Angin dari Eropa


509

Setelah debat paslon pilpres putaran pertama, tepatnya satu hari setelahnya, dubes-dubes negara Uni Eropa yang dipimpin oleh Vincent Guerend, merapat ke BPN BOSAN (18/1). Mereka bertandang ke kediaman om Wowo yang ada di Jalan Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Saat awak pers mewawancarai Vincent, jawabannya sungguh normatif, karena hendak bertanya seputar visi dan misi dari BOSAN seandainya mereka terpilih kelak.

Beberapa hari kemudian (24/1), giliran Vincent dan konco-konconya bertandang ke TKN JOMIN. Pertemuan yang digelar di Hotel Gran Melia, Kuningan tersebut, disambut oleh Erick Thohir selaku ketua TKN, Meutya Hafid selaku jubir TKN serta Tina Talisa.

Pesan yang diusung pada pertemuan tersebut, bahwa sikap politik negara-negara Uni Eropa bersifat netral pada gelaran pilpres 2019.

Apa demikian adanya? Apa bukan basa-basi politik semata?

“Negara-negara Eropa yang notabene’nya negara Barat, sudah gerah sama kebijakan Jokowi,” demikian bisik sebuah narsum. Tambah galau lagi, saat mereka tahu kalo besar kemungkinan paslon JOMIN (akan)berhasil memenangkan kontestasi pilpres.

Mengapa mereka galau? Tak lain dan tak bukan, Cina lah ditenggarai sebagai penyebabnya.

Maksudnya?

Sudah rahasia umum kalo pemerintahan Jokowi sangat dekat dengan RRC. Dalam beberapa tulisan sudah sering saya ulas, bahwa kedekatan itu semata karena faktor ekonomi. Business as usual, that’s it!

Indonesia butuh dana segar dari Cina untuk mendukung proyek Poros Maritim Dunia (PMD). Sedangkan Cina butuh Indonesia untuk mendukung proyek BRI alias Belt & Road Innitiative yang biasa dikenal sebagai jalur sutra abad 21. Dengan kata lain simbiosis mutualisme praktis bisa terjalin antara kedua negara.

Dengan kekuatan sebagai raksasa ekonomi terbesar di dunia saat ini, wajar jika Cina sangat berambisi sebagai pemimpin tatanan dunia baru. Total cadangan devisa-nya yang konon mencapai USD 3,2 trilyun atau setara dengan 45 trilyun rupiah, adalah senjata utama mereka.

Punya uang nganggur sebanyak itu, wajar kalo Cina jadi primadona di bidang ekonomi. Tercatat 120 lebih negara telah mengadakan kerjasama dengan negara tirai bambu tersebut, demi mendapat dana segar alias fulus untuk menggarap berbagai proyek infrastruktur di tiap negara tersebut. Tak terkecuali Indonesia.

Bagi Cina, siapapun itu, bisnis adalah bisnis.

Namun dibalik itu, nggak mungkin juga Cina kasih suntikkan dana segar kalo nggak ada udang dibalik bakwan-nya. Dengan kata lain ada misi tersembunyi Cina dibalik semua tawaran bantuan itu. Apa itu? Yaitu memuluskan langkah Cina mengusung proyek jalur sutra miliknya.

Dan kedekatan Indonesia dengan Cina dianggap sudah berada pada level yang mengkhawatirkan. Gimana tidak? Dengan bantuan dana segar pada proyek-proyek infrastruktur pemerintah, konon Cina bahkan mendapatkan hak khusus dari pemerintahan pakde. Salah satunya diperbolehkan membawa tenaga kerja sendiri untuk menggarap beberapa proyek investasi, walaupun jumlahnya tidak signifikan.

Proyek tambang nikel di Morowali, Sulawesi Tengah adalah salah satunya. Makanya jangan heran akhirnya para kampret selaku proxy war AS langsung teriak adanya invasi Asenk pada negara Indonesia. Bahkan isu tersebut sempat melebar dengan membawa-bawa kemungkinan bangkitnya komunisme di Indonesia. Walaupun kita tahu kalo itu bersifat lebay…

Singkatnya, kedekatan antara Indonesia dengan RRC jelas tidak menguntungkan buat negara-negara Uni Eropa. Jika ini terus berlanjut dan Jokowi berhasil terpilih lagi sebagai presiden di 2019 ini, “Nah terus kita dapat apa?” begitu pikir mereka.

Sadar dengan situasi yang kurang menguntungkan bagi mereka, makanya negara-negara Uni Eropa mengalihkan ‘dukungan’ bagi paslon BOSAN. Berharap, seandainya BOSAN memenangkan kontestasi, minimal mereka dapat ‘kue’ sebagai imbal balik dukungan mereka saat ini.

Dengan mengetahui skenario ini, jelas peta pertarungan pilpres 2019 akan jadi lebih panas dari sebelumnya, karena ada ‘intervensi’ dukungan negara-negera Barat tersebut buat paslon BOSAN.

Hal ini seperti saya sudah prediksi setahun yang lalu, bahwa pilpres 2019 ini akan menjadi pilpres terpanas sepanjang sejarah. Bahkan lebih panas dari skandal 80 jeti kue apem milik Vanessa Angel.

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah mantan Aktivis 98 GEMA IPB)


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!