Kapitalisme yang Inkusif? (*Bagian 1)

In Ekonomi

Kapitalisme yang Inklusif? (*Bagian 1)

Oleh: Ndaru Anugerah

“Bang, bisa bahas tentang inclusive capitalism? Benarkah pasca plandemik nanti, dunia akan diarahkan ke sistem yang baru ini?” tanya seorang pembaca.

Tentang inclusive capitalism, saya pernah bahas pada tahun lalu, dimana kartel Ndoro besar menggandeng kemitraan strategis dengan Vatikan guna merilis konsep barunya tersebut. (baca disini)

Kenapa inclusive capitalism diperlukan?

Karena tatanan ekonomi global yang ada saat ini dinilai gagal dan tidak menciptakan sistem yang berkeadilan, mengingat jurang antara si kaya dan si misqueen demikian lebar-nya.

Dan momentum hancurnya ekonomi sebagai imbas plandemi dijadikan pintu pembuka yang sempurna bagi masuknya inclusive capitalism.

“Kapitalisme telah gagal, karenanya kita membutuhkan tatanan masyarakat baru yang berkeadilan dan berkelanjutan,” ungkap Lynn Forester de Rothschild. (https://www.prnewswire.com/news-releases/the-council-for-inclusive-capitalism-with-the-vatican-a-new-alliance-of-global-business-leaders-launches-today-301187931.html)

Jadi, kalo anda masih punya mindset tentang kapitalisme saat ini, saran saya sebaiknya tanggalkan konsep usang tersebut, karena ke depannya, dunia kapitalisme sudah masuk ‘kuburan’ dan digantikan dengan inclusive capitalism.

Memangnya inclusive capitalism itu apaan sih?

Untuk tahu apa itu inclusive capitalism, kita perlu paham dulu apa itu kapitalisme.

Di tahun 1970-an, ekonom kartel Ndoro besar yang berhasil memenangkan Nobel, Prof. Milton Friedman, mengatakan demikian, “Satu-satunya tanggungjawab sosial pebisnis adalah menggunakan SD-nya guna meningkatkan keuntungan yang didapatnya kelak.” (https://www.nytimes.com/1970/09/13/archives/a-friedman-doctrine-the-social-responsibility-of-business-is-to.html)

Pernyataan yang dilontarkan Friedman, lantas memunculkan spirit neo-liberalisme, dimana peran negara (khususnya negara berkembang dan terbelakang), menjadi marjinal digantikan oleh peran korporat dan negara-negara maju yang mendominasi perekonomian.

Apa yang dikejar hanya satu: keuntungan.

Dipicu oleh sistem ini, maka tercipta jurang kesenjangan pendapatan yang kian hari kian menjauh antara negara-negara makmur dan negara-negara ‘gembel’, mengingat pebisnis asalnya dari negara maju, bukan?

Sistem inilah yang menginspirasi lahirnya gagasan inclusive capitalism dimana kesenjangan dan ketidaksetaraan pendapatan akan dieliminir guna menghasilkan tatanan masyarakat yang berfungsi secara efektif.

Pada tataran teknis, ke depannya pebisnis memiliki tanggungjawab yang signifikan lebih dari sekedar mencari keuntungan semata. Pesannya: jika kapitalisme tidak inklusif, maka ia akan gagal dan berisiko untuk memicu kekacauan sosial dan juga kerusakan lingkungan. (https://link.springer.com/article/10.1007/s43508-021-00020-z)

Siapa yang mendorong terbentuknya inclusive capitalism?

Nggak lain adalah Lynn Forester de Rothschild.

Untuk mewujudkan rencananya tersebut, Lynn telah banyak mengadvokasi tentang pentingnya pajak karbon, upah yang layak bagi pekerja selain upaya untuk memerangi obesitas yang dianggapnya sebagi produk sampingan dari kapitalisme yang ‘rakus’. (https://www.wsj.com/articles/will-covid-19-shake-up-capitalism-11610817856)

Secara singkat dapat dikatakan bahwa konsepsi yang dilontarkan Friedman tentang mengejar keuntungan sebanyak-banyaknya, harus DIMODERASI. (bukan dihilangkan, lho ya?)

Lagian, jika keuntungan terus dikejar dan berakibat pada makin banyaknya kemiskinan, nah terus siapa juga yang akan membeli produk yang akan dihasilkan oleh perusahaan?

Satu yang mungkin anda ketahui, bahwa inclusive capitalism nggak bisa terjadi jika menyerahkan konsep ini pada negara, mengingat para pemimpin dibatasi oleh masa jabatan yang diatur oleh UU. Yang paling mungkin: inclusive capitalism akan dijalankan oleh aktor pemangku kepentingan (stakeholder).

Dan ini bukan negara, tapi non-state actors.

Dengan demikian, siapapun pemimpin yang berkuasa kelak di suatu negara, maka kepastian kebijakan inclusive capitalism akan terus bisa dijalankan sesuai rencana awal. (https://www.weforum.org/agenda/2021/01/klaus-schwab-on-what-is-stakeholder-capitalism-history-relevance/)

Menurut Prof. Sukbhir Sandhu selaku pengajar di University of South Australia dan penyokong ide inclusive capitalism, “Keyakinan saya adalah bahwa kapitalisme itu baik adanya, tapi itu bukan berarti bahwa satu kelompok dapat mengambil keuntungan yang dapat merusak masyarakat dan lingkungan.” (https://unisa.edu.au/enterprise-magazine-home/issue-1-2020/a-coup-against-capitalism–how-fire-and-pestilence-have-changed-our-world-view/)

Melihat semua yang dilontarkan tentang inclusive capitalism, artinya semuanya baik dong?

Dimana sifat nggak baiknya? Kapitalisme yang rakus akan disikat. Akan ada keberpihakan pada rakyat miskin. Ekonomi yang berorientasi pada keberlanjutan dan juga punya wawasan lingkungan. Sekali lagi: salahnya dimana?

Pada bagian kedua nanti, saya akan coba bahas tentang siapa saja aktor utama yang bermain pada inclusive capitalism selain agenda utamanya. Dengan tahu isi ‘jeroannya’ kita akan mengetahui jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tadi.

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu