Bisnis Menjual Mimpi

In Ekonomi

Bisnis Menjual Mimpi

Mungkin sudah tabiat yah, kalo manusia terlahir cenderung tamak. Iya,…serakah. Yang sudah kaya, mau makin tambah kaya. Walhasil, mereka terpaksa diberikan mimpi nina bobok tentang cara pintas dari kaya menjadi kaya raya. Caranya? Dengan join bisnis menjual mimpi di kota terdekat di kota anda….

Bisnis menjual mimpi, akhir-akhir ini kembali booming, setelah rentetan silih berganti kasus yang berujung kerugian dipihak investornya. Bisnis bodong istilah kekinian-nya. Yah bodong karena nggak ada bisnis yang dikembangkan, selain uang investor. Banyak sudah kasusnya, mulai dari Koperasi Pandawa, First Travel, Paytrend dan yang paling anyar Talk Fusion di Bandung, yang sukses melibas para orang menengah ke atas di kota kembang, tersebut. Apapun bentuknya, money game jelas bisnis yang menjanjikan. Dan pencipta permainan ini, cukup jeli melihat natur dasar manusia, bahwa secara hakiki sifat manusia itu serakah. Serakah dipercaya akan mampu menumpulkan akal sehat seseorang. Dan sifat serakah ini menemukan kanalnya manakala pengusung bisnis ini menjanjikan seseorang untuk segera dapat mendadak tajir tanpa harus kerja bersusah payah. Cukup cari downliner yang banyak, maka keuntungan sudah di depan mata, dan ujung-ujungnya, anda akan jadi horang kayah… Maka tak heran, banyak kalangan menengah ke atas yang notabene-nya sudah kaya dan terpelajar pulak, banyak menjadi korban bisnis money game ini. Kok bisa? Yah itu tadi, karena sifat serakahnya, seketika akal sehat-pun bablas angine…

Adalah Charles Ponzi pada tahun 1920-an, yang menciptakan bisnis money game ini. Awalnya dia melihat adanya peluang dari masyarakat New England di Amerika Serikat yang kala itu hidup ditengah ekonomi yang tidak menentu. “Kira-kira bisnis apa yang bisa dijalankan, ya?” pikirnya. Aha… Dia kemudian menemukan cara, agar masyrakat dapat diperdaya dengan janji-janji surga pada bisnis yang ditawarkannya. Tadaa…. Terciptalah apa yang namanya skema Ponzi, sesuai dengan nama penemunya. Dia menjanjikan kepada investor bisnisnya untung sebesar 40 pence hanya dalam waktu 90 hari untuk investasi senilai 5 pence saja. Bayangin , dari 5 pence, jadi 40 pence dalam waktu singkat… Gimana kalo investor naruh duit lebih banyak? “Ahh… pasti akan lebih banyak uang yang didapat,” begitu pikir mereka.  Untuk mendapatkan justifikasi terhadap bisnis ini, maka Ponzi perlu mengkarbit orang yang “terlihat sukses” dari bisnis ini. Dengan demikian, diharapkan orang lain akan melihat kesuksesan orang itu dan secara berbondong-bondong mereka tertarik untuk mengikuti bisnis menjual mimpi ini.

Menurut sejarah, bisnis money game’nya awalnya sukses besar. Pada bulan Mei 1920, Ponzi berhasil menghimpun 420 ribu dollar AS. Kemudian di bulan Juni, orang-orang telah menginvestasikan 2,5 juta dollar AS. Dan di awal bulan Juli, Ponzi sudah ongkang-ongkang kaki dengan menerima jutaan dollar per minggunya dan 1 juta dollar AS seharinya di akhir Juli. Aji gilee…. Mendadak tajir-lah si Ponzi.

Gimana sih cara kerjanya. Jargon yang dipakai “rob Peter to pay Paul.” Artinya untuk membayar seseorang, pengguna skema Ponzi akan menggunakan uang dari investor lainnya, terutama dari yang baru ajah gabung. Nah untuk jaman sekarang, bisnis money game ini udah mengalami banyak modifikasi, dimana sukses itu begitu mudahnya dikarbit lewat peran sosial media. Seorang investor akan “terlihat” mendapatkan bonus surga dan kemudian dapat traveling keliling luar negeri, beli barang-barang lux, ataupun memiliki rumah impian dengan segudang fasilitas surga’nya. Siapa yang nggak tergiur melihat upload’an seorang investor yang sukses dibisnis money game ini? Jadilah orang termotivasi untuk mau terjun dibisnis ini, karena ada sifat natur seorang manusia. Yah tamak itu tadi… Untuk bisnis Talk Fusion saya mendapat kabar, hanya dengan setor 33 juta saja, maka investor dibuai mimpi untuk bisa mendapatkan 10 milyar diakhir tahun. First travel juga nggak kalah set. Cukup bayar 14 jutaan, anda sudah bisa umroh. Syaratnya gampang, cukup cari downliner dari jamaah yang lain. Seketika, berduyung-duyunglah mpok, abang, encang, encing sampe emak-babeh dibujuk untuk ngikutin program ini. Padahal biaya umroh yang dipatok Kementerian Agama berkisar pada angka 21-22 juta/orang. Selisihnya 7 jeti, bray. Siapa yang nggak tertarik? Apalagi ibu-ibu majlis taklim, dijamin udah gelap mata duluan liat promo yang beginian, dahh…

Tapi yang namanya investasi bodong, karena emang nggak dipakai untuk beneran investasi, maka cepat atau lambat bisnis ini-pun menemukan titik jenuhnya. Stak! Ini bisa terjadi saat tidak ada lagi investor yang tertarik dibisnis ini. Nah, pake uang siapa lagi, coba?? Singkat kata, bisnis-pun kolaps, dan investor yang serakah tersebut kejang-kejang jadinya, karena uang yang ditaruh, telah raib entah kemana… mau minta ganti, sama siapa? Sudah banyak teman saya, yang tertarik sekaligus menjadi korban bisnis money game ini. Penyesalan diakhir cerita, tentu tak ada gunanya…

Menurut saya pribadi, bisnis seyogyanya mengutamakan proses dan bukan hasilnya. Mirip-mirip dengan belajar. Bukan hasil yang diutamakan, tapi prosesnya. Bahwa nantinya kita sukses atau gagal diujung cerita, tetap ada proses yang harus dijalani didalamnya. Untuk mendapatkan sesuatu, tidak ada cara yang instan. Ini dunia riil, bukan dunia mimpi. Jadi jangan mudah terpedaya untuk menjadi sukses dalam waktu instan, hanya dengan mengikuti bisnis menjual mimpi. Lagian, setau saya, yang bisa dijual itu sifatnya riil, seperti mobil, handphone atau property, dan bukan mimpi apalagi surga…

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah Mantan Aktivis 98 GEMA IPB)

 

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

You may also read!

Kabut Hitam di Sri Lanka

Hari Minggu itu (21/4) suasana hiruk pikuk sangat terasa di Kolombo, Batticoloa dan terutama di Negombo yang terkenal sebagai

Read More...

Selanjutnya Apa?

“Bang, selamat ya,” begitu pujian yang kudapat karena dianggap telah berhasil menganalisis, setidaknya siapa pemenang kontestasi pilpres 2019 berikut

Read More...

Perang Senyap Pasukan 81 (*Bagian 2)

Bagaimana Jokowi bisa bertemu dengan Luhut? Saat Jokowi masih menjabat walikota Solo. Saat itu keduanya sepakat untuk membuat perusahaan

Read More...

3 commentsOn Bisnis Menjual Mimpi

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu