Propaganda Kusut Orba

In Politik

Propaganda Kusut Orba

Seorang teman bertanya kepada saya via whatsapp, pada tengah malam. Pertanyaannya sederhana, apa mungkin terjadi upaya kebangkitan PKI di Indonesia? Saya hanya senyum-senyum sendiri membaca pertanyaan retorik tersebut.

Sebenarnya, apa yang terjadi dengan peristiwa 30 September 1965? Kata kuncinya cuma 1. Ada campur tangan asing di dalamnya. Situasi itu dipicu oleh mesranya hubungan Indonesia dan RRC. Sampai terbentuk poros Jakarta-Peking. Hubungan mesra tersebut, membuat 2 negara jealous. Uni Soviet dan Amerika. Soviet merasa cemburu, karena selaku negara komunis, kok Indonesia malah ngeblok ke RRC ketimbang ke mereka? Seperti kita tau, komunisme saat itu bukanlah satu ideologi yang utuh. Maksudnya? Blok Uni Soviet udah pasti nggak sama dengan blok RRC. Keduanya berebut pengaruh negara-negara lain di dunia, sebagai imbas pecahnya kongsi komunisme dunia dalam wadah Internationale. Singkatnya, Soviet menginginkan hubungan mesra Indonesia dan RRC berakhir.

Itu dari pihak Uni Soviet. Bagaimana dengan Negeri Paman Sam? Sebagai anti-tesis gerakan komunisme, Amrik punya banyak kepentingan dengan Indonesia. Hasil SDA banyak, SDM yang diandalkan sebagai market, apalagi. Dan Paman Sam ketar-ketir, saat Indonesia mulai mesra-mesranya dengan blok RRC yang notabene’nya negara komunis, musuh bebuyutannya.

Hanya ada 1 kata. Penguasa Indonesia, dalam hal ini Soekarno, harus ditumbangkan. Maka digelarlah operasi intelijen dengan misi khusus, menumbangkan rejim Soekarno. Pihak Soviet melalui intel Cekoslowakia (yang merupakan negara satelit Uni Soviet) yang bernama Ladislav Bittman, merekayasa apa yang dikenal dengan dokumen Gilchrist. Gilchrist adalah dubes Inggris untuk Indonesia. Isi dokumen itu kurang lebihnya, akan ada upaya kudeta di Indonesia, yang dipimpin oleh Dewan Jendral. Pertanyaan: kok bisa dokumen intelijen sangat rahasia bocor ke tangan Indonesia? Jawabannya: kayaknya dibocorin, dan bukan bocor! Singkat kata, melalui Syam Kamaruzzaman (yang belakangan diketahui sebagai agen CIA), yang merupakan orang nomor dua di CC PKI, berhasil meyakinkan DN. Aidit, bahwa benar adanya gerakan Dewan Jendral tersebut. Paniklah Aidit. Lalu Aidit curcol ke Soekarno, kurang lebih menerangkan bahwa akan ada upaya kudeta gerakan 30 September yang dipimpin oleh Dewan Jendral. Berhasil diyakinkan oleh Aidit, selanjutnya Soekarno menugaskan PKI dibawah pimpinan Syam, untuk ambil alih operasi. Perintahnya jelas: mengkonfirmasi isu Dewan Jenderal. Untuk operasi militer, maka Syam-pun minta bantuan militer kepada Soekarno. Singkatnya bantuanpun diberikan lewat Laksamana Omar Dani. Skip-skip… Syam lantas minta saran Soeharto, tentang kira-kira siapa yang cocok untuk memimpin eksekusi di lapangan. Soeharto kemudian memilih Kol.Latief dan Letkol.Untung yang merupakan orang dekatnya dan tentunya dapat dipercaya. Soeharto-pun sudah mengetahui kemampuan kedua orang tersebut. Ibarat kata, mereka bukan orang terbaik, melainkan orang lapis kedua dalam memimpin eksekusi. Kenapa Soeharto tidak memilih orang-orang yang bebar-benar kompeten? Yah jelas aja, Soeharto sudah tau kalo kedua orang pilihannya bakal gampang dipukul saat operasi militernya gagal di lapangan. Soeharto sebagai panglima Kostrad, sudah mengetahui skenario ini, dan terlebih dia sudah dipersiapkan oleh Paman Sam sebagai orang yang akan ambil alih pimpinan dari tangan Soekarno. Berarti baik Kol.Latief maupun Letkol.Untung tak lebih hanya merupakan tumbal politik Soeharto semata.

Dalam daftar culik yang dirilis oleh Syam, terdapat keanehan. Iya, keanehan. Coba kita tilik.

Korban pertama, Letjen.Ahmad Yani sebagai Menteri Panglima Angkatan Darat. Korban kedua, Mayjen. R.Soeprato (Deputi II Menpangad), Korban ketiga, Mayjen. MT. Haryono (Deputi III Menpangad). Pertanyaannya, kok dari Menpangad langsung ke Deputi II? Deputi I kenapa diabaikan? Yah jelas aja, itu posisi ada ditangan Soeharto. Apa kebetulan? Nenek-nenek juga tau jawabannya, bray…

Keanehan kedua. Kenapa yang disasar orang seperti: Yani, Suwondo Parman, Sutoyo Siswomiharjo dan MT. Haryono? Apa cuma jabatan semata mereka dijadiin target operasi?

Dalam sebuah kejadian di akhir dekade 1950an, Soeharto pernah kedapatan melakukan penyeludupan ketika menjadi Panglima Tentara Teritorial Diponegoro di Jawa Tengah. Soeharto menggandeng Bob Hasan serta Liem Sioe Liong dalam bisnis illegal tersebut, tepatnya bisnis impor beras dari Singapura yang dibarter dengan gula. Sialnya, upaya ini terendus pihak Angkatan Darat. Maka pihak Markas Besar AD pun mengirim tim inspeksinya tertanggal 18 Juli 1959. Tim itu terdiri para perwira yang mempunyai latar belakang sebagai intelijen, jaksa militer dan polisi militer. Merekalah: Soeprato dengan anggotanya S.Parman, MT.Haryono, Sutoyo Siswomiharjo. Aliasnya merekalah yang belakangan disasar sebagai korban wajib culik Gerakan 30 September. Terus, bagaimana dengan Ahmad Yani? Setelah tim inspeksi Mabesad berhasil membuktikan Soeharto sebagai seorang penyeludup beras, Yani pun sebagai atasannya sontak marah dan menampar Soeharto. Plak-plak.. “Malu-maluin korps aja”, demikian pak Yani berkilah.. AH. Nasution yang ketika itu menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), lantas merekomendasikan agar Soeharto diadili Mahkamah Militer dan segera dipecat dari Angkatan Darat. Beruntunglah Soeharto, dia tidak jadi dipecat karena ada peristiwa Trikora alias pembebasan Irian Barat dikemudian hari. Jadi jelaslah, kenapa para perwira AD tersebut menjadi daftar wajib culik. Benar. Semuanya pernah membuat malu Soeharto sebagai seorang perwira di lingkungan AD dan karenanya Soeharto ingin membalasnya. Yang kedua, Soeharto nggak akan bisa naik jabatan selama para jenderal itu masih hidup.

Malam sebelum kejadian, Kol.Latief sempat mendatangi Soeharto di RSPAD Gatot Subroto, dan menceritakan perihal upaya penculikan para jenderal tersebut. Lagi pula, Batalyon 454 Diponegoro dan Batalyon 530 Brawijaya yang ditugaskan menculik para jenderal, bukan ujug-ujug datang, kalo nggak ada telegram dari Pangkostrad, yaitu Mayjen. Soeharto. Pasukan ini diperintahkan membawa persenjataan siap tempur untuk parade HUT ABRI. Ngapain juga bawa senjata lengkap kalo nggak ada misinya? Tambahan lagi, tim culik ini berkemah di sekitar lapangan Monas. Mereka-pun  kerap hilir mudik ke Markas Kostrad untuk sekedar mandi dan buang hajat. Jadi, kalo Soeharto nggak tau Gerakan 30 September, bohong binggo cuyy…

Singkat kata, operasi culik-pun berhasil. Maka semua yang tersisa, baik Soekarno maupun AH.Nasution yang selamat dari penculikan-pun dibuat pusing tujuh keliling. “Ada apaan sih ini?” begitu kira-kira pemikiran mereka. Tapi Soeharto-lah yang bisa tersenyum gembira. Berhasil…berhasil…. dan terus lompat-lompat model Dora. Gimana nggak senang? Dia berhasil pukul semua lawannya dengan sukses, dengan tangan orang lain. Singkat kata, akhirnya pasukan Yon 454 dan Yon 530 berhasil ditekuk dengan mudah oleh Soeharto, dengan mengirim pasukan RPKAD yang secara kemampuan berada diatas tim culik tersebut. Dan terakhir, jeng-jeng… Soeharto-pun tampil sebagai pahlawannya. Plok-plok-plok…

Aksi Soeharto tidak berhenti sampai disitu. Untuk memuluskan langkah yang disusun oleh Paman Sam, PKI harus dibubarkan. Untuk membubarkan PKI dibutuhkan dukungan rakyat. Maka disusunlah skenario yang mampu memancing emosi rakyat. Lewat media mainstream saat itu, Soeharto menyebarkan propaganda kalo PKI telah bukan saja menculik tapi juga mencukil bola mata dan memotong alat kelamin para jenderal serta memakannya (belakangan, berdasarkan hasil autopsi yang dilakukan oleh tim dokter dr. Lim Joe Thay alias Arief Budianto dkk, berita tentang Gerwani yang memotong dan memakan alat vital jenderal adalah berita hoax semata, karena para jenderal ternyata mati ditembak dan ditusuk oleh bayonet). Membaca berita tersebut, maka tersulutlah emosi massa, yang belakangan menyebabkan tragedi kemanusiaan, yaitu jatuhnya banyak korban dari simpatisan dan kader PKI, baik di Jakarta maupun di daerah-daerah. Dilain sisi, Kol.Latief dan Letkol.Untung, yang sangat yakin akan mendapatkan kebebasan kembali dari Soeharto setelah peristiwa tersebut, terpaksa hanya menggantang asap diakhir cerita. Dan satu yang pasti, penggulingan Soekarno dibayar tuntas oleh rezim Soeharto dengan menyerahkan Papua Barat untuk dieksploitasi sepenuhnya oleh Freeport; usaha yang dulu sangat ditentang oleh Bung Karno…

So, bicara soal kasus Gestapu, sudah tidak relevan jika kita mencari siapa yang salah dan siapa yang benar. Kenapa? Karena dengan mengungkit masa lalu kembali, kita tidak akan mampu melangkah maju sebagai sebuah bangsa. Baiknya kita sebagai bangsa, mengingatkan kepada generasi penerus bangsa tentang tragedi kemanusiaan tahun 1965 tersebut. Jangan sampai itu terulang. Terlalu mahal bayarannya. Jadilah bangsa yang mau memaafkan, bukan malah menyalahkan satu sama lain.

Ahh, betewe udah ngantuk nih mata…

“Mau ikutan nobar, gak bang?” demikian whatsapp saya berdering.

“Kalo nobar Sera Amane, gue ikutan dahh…”

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah mantan Aktivis 98 GEMA IPB)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

You may also read!

AADH (*bagian 2)

Setelah rejim sosialis mengambil alih China di tahun 1949, negara tirai bambu ini makin melaju pesat dalam hal ekonomi

Read More...

AADH (*bagian 1)

“Bang, kenapa nggak sekali-kali ulas kondisi luar negeri, jangan ulas masalah politik di dalam negeri mlulu?” begitu protes seorang

Read More...

Rekonsilinasi

Seharusnya, kubu 01 menang mutlak pada gelaran pilpres 2019 yang lalu. Angkanya bisa mencapai 65%an. Itu info yang saya

Read More...

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu

This Site is Hosted By iJoo