Berlomba Dengan Neng Li-Fi

In Sosial Budaya

Berlomba dengan Neng Li-Fi

Perkembangan teknologi, memang sungguh dahsyat belakangan ini. Tanpa kita sadari, kita berada pada puncak revolusi teknologi informasi, di abad ke-21 ini.

Super cepat. Bahkan seringkali di luar nalar kita.

Saya ingat, kalo dulu semasa SMA, komputer tabung dengan disket-nya masih merupakan primadona. Kurang dari 10 tahun kemudian, muncullah era monitor flat, dimana flash disc mulai menggantikan peran alat penyimpan data. Ukuran sangat jumbo, dari Mega hingga kemudian Terra. Warbiyasah…

Dan satu dekade kemudian, muncullah alat transformasi data, melalui jaringan nirkabel, yang dikenal dengan istilah Wi-Fi alias wireless fidelity. Singkatnya, kita nggak perlu ruwet untuk transfer data pake kabel data, misalnya. Cukup klik, maka data yang kita kirim atau terima dapat mudahnya dilakukan dalam sekejab-jab-jab.

Eh, belom nyampe satu dekade, kini muncul yang namanya Li-Fi.

Barang apa pula itu?

Li-Fi adalah kepanjangan dari Light Fidelity. Artinya transfer data dilakukan melalui proses kedipan sinar lampu LED. Kalo sekilas kita lihat lampu LED, gak akan tampak kedipan demi kedipan. Padahal tuh lampu berkedip ribuan kali per detik kalo kita tegesin. (Baru tau, kan? Hayoo, ngaku…)

Nah, cara kerja kedipan itu kemudian diadaptasi oleh perusahan start up dari Perancis yang bernama Oledcomm. Dalam demo di ajang Mobile World Congress yang bertempat di Barcelona, transfer nirkabel dengan dibantu cahaya tampak itu mampu mempesona banyak pengunjung. Sontak berita tentang neng Li-Fi langsung viral!!

Kok bisa?

Karena kecepatan transfer data yang berhasil dilakukan oleh Li-Fi tadi sangat spektakular. 220 Gbps!! Alias 100 kali kecepatan rata-rata Wi-Fi. Ilustrasinya, kalo kita mo download 20 keping DVD kualitas HD,  waktu yang diperlukan cukup singkat. 1 detik aja, bray…. Watdepak!!

Konon karena kecanggihannya, perusahaan Apple kesengsem untuk menerapkan teknologi ini di produk iPhone 7-miliknya.

Yang saya mau katakan adalah, kita memang berada dipusaran revolusi di abad ini. Jangan sampe kita gagap teknologi, karena teknologi jauh lebih cepat berubah daripada pola pikir kita.

Mau tidak mau, kita dituntut berubah secara cepat. Menjadi lebih baik, tentunya. Caranya? Dengan memanfaatkan teknologi yang ada, sebagai tool untuk memanusiakan kita. Singkatnya, teknologi ada, seyogyanya untuk membuat hidup manusia menjadi lebih mudah, bukan malah dibuat ruwet.

Kalo sekarang, dunia makin berlomba selaras dengan kemajuan teknologi, eh yang di Jakarta malah berlomba dengan genjot becak. Ini maunya apa, coba??

Mungkin hanya orang yang sudah mabok kencing onta yang mampu menjawabnya.

Wallahu a’lam…

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah mantan Aktivis 98 GEMA IPB)

 

 

 

 

 

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

You may also read!

Kabut Hitam di Sri Lanka

Hari Minggu itu (21/4) suasana hiruk pikuk sangat terasa di Kolombo, Batticoloa dan terutama di Negombo yang terkenal sebagai

Read More...

Selanjutnya Apa?

“Bang, selamat ya,” begitu pujian yang kudapat karena dianggap telah berhasil menganalisis, setidaknya siapa pemenang kontestasi pilpres 2019 berikut

Read More...

Perang Senyap Pasukan 81 (*Bagian 2)

Bagaimana Jokowi bisa bertemu dengan Luhut? Saat Jokowi masih menjabat walikota Solo. Saat itu keduanya sepakat untuk membuat perusahaan

Read More...

4 commentsOn Berlomba Dengan Neng Li-Fi

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu