat sesaat, ataupun yang terencana dengan disiarkan via media sosial seperti youtube.

Serangan berikutnya terjadi di Indonesia (24/5). Bom panci meledak, yang dilakukan oleh Ahmad Sukri dan Ichwan Nurul Salam. Keduanya merupakan warga Bandung – Jawa Barat, propinsi yang terkenal sebagai wilayah paling intoleran di Indonesia. Bom mengambil tempat di terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur dan mengambil momen saat adanya pawai obor untuk menyambut bulan suci Ramadhan. Banyak polisi yang memang ditarget oleh kelompok yang merupakan anggota jaringan Jamaah Anshar Daulah (JAD) Jawa Barat yang berafiliasi ke ISIS. Akibatnya 3 orang polisi meninggal dunia dan 11 orang mengalami luka-luka. Yang membuat miris adalah ada tukang asongan, supir angkot dan juga warga sipil yang nggak tau apa-apa, juga jadi sasaran aksi teror tersebut. Wat-de-fak….

Dan yang paling anyar adalah teror yang kembali mengguncang Inggris, tepatnya di jantung kota London, sabtu dinihari (3/6) kemarin. Sepertinya ancaman ISIS untuk melakukan aksi serangan lanjutan, bukan cuman gertak sambal. Para pejalan kaki di jembatan London menjadi sasaran teror kali ini. Sebuah mobil van melaju kencang dan menabrak dengan brutal. Pada saat yang bersamaan, sebuah aksi serangan juga dilakukan kelompok teror, tak jauh dari tekape pertama, tepatnya di pasar Borough. Sebagai gambaran, Borough Market merupakan pusat kuliner yang sangat populer di London. Kafe ada restoran juga berjejer disepanjang wilayah ini. Kebayang dong, pas malam minggu, pastinya lagi rame-rame’nya orang kumpul disana. Tiba-tiba, jeng-jeng…seorang pria muncul di sebuah restoran dengan membawa pisau bayonet. Setelah teriak “this is for Allah,” kemudian, bak pemain kungfu aksi tusuk kanan dan kiri-pun langsung dilancarkan. Aksi brutal didua titik tersebut mengakibatkan 6 orang tewas dan puluhan orang terluka berat. Sedangkan 3 orang pelaku teror langsung tewas di-dor sama aparat keamanan. Kalo bicara jujur, intelijen Inggris sudah kecolongan aksi teror, 3 kali. Yang pertama di Westmister Bridge (pada bulan maret lalu), yang kedua di konser Ariana Grande (pada bulan Mei lalu) dan yang terakhir di London Bridge plus Borough Market. Padahal, seperti kita tahu, MI-6 selaku pihak intelijen negara Inggris, telah menerapkan pengamanan berlapis (double security procedure) terhadap imigran Timur Tengah yang berada di Inggris. Bahkan mereka juga tidak menaruh ragu sedikitpun terhadap eksistensi ormas Hizbut Tahrir yang terkenal paling fanatik dalam mengusung Khilafah Islamiyah, untuk mempunyai kantor pusat internasional-nya di negara tersebut. Mungkin mereka berpikiran, “We can handle all of them.” Ibarat memelihara anak macan, begitu macan’nya besar, kelak sang tuan akan dimangsa juga….dan itu terjadi. Inggris toh akhirnya kecolongan juga. Walaupun terakhir kita tahu, kalo salah satu alasan Inggris keluar dari Uni-Eropa adalah untuk menghindari imigran Timur Tengah, yang banyak diantara mereka ditenggarai merupakan sel tidur (sleeping cells) dari teroris ISIS di Timur Tengah. Namun it’s too late, mate….

Saya cuma berpikir sederhana, kalo Inggris saja yang terkenal maju dalam hal teknologi dan intelijen saja bisa kecolongan dengan aksi teror dari ISIS, bagaimana dengan Indonesia? Apa Indonesia lebih maju dari Inggris dalam bidang intelijen dan teknologi? Nenek-nenek aja udah tau jawabannya. Apalagi kalo kita lihat, kaum goyang dombret sudah demikian dalam menancapkan kuku-kukunya di setiap aspek kehidupan kita. Di sekolahan (terutama sekolah negeri) mereka punya guru-guru simpatisan khilafah, di birokrat mereka punya banyak simpatisan dan di parlemen jumlah mereka cukup banyak untuk bisa menjegal langkah jokowi sewaktu-waktu.

Butuh kerja dan keberanian ekstra serta tindakan cepat untuk menindak mereka. Kalo boleh jujur, aksi persekusi yang belakangan marak adalah cikal bakal aksi kekerasan yang akan mereka pakai jika suatu saat mereka kelak berkuasa. Poin’nya adalah: jangan biarkan negara  memelihara anak macan, sebab suatu saat niscaya macan itu besar akan memangsa kita bersama…Nauzubillah min zalik

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah mantan Aktivis 98 GEMA IPB)

 

 


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!